Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Thursday, May 16, 2013

Spesialisasi atau Generalisasi

Dalam dunia pekerjaan kita, ada dua golongan orang, Spesialis dan Generalis. Spesialis adalah seseorang yang benar-benar ahli di bidangnya sementara seorang generalis adalah orang yang ahli di berbagai bidang namun tidak terlalu mendalam hingga ke bagian-bagian teknisnya. Yang manakah kita?

Secara tidak sadar (atau sadar), kita sedari kecil diajarkan untuk menjadi seorang Generalis kemudian menjadi spesialis. Secara alami, itu yang terjadi. Perhatikan mata pelajaran kita waktu SD, kayanya semua hal kita pelajari terkait dasar-dasarnya. Kemudian naik SMP, pelajaran SD tadi berkembang semakin luas. Begitu masuk SMA, mulailah pengkategorian, yang IPA (ga tahu sekarang namanya apa) pecah jadi tiga kalo ga salah, Biologi, Fisika dan duh lupa lagi deh satunya, ato emang cuma dua yaa? hehehee... Begitu pula IPS mengalami spesialisasi. Bahkan pada kelas 3 SMA kita mengalami spesialisasi pertama kita, IPA, IPS dan Bahasa dulu tahun 2001 kaya gitu, sekarang ga tahu deh kaya apa.

Kemudian kita lanjut kuliah S1, semua mata pelajaran kita di SMA tuh seolah-olah menjadi 1 jurusan. Mau jurusan Kimia, oh itu dia pecahan IPA ketiga tadi, Jurusan Biologi, Jurusan Fisika, Sosiologi dan lain-lain. Perhatikan, semuanya itu kita pelajari pas SMA, namun ketika kuliah, kita khususkan satu mata pelajaran itu menjadi sesuatu yang akan kita pelajari selama 4 tahun kurang lebih. Misalkan kaya QQ nih, pas S1 milih Manajemen.

Kemudian kita misalkan lanjut lagi kuliah, Jurusan kuliah kita yang S1 tadi kemudian di-spesialisasi lagi lebih jauh, ada Manajemen SDM, Manajemen Pemasaran, ada Manajemen Kebijakan Publik yang padahal semua itu merupakan bagian dari mata kuliah kita ketika S1. 

Kita diajarkan untuk semakin ter-spesialisasi. Namun dalam dunia kerja, ada perusahaan tertentu yang menuntuk kita untuk menjadi spesialisas atau menjadi seorang generalis. Kalo menurut QQ sih, mayoritas sektor swasta menuntut kita menjadi seorang spesialis. Misalkan masuk sebagai Customer Officer, kemudian naik jabatan sebagai kepala CS, kemudian naik lagi masih di jalur yang sama.

Kalo Instansi Pemerintah, kita lebih dituntut untuk menjadi seorang generalis. Perhatikan jalur karir seorang PNS, misalkan QQ. Pertama kali penempatan di Sibolga QQ jadi Bendahara Pengeluaran. Kemudian pindah ke Jakarta setelah kuliah pindah ke bagian Pengembangan Pegawai, Transformasi Perbendaharaan, Pengelolaaan Kas Negara, Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Setelah itu pindah ke Padang ke Seksi Pencairan Dana kemudian pindah ke seksi Verifikasi dan Akuntansi. Ga ada jalur karir spesialisasi yang jelas. Kita dituntut untuk menjadi seorang generalis. Begitu pindah kita diharapkan untuk segera dapat menguasai bidang kerja yang baru, padahal mungkin di bidang kerja sebelumnya kita belum terlalu mendalam.

Karena itulah, sulit untuk mencari seorang spesialis dalam dunia PNS ini. Seorang Sarjana Hukum bisa menjadi seorang Kepala Bagian Pengembangan Pegawai. Padahal ada Biro Hukum. Namun karena masalah birokrasi dan pengalaman kerja, terkadang hal itu bisa saja terjadi.

Terkadang QQ mikir, mana yang lebih bagus? Spesialis atau Generalis?
Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa, "Apabila suatu pekerjaan tidak di tangan ahlinya, maka tunggulah kehancuran."
Entah mengapa, kalo menurut QQ, hadits ini adalah tentang spesialisasi sebuah pekerjaan. Jadi ada orang yang memang spesialisasinya di sana dan dia memang seharusnya mengerjakan hal tersebut. 

Namun memang ada kalanya seorang spesialis harus menjadi seorang generalis. Karena menurut QQ, seorang Spesialis jika dia terus menjadi seorang spesialis, maka karirnya adalah sebagai seorang teknisi atau pelaksana sebuah pekerjaan. Jika ingin maju, seorang spesialis harus menjelma menjadi seorang generalis. Namun dibutuhkan sebuah pola mutasi yang jelas untuk membuat spesialis-spesialis ini menjadi seorang generalis.

Lebih mudah menjelaskan sesuatu itu dengan contoh.
Katakanlah ada sebuah perusahaan dagang, Chronov Incorporated. Nih usahanya Penjualan retail barang-barang kebutuhan rumah tangga.
Chronov Inc ini punya Bagian Persediaan, Bagian Pemasaran, Bagian Kepegawaian, dan lain-lain.
Kita spesialisasikan, misalkan Bagian pemasaran memiliki Seksi-seksi sebagai berikut, Seksi Pemasaran Internal, Pemasaran External dan Seksi Pelayanan Pelanggan.

Katakanlah seseorang masuk pertama di Seksi Pelayanan Pelanggan. Biarkan dia menetap di seksi ini selama waktu yang dibuthkan agar dia menjadi spesialis di bidangnya. Kemudian baru dipindahkan ke Seksi Pemasaran Internal kemudian Pemasaran External dengan waktu yang memadai. Sehingga secara tidak langsung dia telah menjadi Spesialis di tiga seksi tersebut dan dia adalah seorang Generalis di Bagian Pemasaran. Barulah kemudian dia naik pangkat misalkan jadi Kepala Seksi Pelayanan Pelanggan. 

Dengan berbekal pengalamannya di tiga seksi itu, dia akan mampu naik ke Posisi Kepala Bagian Pemasaran. Kemudian lagi, baru dia bisa pindah ke posisi Kepala Bagian yang lain baik itu Persediaan, Kepegawaian dan lainnya. Setelah semuanya dia kuasai barulah dia menjadi Generalis sesungguhnya dan kata "is" bisa dihilangkan dan dia menjadi seorang GENERAL di perusahaan tersebut.

