Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Friday, July 18, 2014

Lakum Diinukum Wa Liyadiin

Kalo pas kita lagi Sholat berjama'ah, pernah ga kita memperhatikan?

Sang Imam membaca niat kemudian ber-takbiratul ikhram dan kemudian bersedekap, 

Sedari permulaan ini, bisa kita lihat ada orang yang bersedekap di depan pusar, ada yang di depan ulu hatinya dan ada juga yang agak turun di daerah perutnya.

Kemudian sang Imam mulai membaca Al-Fatihah,

Ada yang basmalah-nya di lantangkan, ada yang basmalahnya disunyikan.

Kemudian setelah membaca Al Fatihah,

Ada imam yang memberikan jeda untuk ma'mumnya membaca Al Fatihah ada Imam yang langsung lanjut membaca surat pendek.

Kemudian sang imam siap-siap untuk ruku',

Ada Imam yang mengangkat tangan untuk bertakbir sebelum ruku' dan ada juga imam yang tidak.

Lalu setelah Sujud, sang Imam duduk di antara dua sujud,

Lihat posisi kaki masing-masing orang, ada yang bertumpuk, ada yang bertumpu kada telapak kaki kirinya saja sementara kaki kanannya ditekuk.

Kemudian sang Imam lanjut berdiri untuk raka'at selanjutnya,

Ada yang bertakbir seraya mengangkat tangan, ada juga yang tidak.

Setiap sholat selalu ditutup dengan Tahyat sebelum salam,

Ada yang langsung mengacungkan jari telunjuknya, ada yang menunggu bacaan syahadat, ada juga yang mengacungkan jari telunjuknya dan digoyang-goyangkan.

Kemudian Sholat itupun ditutup dengan Salam ke kiri dan ke kanan.


Luar biasa, kita mengerjakan ibadah yang sama, tapi dalam pelaksanaannya begitu banyak perbedaan yang terjadi. Namun daripada kita membahas perbedaan-perbedaan tersebut, mengapa kita tidak fokus kepada satu persamaan dari semua perbedaan tersebut.


Apakah ada yang bisa menebak??

Persamaan di balik semua perbedaan tersebut adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT..."

Tak hanya masalah Sholat,

Ada yang tarawih 8 rakaat, ada yang tarawih 20 rakaat dengan metode dan tata cara yang belum tentu sama pula. Ada yang dua rakaat salam, ada yang empat rakaat salam. Tapi dibalik semua perbedaan tersebut, persamaannya adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT TARAWIH..."

Apalagi dalam hal hubungan kita antara sesama manusia, banyak sekali paham-paham di dalam Agama Islam yang nampaknya satu dan lainnya berbeda. Mari kita kembali ke judul tulisan ini, "Lakum Diinukum wa Liyadiin" yang artinya "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku." Ini adalah ayat yang sering kita gunakan untuk menunjukkan toleransi umat Islam terhadap umat beragama lainnya.


Namun, pernahkah kita menggunakan ayat tersebut untuk sesama saudara kita kaum muslimin?

Terkadang kita sibuk mengkritisi sesama saudara kita yang sama-sama mengerjakan ibadah untuk Allah swt. Kita terlalu fokus pada perbedaan diantara sesama saudara kita sehingga hal tersebut memecah belah pesatuan umat muslim. Sementara banyak saudara kita yang mengaku muslim, namun tidak mengerjakan kewajiban-kewajibannya. Kita lebih fokus mengkritisi apakah basmalah dilantangkan atau disunyikan sebelum membaca Al Fatihan dalam setiap sholat.

Daripada kita sibuk menghabiskan energi untuk mengkritisi hal tersebut, mari kita habiskan energi kita untuk mengajak saudara-saudara kita yang belum melakukan kewajibannya. 


Qur'an jelas memerintahkan kepada kita, "Dirikanlah Sholat dan tunaikanlah Zakat"

Kemudian, kita dengan sotoy-nya sibuk mendebat bagaimana tata cara yang benar untuk melakukan kedua ibadah tersebut, sementara ternyata kita sendiri tidak melakukan dua hal tersebut, karena kita sibuk mendebat orang ini salah dan itu salah. 

