Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Tuesday, July 30, 2013

Singlish vs TOEFL

Pertama-tama, QQ awalnya cukup bertanya-tanya, kenapa nih kuliah di Singapura kok punya standar TOEFL tinggi banget, ga banget-banget juga sih, lebih tinggi 30 poin daripada persyaratan untuk ikutan beasiswa ADS. Namun karena ternyata hasil test TOEFL QQ pas dan memadai, jadi yaaah bersyukur aja sekarang QQ bisa di sini.

Seiring dengan berjalannya waktu dan proses yang ada, QQ rasanya mulai memahami alasan dibalik nilai TOEFL yang tinggi itu. Meskipun menurut QQ, nilai atau score memang nggak lebih dari sekedar angka di atas kertas, namun mungkin itu bisa menjadi benchmark yang baik untuk mengetahui paling nggak fondasi bahasa Inggris seseorang tuh gimana.

Terlebih khususnya lagi kenapa nih kampus, Lee Kuan Yew School of Public Policy, menuntut hal tersebut. Kampus ini menurut QQ memiliki diversifitas yang luar biasa beragamnya. Mulai dari Australia, Bhutan, Bangladesh, Nepal, India, Myanmar, Pakistan, Malaysia, Jepang, Indonesia, Vietnam, Brunai dan lain-lain hingga Singapura sendiri.

Nah sekarang bayangkan jika kita harus berbicara dengan orang-orang tersebut. Tentu saja kita harus menggunakan bahasa Inggris. Nah, masalahnya adalah... Tiap orang memiliki aksen atau logat masing-masing. Kaya misalnya kita di Indonesia aja nih, ada orang medan ngomong bahasa Indonesia dan ada orang Bali ngomong bahasa Indonesia. Ada logat masing-masing khan?

Nah, kita mungkin bisa memahami apa yang mereka ucapkan, meskipun logatnya berbeda-beda karena itu adalah bahasa kita sehari-hari. Kita adalah Native speaker atau pembicara aslinya untuk bahasa tersebu. Setiap hari kita menggunakan bahasa Indonesia, sehingga nyaris semua istilah dan bahasa bisa kita katakan dan kita pahami maknanya.

Nah, bayangkan jika kita berbicara dengan misalnya orang Cina, dengan logat mereka namun dalam Bahasa Inggris. Oke, jadi titik masalahnya adalah, Tidak ada dari dua negara tersebut yang dimana Inggris merupakan bahasa asli mereka. Jadi, di Singapura ini  tak ada satupun orang yang berbicara bahasa Inggris sebagai seorang Native Speaker. Yah, mungkin pengecualian untuk beberapa orang dosen yang memang impor, hehehe...

Jadi pada suatu tahap tertentu, dalam percakapan kita, akan sering kita menggunakan kata-kata seperti "I'm sorry" atau "Excuse me" atau "Can you repeat that?" Karena emang terkadang dengan kita bukan sebagai native speaker dan pembicara juga bukan seorang native speaker, akan ada logat-logat tertentu yang ketika dipadupadankan dengan bahasa Inggris, menjadi janggal, aneh dan tidak jelas.

Ada beberapa hal yang QQ perhatikan dalam logat Singapura atau logat dimana ketika orang Cina-Melayu berbicara bahasa Inggris.
1. ll menjadi w
ini mulanya QQ perhatikan pas ke teller sebuah bank. Misalnya kata Will maka kita akan terdengar seolah-olah orang tersebut berkata Wiw. 
2. th menjadi f
ini mulanya QQ perhatikan pas pernah berdialog dengan seorang Singapura di Manado. misalkan with, maka akan tedengar seolah-olah dia berkata wiff atau breath maka akan terdengar seperti briff.

Dulu, QQ sempet berpikir dan percaya bahwa bahasa yang akan merusak bahasa Inggris adalah Bahasa Indoesia. Ternyata jauh sebelum bahasa Inggris digauli oleh bahasa Indonesia. Singapura telah terlebih dahulu menggaulinya dan didapatkanlah anak haram bernama Singlish. Ternyata, istilah seperti "No play-lay la" yang maksudnya kurang lebih, "Jangan main-main dong..." itu berasal dari Singlish.

Well, itu hanya salah satu dari puluhan logat yang akan QQ temui di sini. Oh tuhan, kayanya menghapal nama masing-masing orang aja udah cukup sulit,sekarang QQ harus mendengarkan dengan seksama jika seseorang ngomong. Karena itu QQ paling benci kalo harus berbincang-bincang sementara di belakang atau disekitarnya lagi pada berisik. Karena QQ pasti akan banyak bilang excuse me, pardon me, what? dan lainnya.

Kita berbicara dengan orang Pakistan, beda dengan logat India. Bicara dengan orang Cina beda lagi logatnya dengan aksen Australia. Sebenernya QQ juga ga tahu apa emang QQ doang yang kesulitan ato semua orang mengalami kesulitan yang sama yaa?

QQ belajar bahasa Inggris tidak melalui kursus formal. Selain pelajaran di sekolah dan satu term di LIA, QQ belajar Inggris melalui lagu dan subtitle. Masalahnya adalah yang terbiasa QQ denger adalah aksen Amerika. Jadi ketika harus mendengarkan aksen-aksen yang beragam ini, wow... sesuatu yaa..

Belum lagi kadang QQ pikir, karena belajarnya sistem pasif, QQ lebih paham untuk mendengarkan daripada bebicara. QQ sendiri ga tahu kalo QQ berbicara,QQ berbicara dengan aksen apa yaaa...? 

Jadi kalo ada yang ajak ngomong, QQ ga ngerti. QQ akan berusaha aja menangkap satu atau dua kata yang bisa QQ terjemahkan dan kemudian QQ akan mencoba menafsirkan keseluruhan kalimat yang baru diucapkan orang tadi. Kemudian tinggal angguk-angguk geleng-geleng dah dan tentu saja tidak lupa untuk tersenyum dan tertawa jika lawan bicara kita terlihat senyum atau ketawa. Yah, intinya being modesty ama being polite aja dah. 

Well, sapa tahu tiap kali QQ ngomong, mereka juga melakukan hal yang sama. hahaha...
Yah, learning by doing aja laaah...
wrong-wrong little, cincai laah....!!!

4 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This post really help me a lot! :D
    Pengalaman aku waktu di Eropa 2011 dan 2012 mereka bilang orang Indo kaya aku aksennya American English. Nah, disana mereka banyaknya British English. Tapi so far they can understand me, so do I. Tapi akhir2 ini aku lagi deket sama cowo singapore. Oh God, really I can hardly understand when he says something in English. That's true, they have special dialect. I don't find many difficulties in speaking with my european friends but I face so many misinterpreted in communicating with him.. :(

    ReplyDelete
  3. Hahaha.... yeah, we do need to take more time to sink in to what they say because of the accent and the word structure...
    In time.... everything is better through time....

    :)

    ReplyDelete