Namun yang sering terjadi dalam dunia Instansi Pemerintah adalah, kemampuan yang belum matang, kemudian dipindahkan ke tempat lain yang ga nyambung. Misalkan kita masuk ke Seksi Pelayanan Pelanggan, eh kemudian setahun berikutnya kita dipindahlan ke Seksi Pemeriksa Persediaan di Bagian Persediaan. Kemudian dipindah ladi ke Seksi Kepatuhan Internal di bawah Bagian Kepegawaian. Eh tahu-tahu promosinya malah jadi Kepala Bagian Keuangan misalnya.  Jalur karir ini menjadi rancu dan tidak jelas. Seseorang yang belum menjadi spesialis di bidangnya, belum pantas untuk menjadi seorang generalis, karena pengalamannya akan kurang cukup untuk memberikan penilaian yang memadai.

Yah, tapi takdir hidup manusia yaa...
Kita hanya berusaha menjalani semaksimal yang kita bisa.
QQ ga pernah bisa jadi spesialis di suatu bidang karena pola mutasi yang belum jelas ini. Suatu saat jadi operator Pencairan Dana, di saat lainnya jadi Petugas Rekonsiliasi. Anggap ajalah ini sebuah pengalaman dan pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup kita. Semoga aja QQ ga jadi seorang generalis yang setengah matang. QQ pengen jadi Generalis karena QQ emang sudah pernah menjadi Spesialis di bidang-bidang sebelumnya.

Tuesday, May 14, 2013

Politik Identik Kotor???

Di Wikipedia dikatakan bahwa Politics (from Greek politikos "of, for, or relating to citizens") is the art or science of influencing people on a civic, or individual level, when there are more than 2 people involved. Jadi Politik adalah gabungan antara seni dan ilmu (art and science) tentang bagaimana mempengaruhi orang pada tingkat masyarakat atau individu dimana ada lebih dari 2  orang yang terlibat.

Sebentar lagi mau pemilu dan kalo kita memperhatikan berita-berita, rata-rata isinya antara satu partai berusaha menjatuhkan partai lainnya, beberapa kasus terungkap dan anehnya nama partai ikut diseret-seret. Si A dari Partai X terlibat kasus korupsi. Lantas image Partai tersebut seolah-olah menjadi tergambarkan dengan image si A pelaku korupsi tadi. Padahal itu adalah perbuatan individu, tapi Partai ikut terbawa-bawa.

Pasti pernah denger Politik, "Atas dijilat, bawah ditendang"...?
eh, ga tahu juga deh gimana persisnya tuh istilah. Yang penting adalah bahwa timbul kesan jika Politik adalah sesuatu yang kotor. Banyak orang memilih untuk menghindar dari dunia politik ini. Dulu pada sebuah pelajaran pas kuliah pernah muncul pertanyaan ini, "Apakah politik itu identik dengan kotor?"

Ketika itu banyak yang berkomentar bahwa politik itu memang benar-benar kotor. Jika kita memutuskan untuk terjun di dunia politik, maka kita harus siap-siap bermandikan darah (lebay). Di dunia ini, kalo ga maen kotor, maka kita ga bakal selamat sampe ke puncak.

Namun QQ berpendapat beda, dulu dan sekarang QQ masih berpendapat bahwa Politik tidaklah kotor. Politik itu netral. Politik bisa menjadi kotor dan bisa menjadi bersih dan suci.

Umpamakanlah sebilah pisau. Ditangan seorang Masterchef, Pisau dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat dan berguna untuk membuat masakan-masakan yang luar biasa. Namun di tangan seorang pembunuh berdarah dingin, sebilah pisau bisa menjadi alat yang mematikan.

Begitupun politik, ia tak lebih dari sebuah alat. Tergantung siapa yang berada di belakang alat tersebut. Jika ia adalah seorang yang baik, maka politik bisa menjadi alat kebaikan. Namun jika penjahat yang menggunakannya, maka Politik akan menjadi kotor.

Jadi jika kita kemudian bertanya, "Mengapa politik di Indonesia begitu kotor?"
Jawaban sederhananya adalah, "Bukan karena Politiknya yang kotor, tapi emang penguasa-penguasa yang menggunakan politik itu, banyak penjahatnya..."

Politik adalah sebuah kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke posisi yang kita inginkan dengan cara mempengaruhi orang lain, membuat mereka percaya kepada kita dan mendukung kita. Tanpa politik, seorang yang baik-pun takkan bisa naik ke posisi puncak. Mau tidak mau, politik adalah alat wajib yang harus dimiliki oleh semua orang.

Nah, bagaimana jika kita dengan hati yang baik, menggunakan politik dengan tujuan yang baik kemudian terpaksa mencemplungkan diri kita di dunia perpolitikan Indonesia yang sudah begitu kotornya?

Jawaban sederhananya adalah dengan sebuah pertanyaan lagi, "Apakah Berlian akan pudah kilauannya ketika ia kita celupkan ke comberan atau kubangan kotor?"
Jawabannya tentu saja, "Tidak"

Jika seseorang percaya pada niatan hatinya, pada tujuan yang ia bawa, maka Layaknya berlian yang berkilauan di tengah comberan, begitu pulalah ia akan berkilauan diantara yang lain.

Hanya saja, para pelaku politik kita tuh mentalnya masih belum se-cemerlang berlian. Mereka masih sekelas besi. Begitu dicemplungkan ke comberan dikti aja, langsung karatan dan tertular. Begitu disikut dikit, dia akan langsung balas menyikut. Orang lain korupsi, eh dia ikut-ikut korupsi juga. Akhirnya yang terjadi adalah comberan tersebut semakin pekat dan kotor. 

Emang kasihannya adalah berlian-berlian tadi, mereka tidak tertular ikut kotor, Tapi kilau mereka tertutupi oleh comberan yang sangat pekat tadi. QQ percaya, bahwa di dalam kotornya politik di Indonesia, masih ada, bahkan masih banyak berlian-berlian yang sebenarnya siap untuk berkilau, namun masih tertutupi oleh comberan yang dibuat oleh orang lain.

Politik adalah gabungan antara ilmu dan seni. Ada sebagian ilmu di sana, namun ada juga sebagian seni. Bagian ilmunya sudah pasti. Namun bagian seni inilah yang sering menjadi celah bagi para penjahat untuk menggunakan politik sebagai alat untuk berbuat kejahatan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya, bagimana kita menyiapkan lap untuk membuka jalan comberan tadi untuk menemukan berlian-berlian yang tersembunyi di antara comberan tadi, meski akan sesulit mencari jerami di tumpukan jarum.

Atau cara lebih mudahnya, kita siapkan diri kita jadi calon-calon pemimpin masa depan, ktia kukuhkan mentalitas kita se-cemerlang berlian dan kita bersihkan sendiri keadaan politik di negara ini. 

Siap jadi Pemimpin masa depan????
QQ sih siap!!!!

Diam atau Bicara...?


Mungkin kutipan yang paling terkenal mengenai tema kali ini adalah, "Silence is golden". Diam itu adalah emas, jadi anehnya kalo kita lihat kata-kata bijak yang beredar dimana-mana, kita tuh malah sangat-sangat dianjutkan untuk diam saja. Karena tampaknya, dalam diam tersimpan kebijakan yang sangat mendalam.