Kembali ke Blog sebelumnya tentang kisah Sapi Betina, Lakukan saja dulu.... masalah mana yang benar, kita bahas nanti setelah kita lakukan ibadah tersebut. Sudah sholat belum? masalah mau mahzab Hambali, Syafi'i atau Hanafi, itu urusan nanti. Yang penting kita kerjakan dan kita kerjakan dengan cara yang menurut kita benar dan sesuai dengan apa yang kita ketahui.


Eh, merasa benar itu ga ada salahnya, selama TIDAK MENYALAHKAN ORANG LAIN....

Setiap apa yang kita lakukan dalam beribadah, harus kita yakini kebenarannya. Dalam artian, kita punya landasan hukumnya baik itu Al Qur'an atau Hadits Nabi Muhammad saw agar kita tidak terjebak bid'ah atau salah tata cara. 

Nah, masalah ternyata ada hadits lain yang berbeda dari apa yang kita ketahui, maka kita berpegang pada yang kita yakini saja. Biarkan orang lain melakukan sesuai apa yang mereka yakini. Selama keduanya merasa benar, namun tidak saling menyalahkan, maka ga ada masalah toh. 


Kok kita tuh kadang bisa toleransi ama umat agama lain, tapi toleransi ama sodara sendiri, susahnya ampun-ampunan. 


Berdebat itu secara syari'at tidak dianjurkan. Lalu bagaimana cara untuk mencari kebenaran?? Diskusikanlah dengan orang tersebut, bertanyalah dengan cara yang baik-baik dan tanpa saling menyalahkan. Luar biasanya kadang sesama muslim men-cap saudara sesama muslimnya sebagai kafir.


Hey halooo... selama masih mengucapkan syahadat, melakukan rukun Islam dan percaya pada rukun Iman, maka pertama dan yang utama, dia adalah saudara kita sesama muslim. Jika kita merasa dia salah, kita ingatkan. Namun jangan sok mengingatkan, namun landasan kita juga lemah. Yang akan terjadi adalah debat kusir yang ga berguna. 


Jadi ingatlah, toleransi juga harus kita terapkan pada saudara kita sesama Muslim. Jika ia ingin berpegang pasa mahzab A dan kita mahzab B dan ternyata memang ada perbedaan dalam tatacara beribadah kita, maka mari kita kembalikan pertanyaannya, "Apakah ibadah yang diperintahkan itu telah dilaksanakan?" Jika iya, maka kesampingkanlah perbedaan itu dan kita sebagai sesama saudara harus saling bersatu padu.


Kalo QQ melihat Jalan Kebenaran tuh ga sesempit kaya rambut yang dibelah tujuh. Rambut aja udah sempit, gimana lagi kali dibelah tujuh. Jalan yang lurus itu bisa aja kaya sebuah jalan tol dengan delapan jalur. Ada juga kalanya mungkin agak berkelok-kelok dikit. Namun jika ujung jalan tersebut yang menjadi tujuan kita adalah sama, maka perbedaan itu tidak lagi menjadi halangan. 


Kalo kita bisa sholat kemudian meyaksikan perbedaan tersebut terjadi di hadapan kita, namun pada faktanya kita semua bisa menyelesaikan sholat tersebut tanpa ada adu pendapat... maka itu adalah indahnya perdamaian...


Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Mari kita mulai dengan Toleransi kepada sesama saudara kita, kemudian kita perluas dengan toleransi kepada sesama manusia, karena pada akhirnya, "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku"

Kita semua sama-sama mencari, nanti di ujung perjalanan ini, barulah kita bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun sebelum itu, pantangan bagi kita adalah MERASA YANG PALING BENAR!!! Selalu ada ruang untuk kesalahan, karena kita hanyalah manusia biasa yang berusaha menafsirkan makna-makna ilahiyah.


Wallahualam bisshawab



Image Source:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2M4kTHaD1ZRDD2c-hVU1wVLMkmZE96PAy1xVxBTqrkwU6OUujURNgcTVyBcuvzCXVNn0XEN_WCR9zIGqcjBFlZlBcsbJ-GfNzop5Q9tMrnMBEtGOUTyTfkrWImqXTekFDId2W2KxBLnmn/s1600/bigstock-Colorful-raised-hands-The-con-45953353.jpg

No comments:

Post a Comment