Kutipan selanjutnya yang ingin QQ bahas adalah yang satu ini,
"Better to remain silent and be thought a fool than to speak out and remove all doubts"
--Abraham Lincoln
Makna kutipan di atas adalah, terkadang kalo kita diam, orang akan mungkin berpikir, "Nih orang jangan-jangan bodoh nih.." Tapi menurut kutipan di atas, lebih baik begitu, paling nggak orang baru mengira-ngira. Daripada kalo kita bicara, dan orang malah yakin kita beneran bodoh karena ternyata yang kita ucapkan itu adalah ucapan yang tak bermakna. Ibaratnya itu, mendingan kita pake baju dan biarkan orang berimajinasi tentang bentuk badan kita, daripada kita beneran telanjang dan orang akan sadar bahwa bentuk badan kita ternyata tidak bagus.

"Courage is what it takes to stand up and speak, courage is also what it takes to sit down and listen"
--Winston Churchill
Sementara kalo kata Pak Winston Churchill, kita tuh butuh keberanian untuk berdiri dan berbicara, tapi kita juga butuh keberanian untuk tetap duduk dan mendengarkan. Terkadang pantat kita tuh gatel untuk berdiri dan nih mulut udah gerah aja pengen nyablak dan berkomentar terhadap apa yang kita dengarkan. Karena itu, kadang kekuatan untuk membuat kita tetap duduk dan mendengarkan adalah lebih besar daripada keberanian yang kita butuhkan untuk berdiri dan berbicara.

"Wise Men speak because they have something to say, Fools because they have to say something"
--Plato 
Dalam nada yang sama, kata Om Plato, Orang bijak berbicara karena mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan, sementara orang bodoh berbicara hanya karena mereka harus berkata sesuatu. Jadi misalkan dalam sebuah diskusi kelompok, jika kita harus berbicara pastikan karena kita memang benar-benar butuh menyampaikan sesuatu kepada yang lain. Jangan jadi orang yang bodoh, pokoknya asal ngomong aja, yang penting kita punya andil, bahkan terkadang apa yang kita ucapkan tersebut menjadi tak bermakna. Sehingga akan kembali pada kutipan dari Mantan Presiden Abraham Lincoln tadi.

"When deeds speak, Words are nothing"
--Pierre-Joseph Proudhon
Sebuah kutipan yang singkat dari monsieur Pierre, namun maknanya sangat mendalam. Di dunia ini ada yang lebih penting dari sekedar ucapan atau bicara, itu adalah TINDAKAN. Terkadang orang hanya bisa berbicara tentang teori-teori semata tanpa bisa memberikan contoh yang nyata. Ketika kita melakukan sesuatu, mungkin kita akan membiarkan tindakan kita tersebut yang berbicara dan itu akan menjadi sebuah contoh yang baik. Luar biasanya adalah kita bahkan tidak perlu beneran ngomong, orang akan melihat dan menyadari apa yang ingin kita sampaikan.

"Never separate the life you live from the words you speak"
--Paul Wellstone
Ini juga adalah salah satu konsekuensi dari banyak berbicara. Jangan sampai kita menjalani hidup yang berbeda dari apa yang kita ucapkan. Orang kadang banyak bicara tentang kebenaran karena merasa sekedar tahu tentang itu, namun ternyata dalam kehidupan sehari-harinya tidak seperti apa yang dia ucapkan. Mungkin dalam keseharian kita, kita mengenal orang-orang ini dengan sebutan munafik. Kutipan ini juga menghimbau kita agar memperhatikan apa yang kita ucapkan dan senada dengan kutipan-kutipan sebelumnya.

Jadi apakah kita sebaiknya berbicara atau diam saja??
karena tampaknya justru berbicara itu menimbulkan konsekuensi dan praduga. 

"Think twice before you speak, because your words and influence will plant the seed of either success or failure in the mind of another"
--Napoleon Hill
Maka untuk itu, sebelum kita berbicara, kita harus berpikir lagi dan lagi mengenai apa yang akan kita ucapkan. Hati-hatilah dalam berbicara. Berbicara tidak di larang, hanya saja kita perlu memperhatikan lebih mendalam. Kata Tuan Napoleon itu, Apa yang kita ucapkan itu bisa daja menanamkan benih keberhasilan atau benih kegagalan dalam diri orang lain. Jika apa yang kita ucapkan itu benar, maka kita bisa saja malah membuat seseorang menjadi sukses. Namun jika apa yang kita sampaikan asal-asalan, bukan hanya membuat orang lain gagal, bisa juga akan menanamkan benih kebencian dalam diri orang tersebut kepada kita.

Kalo QQ sih sebenernya pengen kaya kutipan berikut:
"I speak my mind. If it offends some people, well, there's not much I can do about that. But I'm going to be honest. I'm going to continue speak my mind, and that's who I am"

--Jesse Ventura
QQ pengen banget bisa berbicara apa yang QQ rasakan, meski mungkin nantinya akan ada orang-orang yang terluka akibatnya, yah itu derita lo.... tapi pada dasarnya itu adalah kebenaran dan itu adalah apa yang QQ rasakan.
Bagi QQ, Diam memang emas, tapi berbicara adalah perak... ga jelek-jelek amat kok... hehehe...
 

Kutipan terakhir,
"We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak"
Kita punya dua telinga dan hanya satu mulut, mungkin maknanya adalah supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara atau paling nggaklah, kita mendengar dulu sebelum berbicara supaya kita tahu apa yang sedang kita bicarakan.

Mari kita belajar dari hidup Nabi Muhammad SAW. Beliau hidup selama kurang lebih 63 tahun. Kita saksikan saat ini diabadikan oleh berbagai penulis dan ahli sunnah, Beribu-ribu buku yang membahas mengenai apa yang diucapkan oleh Sang Nabi. Dalam kurun waktu hidupnya, beliau mampu membuat ucapan-ucapannya abadi dalam diri bermiliar-miliar orang.

Kita lihat diri kita dan berapa umur kita saat ini. Seandainya semua ucapan kita dijadikan buku, akan berapa tebal buku tersebut? dan berapa halaman dari buku tersebut yang akan memiliki pengaruh pada orang lain?

Mari kita kurangi berbicara yang tidak perlu dan mulai lebih intens mendengarkan.     

Monday, May 13, 2013

Merasa Kerjaan Kita Cemen...?

Dalam pekerjaan sehari-hari kita, pernahkah kita merasa kok kayanya pekerjaan yang kita lakukan tuh cemen banget alias kok kayanya kita udah kuliah tinggi-tinggi tapi ternyata dapet kerjaan yang mungkin dikerjakan oleh anak lulusan SD juga bisa. Misalkan kita udah kuliah S1 selama 4 tahun lebih kurang, eh pas dapet kerja, ternyata kerjaan kita tiap hari cuma men-stempel berkas, men-staples berkas dan anter-anter surat. Pernahkah kita merasa seperti itu?

Jaman dulu (entah kapan), kayanya lulusan SMA tuh udah oke banget. Kemudian muncullah jenjang DI, DII dan DIII, pendidikan makin tinggi dan makin lama. Setelah itu lanjut lagi S1, S2 dan S3. Orang sekarang udah ga ada kayanya yang ngambil kuliah DI lagi deh, apalagi DII. Sekarang orang minimal ambilnya DIII atau langsung S1. Kemudian syarat untuk melamar pekerjaan sekarang meningkat, minimal DIII, minimal S1. Namun ternyata ketika diterima bekerja, pekerjaannya tetap pekerjaan yang seharusnya mungkin merupakan pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa perlu gelar S1, jadi kita kerjakan.

Masalahnya adalah karena memang terkadang dalam dunia pekerjaan, gelar S1 tuh udah banjir dimana-mana, semua orang udah punya sampe-sampe cleaning service juga udah punya gelar S1. Sehingga, mau tak mau, kerjaan-kerjaan "cemen" tadi jadi jatuh juga ke tangan kita.

Sekarang kita perlu menghargai pekerjaan-pekerjaan 'cemen' tersebut dan tak lagi melabelinya dengan 'pekerjaan cemen'. Semuanya adalah sama pekerjaan tak perduli besar kecil, kompleks ataupun sederhana sebuah pekerjaan tersebut. Katakanlah kita kedapatan tugas men-staples berkas kemudian men-stempelnya. Namun kemudian kita merasa tersinggung dan memutuskan untuk malas bekerja. Lalu berkas-berkas kantor kita akan beterbangan kemana-mana karena tidak di-staples dan menjadi tidak sah karena belum mendapatkan stempel kantor.

Ada sebuah kisah tentang seorang pemeriksa kekencangan baut pada pesawat jamaah haji.
Jadi bapak ini tuh sering mengeluh. Dia adalah seorang insinyur teknik, namun sudah ebebrapa tahun ini dia hanya kedapatan pekerjaan sebagai inspektur baut pesawat. Dia bertugas memeriksa kekencangan baut roda, baut pintu dan semua jenis baut. Pada suatu hari dia berjumpa dengan seorang jamaah haji yang baru turun dari pesawat yang sebelumnya telah selesai dia periksa. Mereka kemudian mengobrol. Bapak ini mengeluhkan perihal pekerjaannya. Namun kemudian Jamaah Haji tersebut menanggapi, "Pekerjaan Bapak tidak kalan pentingnya dengan pilot. Jika bapak tidak melaksanakan pekerjaan bapak dengan baik, kemudian baut ban pesawat itu kendur lalu terlepas, maka saya tidak akan mendarat dengan selamat seperti sekarang ini...."

Sang Bapak itu tertegun dan konon dia berlinang air mata pada saat itu.

QQ ga tahu dah cerita ini bener apa nggak, pernah denger aja. dan somehow nih cerita terus aja melekat di benak QQ.

sekarang kita bayangkan kita akan menaiki tangga. Katakanlah ada 100 anak tangga di sana. Sebuah pertanyaan sederhana, apakah mungkin kita menaiki anak tangga mulai dari anak tangga ke 31? Atau apakah bisa kita memanjat anak tangga mulai dari tangga ke 53 saja?
Begitulah perumpamaan pekerjaan kita. Kita semuanya harus mendari dari bawah. Tidak ada ceritanya kita bisa mendaki tangga langsung loncat dari tangga ke 64.

Yah, sedikti ngeles, kecuali anda anak direktur perusahaan. Terus mendadak dapet warisan dan langsung jadi direktur, itu bisa saja. Tapi tanyakan lagi pada diri kita, "Apakah kita seberuntung itu...?"

Jadi ketika kita mendapatkan sebuah pekerjaan yang menurut kita 'cemen', berhentilah menganggap kerjaan kita tersebut 'cemen' alias tak berarti. Setiap bagian dari sepeda, meskipun ia hanya sekecil pentil ban, semuanya memiliki peranan masing-masing. Bedanya kita ama pentil ban adalah, kita bisa berkembang. Mungkin 3 tahun kita akan berjibaku sebagai tukang staples dan tukang stempel, tapi kita masih memiliki ruang untuk terus berkembang menjadi seorang dengan posisi dan pekerjaan yang lebih baik.

Jika kita saat ini adalah seorang tukang stempel, maka jadilah seorang Master Stempel... dimana stempel kita berada dalam kemiringan yang tepat dan takaran tinta yang pas.

Jika kita saat ini adalah seorang tukang steples, maka jadilah seorang Master Staples yang setiap kali kita menstaples, dokumen akan terjamin tidak berantakan lagi...

"Be the best at what we do, no matter how small..."
Itu adalah kutipan yang tepat untuk tulisan kali ini. Ga tahu siapa yang bilang, tapi QQ tiba-tiba aja kepikiran... eh, kalo ga ada yang klaim, maka QQ klaim itu jadi kutipan QQ. hehehe...

Jalani apa pekerjaan kita sekarang, jadilah orang yang terbaik yang pernah mengerjakan pekerjaan tersebut. Karena Tuhan tidak buta dan tidak tidur. Jalani pekerjaan kita dengan ikhlas dan sabar. Nantinya akan ada kesempatan bagi kita untuk berkembang. 

Namun, jika di tempat yang sekarang kita tak kunjung berkembang dan kita tahu kita lebih baik dari ini, maka mungkin ini adalah saatnya bagi kita untuk mencari pekerjaan lain. Tuhan tidak pernah menggariskan kita harus kerja di tempat kita sekarang. Kita memiliki seluruh dunia untuk menjadi ladang bagi kita.

Terus berusaha untuk menjadi yang terbaik pada apapun yang kita kerjakan.

Kuliah di Singapura

Mungkin beberapa waktu yang lalu QQ kadang mikir kalo lihat perkembangan temen-temen jaman SMA dulu. Ada yang udah bekerja di Jakarta, Singapura bahkan ada yang sudah menetap sampe di Eropa sana. Beberapa orang sudah berhasil Go International. Sementara kalo melihat QQ, kuliah S1-nya aja telat. Orang-orang pada udah kelar S2, QQ baru ngejer S1. Yah, meskipun emang udah dapet kerjaan dan kuliahnya gratis, tapi terkadang tetep aja kepikiran... hehehe...

QQ udah berhasil keluar dari Palembang semenjak lulus SMA. Pokoknya dulu QQ pengen kuliah dimana aja asalkan di luar Palembang, dan akhirnya nyaplok deh di STAN. Udah kerja 2 tahun terus pengen lanjut kuliah D4, eh udah lulus ujiannya, ternyata dilarang oleh kantor. Jadi yang lulus satu angkatan itu, semuanya ga boleh kuliah. Sedih sih, tapi yah life goes on. 

Tahun depannya, trauma dan akhirnya ikut nyoba beasiswa S1 aja deh. Alhamdulillah lulus pada kali coba pertama. QQ masuk ke S1 di UGM jurusan Manajemen (Keuangan, tapi nyerempet ke Manajemen Sistem Informasi). 2 tahun kuliah, lulus dengan IP yang bahkan mencengangkan diri QQ sendiri. wakakaka... berangkat dari IPK 3.23 pas lulus STAN, menjadi 3.91 pas lulus UGM. Entah dimana salahnya, tapi kayanya QQ melakukannya dengan benar kali ini.. hehehe..

Kemudian QQ melaksanakan magang setahun di Jakarta, setelah itu ditempatkan di Padang. Setelah 1 tahun kerja, QQ memenuhi syarat untuk mencoba beasiswa S2. tapi ternyata, pada tahun itu, bertambah satu syarat terlaknat, "Masa kerja minimal 3 tahun setelah beasiswa sebelumnya." DAMN! Nunggu setahun lagi dah di Padang.

Akhirnya tahun 2013 ini QQ eligible untuk ikutan nyoba test besiswa. Pilihan beasiswa secara umum ada beberapa jenis yang bisa QQ ikutin. Beasiswa internal, itu yang diadakan oleh Kantor Pusatnya QQ di Jakarta sana, biasanya kuliah S2-nya di UI ato UGM. Terus ada AAS yang dulu bernama ADS atau Austalian Award Schoolarship ini yang punya kerjaan orang Australia sana dan kuliahnya di Australia sana juga. QQ sih pada dasarnya menunggu salah satu dari kedua beasiswa tersebut. Namun ternyata pada bulan Februari berdengunglah mengenai beasiswa dari Lee Kuan Yew School of Public Policy yang ada di bawah National University of Singapore.

QQ dapet surat resminya sekitar tanggal 13 Februari dan deadline-nya tanggal 15 Februari, cakeeep. As usual, untuk kabar berita seperti ini, jaringan komunikasi QQ emang selalu terlambat. Di Surat pemberitahuan tersebut tercantum bahwa kita harus daftar sendiri ke situsnya NUS tadi dan bayar sekitar SGD 45, yah sekitar 400 ribu laaah. QQ sih sempet mikirnya yah, modal dikit ga papa laaah. eh tahunya pas buka situsnya, terdapat tulisan, "Application fee (waived)" 
\
Asli QQ bingung, Apa tuh waived...?
Wave... ombak?
Waived... melambai?

dan akhirnya buka google translate dan ternyata artinya "dibebaskan"
Waaah, duit pendaftaran dibebaskan dan QQ malah jadi mikir, "Moga aja orang lain pada ga daftar karena mikir males mau bayar duit pendaftaran tadi... hahaha.."

Akhirnya 2 hari QQ gunakan secara maksimal untuk melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan, termasuk 3 essai dalam bahasa inggris. Semuanya QQ scan dan tinggal menunggu kabar. Ternyata sekitaran awal Maret QQ dapet panggilan dan keluar surat ijin dari Kantor Pusat untuk mengikuti test terkait. Suratnya itu bukan dari kantor Pusatnya QQ, tapi dari atasannya lagi. Wah, ternyata nih tingkat seleksinya, tingkat Kementerian.

Awalnya sih sempet ragu juga, mengingat nih ongkosnya tanggung sendiri. Tapi alhasil dengan nadah ke orang tua, dapet deh bantuan tiket. Ga dapet dari Negara, dapet dari ORTU... hahaha...

Pas interview-nya sempet minder juga karena, ikat pinggang lupa bawa, jadi baju dikeluarin. Mau pake dasi, kayanya ga pantes kalo bajunya ga masuk celana. akhirnya dandanan semi-formal-casual. Ternyata saingan QQ kayanya bukan dari Kementerian Keuangan, tapi ada yang dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan HAM. Malah kayanya yang dari Kementerian Keuangan, QQ sendiri. wakakaka... kayanya beneran pada males daftar karena bayar. hahaha...

Pada dasarnya, untuk test-nya itu QQ asli ga nyiapin apa-apa. Karena interview, mengarang dan basic math test. Interview dan Mengarang dalam bahasa Inggris sih pada dasarnya QQ hanya perlu mempersiapkan diri aja, dan basic math test-nya yah namanya aja udah basic, QQ mikir bakal kaya Test Potensi Akademin (TPA) yang bener-bener tes matematika dasar.

Eh ternyata..........
Basic Math Test-nya itu beneran matematika. Ada masalah Kurva Permintaan dan Penawaran, masalah Peluang, mean, median dan masalah matematika ekonomi lainnya yang QQ ga apal  rumusnya. 

Namun pada akhirnya. Mengarang selesai, tes matematika dasar di-cincai-kan dan interview, meski penuh penyesalan, juga selesai. Mumpung di Jakarta, sempet-sempetin maen ice skating aaah.

Sesuai janji yang disampaikan pas interview lalu, pada sekitaran akhir April QQ dapet email dari pemberi beasiswanya. Ternyata isinya adalah Penawaran alias pemberitahuan kalo QQ diterima buat beasiswa tersebut. 

Rasanya pengen loncat kegirangan dan teriak ke seluruh dunia... Tapi sekali lagi, takut trauma D4 terulang. hahaha...
Akhirnya semuanya ditangani secara anggun dan penuh kehati-hatian, semua syarat dilengkapi dulu sampe ke Surat Keterangan HIV Negatif. Untung hasilnya negatif. hehehe...

Pernyataan konfirmasi penerimaan dokumen via email dan pos dari pihak Singapur udan oke, Surat Ijin dari Kantor Pusat udah keluar (meski setahun dan kudu diperpanjang setahun lagi), namun ternyata QQ kok masih memiliki keraguan, kaya seolah-olah, "Ini beneran ga sih??? dan apa beneran QQ lulus dan bakal kuliah di Singapura??"

QQ juga masih menunggu konfirmasi lanjutan dari Pihak Pemberi Beasiswa terkait surat beneran yang menyatakan bahwa QQ diterima dan menunggu tiket pesawatnya nih... hehe...

QQ takut PAMALI sih, terlalu berbahagia untuk sesuatu yang belum pasti terjadi. Rasanya semuanya masih bisa terbatalkan. Man propose, GOD dispose lah... QQ berharap bahwa ini bener-bener yang terbaik buat QQ dan semoga saja jalan ke depannya lancar. Terus siap-siap deh kuliah di Singapura.

tapi tetep aja, motto anak muda mah, "PART TIME STUDENT, FULL TIME TOURIST" hahahaha...!!! QQ mau kuliah di Singapurrrrr.........
Let's get lost.

Friday, May 10, 2013

Kekuatan dari Kejujuran

Seorang bijak pernah berkata, 
"If you tell the truth, You don't have to remember anything"
-Mark Twain

Tahu ga cara ngebongkar kebohongan seseorang? buat orang tersebut mengatakan banyak detail cerita tentang kebohongannya, kemudian pada akhirnya kita bisa menilai apakah detail-detail ceritanya tadi saling berkontradiksi satu sama lain. 

Kenapa begitu? Karena begitulah orang yang berbohong. Mereka banyak memeberikan detail sana dan sini, namun bila mereka lengah akan detail ceritanya dan tidak mengingat apa yang mereka ucapkan sebelumnya, maka hancurlah kebohongan mereka.

Oleh karena itulah, Mark Twain bahwa kalo kita mengatakan kebenaran, maka kita tidak akan pernah perlu untuk mengingat apa-apa, karena apa yang kita katakan adalah kejujuran dan memang begitulah apa adanya.
Itulah kekuatan dari sebuah kejujuran, kita tidak perlu takut ucapan kita atau jawaban kita akan berkontradiksi satu sama lain.

Kalo ga salah Nabi Muhammad SAW pun bernah bersabda yang kurang lebih isinya, "Kalian boleh berbuat apa saja, namun jika kutanyakan, kalian harus menjawab dengan jujur dan siapa menerima konsekuensinya..." yah, kurang lebihnya gitu laah...

Jadi betapa kuatnya sebuah kejujuran ini memiliki daya. Dia mampu membuat setiap orang untuk berbuat baik.

Kalo QQ inget-inget juga, QQ belajar sholat 5 waktu juga dengan prinsip kejujuran ini. QQ sholat 5 waktu awalnya karena ga mau bohong tiap kali Mama nanya, "Udah sholat apa belum?" Jadi mulai itulah QQ rajin sholat. Namun dalam perkembangannya tentu aja landasan itu berubah dan berkembang menjadi karena memang sholat sebuah kewajiban.

Banyak orang terkadang menyepelekan masalah kejujuran ini. Manusia menciptakan sebuah istilah white lies atau bohong demi kebaikan. Dengan itu mereka membenarkan kebohongan. Namun terkadang masalahnya adalah, orang lebih suka menempuh jalur kebohongan daripada kejujuran.

Banyak yang bilang, kejujuran merupakan jalan yang berat untuk ditempuh. Misalkan ada pasangan suami-istri. Kemudian si suami lebih suka berkata, "Kerja lembur di kantor" ketika sang istri bertanya, "Sedang dimana?". Padahal sesungguhnya dia sedang jalan bersama teman-temannya. Terkadang alasannya sederhana, "Bohong aja buat menghindari pertanyaan lebih lanjut dan akhirnya malah jadi masalah"

Aneh ga sih? Masa sih kejujuran malah jadi masalah dan akhirnya kebohongan-lah yang justru menyadi sang penyelamat. Tampaknya kita sudah terbiasa dengan kebohongan ini sehingga kita bermandikan di dalamnya dan enggan keluar karena sudah terlalu ketagihan.

Kalo menurut QQ ga ada alasan baik yang bisa membenarkan sebuah kebohongan. Kebenaran tapi memang pahit untuk diterima, namun hidup di atas kebohongan, bukanlah cara hidup yang baik. 

Kejujuran juga mungkin dapat terkesan egois, seperti berkata, "Take it or leave it, here I am..." dan kejujuran juga mungkin terkesan kejam dan sadis karena kita tidak perduli perasaan orang dan kita hanya mengatakan kebenaran. 

Kejujuran bukan berarti tak kenal perasaan. Kalo QQ sih prinsipnya cuma jangan bohong aja. Bagaimana kita memoles sesuatu kebenaran agar dia tidak menjadi setajam pisau, namun tetap saja sebuah kejujuran dan bukanlah sebuah kebohongan yang dihias dengan manis.

Seandainya saja semua pejabat di negara ini adalah orang-orang yang jujur, maka tak perduli jika mereka melakukan korpsi, tapi ketika ditanya KPK, kemudian mereka jujur mengakuinya. Alangkah indah pemerintahan kita ini jika dipenuhi dengan orang-orang jujur. Mungkin penjara bakal penuh, tapi bisa juga karena orang takut berbohong, maka orang akan takut berbuat salah.

Mnurut QQ, kekuatan sejati dari kejujuran adalah membuat orang menjauhi perbuatan dosa dan sekalipun mereka melakukan dosa, mereka siap mengakuinya dan siap menerima konsekuensi dari perbuatannya. Kejujuran membuat kita semua menjadi orang yang bertanggung jawab.

Wednesday, May 8, 2013

Waktu Bekerja Kita Dihabiskan untuk Apa?

Secara rata-rata, seorang pekerja memiliki waktu kerja dari jam 8 pagi sampe jam 5 sore, dengan istirahat siang selama 1 jam. Jadi kurang lebih, kita memiliki waktu kerja selama 8 jam-an per-hari, yang artinya sekitar 40 jam per-minggu.

Jumlah yang cukup banyak, Namun terkadang kita mengeluh waktu kerja kita tidak cukup. Rasanya pekerjaan kita terlalu banyak untuk waktu yang kita miliki. 

Namun coba kita lihat lagi pekerjaan kita sehari-hari.
Datang ke kantor, terkadang kita belum sarapan. Jadi keluar dulu beli sarapan di sekitar kantor. Berapa tuh waktu yang kita habiskan untuk kegiatan yang bukan 'kerjaan' kita? Kenapa ga sarapan aja dari rumah? ga cukup waktu? kalo begitu, bangunlah lebih pagi.

Abis sarapan nanti kita ngobrol dulu sama rekan kerja, entah curhat masalah kerjaan, entah curhat masalah pribadi, atau cerita masalah XFactor semalem siapa yang keluar. Berapa lagi tuh waktu yang kita habiskan untuk kegiatan yang bukan 'kerjaan' kita?

Abis ngobrol, kita idupin komputer dulu. Komputer idup, kita buka internet dulu, cek e-mail, cek Facebook, buka detik.com, baca berita-berita di Kompas.com, dan lainnya. Berapa lagi tuh waktu yang kita habiskan untuk kegiatan yang bukan 'kerjaan' kita?

Kalo dipikir-pikir, kita terlalu sering berkata bahwa kita kurang waktu dan terlalu sibuk, namun kita jarang melihat ke dalam aktivitas kita. Waktu yang kita punya, kita habiskan untuk apa saja. Kadang orang mengeluh, "Pekerjaanku banyak, jadi harap sabar aja.." Tapi kadang kalo melihat orangnya, pada saat beban kerja tinggi tadi, dia sempet-sempetnya ngobrol sama rekan kerjanya yang lain.

Jadi kadang kita tuh malah menganggap 'kerjaan' yang bukan bagian dari job description kita malah mengalahkan kerjaan utama yang seharusnya kita kerjakan. 

Kalo QQ sih bukan merasa pekerjaan QQ banyak dan kurangnya waktu. 
Waktu mah cukup, bahkan berlebihan samper berceceran kemana-mana... hehehe...
Yang terkadang jadi masalah adalah, Manajemen Waktu contohnya. Terkadang pekerjaan itu terlalu bertumpuk di awal bulan dan akibatnya, awal bulan kerjanya abis-abisan dan setengah bulan terakhir kerjanya ongkang-ongkang kaki. 

Mau ga mau, kita harus membiasakan diri dengan pola pekerjaan yang ada. Kita harus bisa membagi waktu kapan kita harus memfokuskan semua waktu kita untuk mengerjakan pekerjaan utama kita dan kapan kita bisa bersantai-santai buat buka Facebook.

Kedua yang kadang menjadi masalah adalah terkait Keadilan Beban Kerja. Kadang kita merasa pekerjaan kita tuh banyak banget bukan karena kita kekurangan waktu untuk mengerjakannya. Namun Ketika kita sibuk bekerja, bolak balik sana sini, eh kita melihat rekan kerja kita bersantai masih ngobrol-bgobrol sambil minum kopi. Terkadang karena melihat hal itu, mendadak kita menjadi merasa, kok pekerjaan kita banyak banget.

Namun pada dasarnya, pemanfaatan waktu ini adalah masalah individu masing-masing. Ada orang yang memilih bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian, namun ada yang justru memilih sebaliknya, mereka bersenang-senang dahulu, pas sakit nanti minta bantuan orang-orang. Ini adalah contoh orang-orang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan baik.

Albert Einstein, Stephen Hawking, Presiden SBY, Nabi Muhammad SAW, semuanya sama memiliki waktu 24 jam sehari. ga pernah ada yang dapet bonus misalkan 28 jam sehari. Semuanya sama 24 jam. Namun tanyakan pada diri kita sendiri, Apa yang bisa mereka lakukan dalam 24 jam sehari yang mereka miliki itu dan apa yang bisa kita lakukan dalam 24 jam sehari yang kita miliki. 

Jadi kalo kita dikit-dikit mengeluh kurangnya waktu untuk mengerjakan pekerjaan kita, mulailah mencoret aktifitas-aktifitas yang tidak mendukung pelaksanaan pekerjaan kita. Tapi kita juga harus ingat batasan, kalau kita memang merasa lelah, maka kita harus beristihrahat. Tapi kalo QQ sih mikirnya,Kalo belum sakit artinya belum lelah. hahahaha... Masing-masing orang memiliki batasan berbeda, namun bukan berarti kita tidak bisa memanfaatkan waktu kita secara efektif  dan efisien.

Tuesday, May 7, 2013

Apa Motivasi Kita Bekerja?

Waktu kita kecil, pasti pernah mendapatkan pertanyaan ini, "Nanti kalo udah gede, kamu mau jadi apa...?"
QQ dulu kalo ditanya itu, pasti bilangnya, "Pengen jadi DOKTER"

Namun kemudian pada suatu ketika di kelas 3 SMU, pada sebuah Try Out SPMB, nama Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru ketika itu, yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Kedokteran UI. QQ membatalkan niat menjadi seorang Dokter. Karena kata mereka, kuliahnya mahal, lama, trus lulus harus jadi Kacung Dokter selama 2 tahun-an, baru bisa jadi dokter beneran.

Akhirnya QQ banting setir pengen jadi ahli komputer, namun ternyata lulus di STAN dan jadilah QQ sekarang seorang PNS di Kementerian Keuangan. Kalo dipikir-pikir... KOK  BISA???

Bagaimana dengan anda? apakah ini perkerjaan impian anda yang pernah anda ucapkan ketika kecil?

Duku ketika milih D1 atau D3 atau S1... orang pada bilang, "Pilih D1 aja, kuliah setahun trus langsung kerja" Tapi QQ sih tetep milih D3.. hehehe..
Orang tuh somehow mengaitkan perkerjana adalah sebagai sarana mencari uang. Misalkan kita adalah seorang insinyur, kemudian ditawarkan dua perkerjaan yang berbeda. Katakanlah jadi Arsitek swasta dengan bayaran selangit atau jadi Arsitek berstatus PNS dengan gaji seadanya. Maka sangat mungkin orang tersebut memilih pekerjaan di dunia swasta.

Kadang QQ mikir, QQ jadi PNS ini buat apa sih?
Mau cari duit, okelah, PNS Departemen Keuangan (bukan Dirjen Pajak), memiliki penghasilan yang bisa dibilang cukup. QQ yakin dengan penghasilan QQ sekarang, bisa untuk menghidupi dua orang kok. 

Jadi kalo Kita bekerja hanya untuk mencari uang, mungkin kita akan merasa puas berada di posisi kita sekarang. Tapi kok QQ ga ngerasa puas yaa...?
dulu ada yang bilang, "Asal kerja di kampung halaman, jadi Pelaksana (alias staff bawah) selamanya juga ga papa..."
Tapi kalo QQ nggak gitu juga, meskipun ibaratnya katakanlah sekarang tuh penghasilan per-bulan QQ tuh udah cukup buat bayar tagihan-tagihan, QQ rasanya ingin terus naik ke atas. QQ ga mau pensiun tetep sebagai seorang Pelaksana. QQ mau pensiun sebagai Dirjen kalo bisa, bahkan terus lanjut jadi Menteri Keuangan dan bahkan bisa lanjut jadi Presiden RI.

Jadi motivasi bekerja QQ sekarang udah bukan sekedar mencari duit lagi, tapi ada sesuatu idealidme yang ingin QQ terapkan. Tapi kalo QQ sekarang juga jadi bos, kayanya sih bakal bingung juga, karena kurangnya pengalaman. Tapi yang jelas QQ bekerja bukan sekedar mencari uang, tapi untuk membuktikan sesuatu, mewujudkan sebuah eksistensi seorang Rizky Novrianto.

Meskipun Dunia Kedokteran dan Dunia Per-PNS-an sangat berbeda, paling nggak kita bisa bekerja sesuai dengan keahlian dan keinginan kita.

Seorang bijak pernah berkata, "If you love your JOB, You don't have to WORK anymore"
Jadi jika kita bisa mencintai pekerjaan yang kita lakukan, maka kita tidak akan perlu merasa 'bekerja' lagi.
Untuk mencintai pekerjaan kita, kita butuh menemukan apakah motivasi kita dalam melakukan pekerjaan kita ini. QQ ga bisa bilang bahwa saat ini QQ mencintai sepenuhnya apa yang QQ kerjakan saat ini, Namun jika memang ini adalah jalan yang harus QQ tempuh untuk mencapai pekerjaan yang lebih baik lagi atau jabatan yang lebih tinggi lagi, maka ini adalah motivasi QQ untuk melakukan pekerjaan QQ saat ini.

Cinta terhadap pekerjaan yang mungkin diawali dengan terpaksa.
Orang susah-susah kuliah 4 tahun di misalkan Jurusan Teknik, terus keluarnya malah jadi Customer Service di Bank, tidak mengapa. Mungkin pekerjaan kita saat ini tidak sesuai cita-cita kita dulu. Tapi Pada intinya adalah Inilah yang kita dapatkan. Kita bisa saja terus mengejar bintang di langit. Tapi apakah kita akan terus mengejar bintang tersebut?

Bukan berarti kita menurunkan target atau sasaran kita, namun tidak ada salahnya kita mengetahui kemampuan diri kita dan kita menyesuaikan target kita dengan apa yang kita bisa.
Kita harus bisa mencintai apa saja yang kita sedang kerjakan. Temukan motivasi untuk bekerja agar kita bisa bekerja dengan lebih baik. Uang takkan menjadi motivasi yang baik untuk bekerja, meskipun memang bagus untuk di awal pekerjaan. Nantinya kita harus menggeser motivasi bekerja kita dari sekedar mencari uang untuk membayar tagihan bulanan kita.

Pekerjaan adalah salah satu bagian ibadah dan Ibadah adalah satu-satunya tujuan dari penciptaan kita.

Gym Buddy

Siapa di dunia ini yang ga mau memiliki tubuh yang ideal, sehat dan enak untuk dipandang?

Sebuah pertanyaan retorikal yang semua orang kayanya akan pasti menjawab, IYA.
Namun ketika pertanyaan diubah menjadi, "Siapa di dunia ini yang sudah cukup berusaha untuk memiliki tubuh ideal...?
Maka kita akan menjawab, "Hmmm... saya mungkin....."

Faktanya adalah GYM sekarang sudah bergeser fungsinya sedari sebagai tempat untuk membentuk badan yang sehat menjadi sebagai salah satu tempat buat kongkow, nongkrong dan bersosialisasi.

Sekarang coba jawab pertanyaan ini dengan jujur, "Siapa yang kalo ke Gym, ribet banget pilih baju mana yang bagus, sepatu yang bagus dan plus semprot-semprot parfum biar wangi... malah udah tahu mau keringetan, sempet-sempetnya mandi dulu sebelum gym...?"

Luar biasa bukan? kondisi gym sekarang udah ga bau kerinet lagi... tapi udah beraroma Bvlgari, CK, Benetton, Diesel dan banyak merk lainnya, termasuk merk-merk cologne yang murah meriah... hahaha....

Jadi kadang kalo kita datang ke gym, kemudian eh malah jumpa ama temen atau geng kita, yang terjadi adalah olahraga mulut alias nge-gosip dan bukannya olahraga badan. Ntar ga sadar 2 jam udah berlalu dan yang terasa berotot malah mata kita, karena yang olahraga itu malah mata, lirik kanan kiri.

Itu adalah dilemanya kalo nge-gym rame-rame. Tapi kalo nge-gym sendirian juga, rasanya juga jadinya terlalu autis, kaya QQ biasanya. Sementara yang lain pada olahraga mulut dan mata. Kita sendirian serius olahraga badan, rasanya kok kesepian banget yaa... hahaha...

Karena itu, untuk mendukung kesuksesan seseorang dalam gym, dibutuhkan GYM BUDDY atau sahabat untuk nge-gym. Ada beberapa kualifikasi yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi seorang gym buddy yang baik.

Coba bedakan dari beberapa dialog berikut ini:
Gym Buddy (GB) : Yuk kita gym hari ini..!!!
QQ : yuk, jam 19.00 yaa..
##Nah, ini Gym Buddy yang baik karena selalu mengingatkan dan mengajak.
GB : Abis itu kita makan2 di KFC yaaa....
##Teeet... ini GYM buddy yang buruk
QQ : Ga ah, sayang ama keringet yang udah ngucur ntar.
GB : Ok deh, see you there

Adegan 2
GB : Hayo yang semangat angkat bebannya, tambahin kalo perlu biar terasa!!
QQ : iya... uugh...
##Nah, ini Gym Buddy yang baik, memberikan motivasi pada sahabatnya untuk lebih baik lagi.
GB : Antara set angkatan, istirahatnya maksimal semenit aja, Eh-eh, kemaren masa si Mika keluar dari XFactor....
##Teeet... ini Gym Buddy yang menyesatkan, bilangnya break semenit, eh dia ngebahas Mika yang keluar, alamat abis 30 menit tuh.

Adegan 3
QQ : Duh kok rasanya males ya mau gym, ga mood nih.
GB : Tenang aja, kita berangkat dulu aja ke sana, ntar juga semangatnya muncul sendiri.
##Gym Buddy yang baik nih, karena terus aja mengajak meski kita lagi males.
QQ : Tapi kayanya lagi ada diskon besar-besaran tadi di Matahari...
GB : Eh serius??? ya udah, kita kesana aja yuk malem ini...
##Teeet... sesaaaaaaaaaat!!!!!!!!!!!!!!

Hahahhaa.......
yah, jadi Gym Buddy seseorang itu adalah gabungan antara ilmu dan seni....
Kadang harus kejam, kadang harus sadis, tapi seringnya sih emang harus tega. Maka itu mencari Gym Buddy yang baik tuh susah, dak akhirnya orang mengeluarkan dana ekstra untuk membayar Personal Trainer sebagai 'Gym Buddy' mereka. 

Menurut QQ sih kadang seorang Personal Trainer alias PT tuh bukan kita bayar untuk kita harapkan keahliannya dalam membentuk badan. Karena kalo gitu, syarat seorang PT harus punya body oke punya dong. Namun peran utama seorang PT, selain memberikan info dan tips, adalah menjadi Gym Buddy yang baik bagi kita.

Memang mahal untuk membayar seorang PT, tapi emang mencari seorang Gym Buddy tuh ga gampang. Kita memang bisa mengandalkan teman, yah pada seminggu dua minggu pertama. Ntar pas udah bosen, mulai deh bibir ama mata yang berotot. wakakaka....

Yah, pada akhirnya orang-orang yang badannya ga bagus-bagus juga meski udah gym bertahun-tahun (kaya QQ contohnya), akan berkata, "Kayanya punya badan berotot tuh tergantung ama takdir masing-masing kali yaaa... Jangan-jangan mereka begitu  brojol dari perut emaknya, langsung punya perut sixpack..."

Yah, tapi tetep aja... Namanya usaha, QQ akan terus mencoba. Akhirnya dengan resolusi sederhana, "Yah, meskipun ga punya badan berotot dan perut kotak-kotak, paling nggak SEHAT aja udah cukup laah... hahahaha..."