Mau sarapan apa pagi ini?
Mau berangkat jam berapa pagi ini?
Mau tidur jam berapa malam ini?
Mau jalan kemana libur besok?
Setiap hari dalam kehidupan kita sebagai makhluk yang hidup dan bersosialisasi akan selalu dipenuhi dengan pengambilan keputusan, baik itu keputusan untuk kita sendiri ataupun keputusan terkait dengan orang lain.
Dalan sebuah analisa yang pernah disampaikan seorang dosen yang memiliki kapasitas juga sebagai psikolog, QQ tuh tipe orang yang ga bisa disalahkan and it is so true. You will need a whole lot of effort to take me down, if I don't feel like I'm doing something wrong. But If I'm on the wrong side, I will gladly to admit it, without you have to put the blame.
Ada serangkaian proses justifikasi yang cukup panjang dan terkadang lama sebelum QQ mengambil sebuah keputusan. Karena itu, untuk mengambil sebuah keputusan tuh sangat melelahkan mengingat risiko yang ada di dalamnya. Mengambil keputusan yang melibatkan diri sendiri aja susah, apalagi kalo hasil keputusan itu melibatkan orang lain.
Contoh keputusan yang melibatkan diri sendiri,
Lagi kongkow di Starbucks malem-malem, jam 11 malem mau pulang nih. Tahu-tahu pas keluar, eh hujan deras, sederas-derasnya. Kemudian kita dihadapkan dengan sebuah dilema, keputusan apa yang akan diambil? (Asumsi, dan kenyataan juga sih... QQ kendarannya adalah motor)
Kalo QQ, akan menjalankan simulasi.
Skenario A, nungguin hujan kelar yang belum tentu kapan kelarnya. Bisa jam 1 dini hari, bisa jam 3 dini hari, ato ga kelar-kelar ampe besok pagi. Tapi bisa juga, tahu-tahu 15 menit lagi selesai.
Skenario B, nerobos hujan karena QQ belum punya mantel ketika itu, trus minjem kresek buat melindungi barang-barang elektronik yang ga boleh kena air, tapi terkandung risiko di sini, bisa aja QQ kehujanan, kedinginan dan akibatnya pilek, demam atau tepar keesokan harinya
Nah, hasil keputusan ini sebenernya mayoritas melibatkan diri kita sendiri, yah meski kalo kita sakit ujung-ujungnya mempengaruhi kerjaan dan orang-orang di kantor juga. tapi itu adalah efek dari efek alias secondary effect yang belum harus masuk dalam pertimbangan utama.
Nah, kemudian katakanlah QQ akhirnya menempuh skenario B, terobos aja hujannya, ada beberapa skenario yang bisa terjadi
Skenario B.1. Nerobos hujan... trus udah basah kuyup, tahu-tahu pas sampe rumah hujannya stop. Ada kemungkinan di sini kita akan kesal dan berkata, "Tahu gitu, tunggu aja tadi bentar..."
Skenario B.2. Nerobos hujan... trus besok paginya drop karena flu dan akhirnya harus bolos kantor dan kena potongan penghasilan sebesar 5%. Ada kemungkinan di sini kita akan kesal dan berkata, "Tahu gitu, harusnya tadi nunggu hujan reda aja..."
Bahkan terkadang ada skenario B.3. yang merupakan kombinasi skenario B.1 dan B.2. dimana udah kehujanan, tahu-tahu sampe rumah hujan stop, eh besok paginya drop dan ga masuk kantor.
Tapi, against all odds ada skenario B.4. yang dimana kita nerobos hujan, ternyata hujannya beneran bertahan ampe besok paginya dan ternyata pas bangun besok pagi, kita masih sehat-sehat aja. Yang akan terjadi adalah kita bersyukur karena telah mengambil keputusan yang tepat.
Tapi kalo kita kembali ke ilmu statistika sederhana tentang peluang, kebayang ga sesungguhnya ada berapa skenario yang bisa dibuat dari situasi hipotetikal ini? tapi kalo kita lihat dari skenario terbatas yang ada di atas, dari keempat skenario, skenario ideal kita hanya 1. Jadi peluang keputusan yang kita ambil tepat tuh hanya 25%. Lebih besar peluang untuk keputusan kita salah.
Maka dari itu, penting untuk kita belajar bagaimana hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil.
Mau ga mau, dalam setiap keputusan yang kita ambil, akan selalu ada kemungkinan salahnya dan ada risiko yang akan terjadi. Maka dari itu, penting bagi kita untuk hidup pesimistis. Pernah ada sebuah teori yang bilang kalo orang pesimistis bisa hidup lebih panjang dari orang optimistis karena orang pesimis selalu memperkirakan skenario terburuk.
Tapi kalo QQ sih bilangnya, hidup pesimistis tapi tetap optimis... hahaha...
Nah, penting bagi kita untuk memperkirakan dampak dari keputusan yang akan kita ambil dalam hidup ini, sehingga kita ga kaget dan suatu hal tidak terjadi di luar rencana.
Contoh tadi, ada empat skenario yang sudah kita buat dan empat dampak yang akan kita hadapi apabila keputusan itu kita ambil. Kalo kita hidup hanya dengan pandangan optimis saja, kemungkinan besar kita hanya bersiap untuk skenario B.4 dan ketika skenario B.1 sampai B.3 yang terjadi, kita akan kesal. Namun sebagai orang optimis, meskipun kita sudah mempersiapkan empat skenario, masih ada saja kemungkinana kita kesal karena kita tidak suka dampaknya.
Maka penting untuk kita belajar bagaimana hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil.
Eh, keulang lagi kalimatnya... hahaha...
Jadi kalo kita sudah mengambil keputusan untuk menerobos hujan, artinya kita harus sudah siap dengan kemungkinan terburuknya (pandangan hidup pesimis), sehingga apabila ternyata besoknya kita jadi sakit dan harus bolos kerja dan kena potongan 5%, kita sudah siap menerima itu sebagai konsekuensi atas keputusan yang kita ambil dan itu konsekuensi yang sudah kita ketahui akan datang, so suck it up!!!.
Namun, ketika kita menjalani keputusan yang sudah kita ambil tersebut, selalulah berharap untuk skenario B.4 (pandangan hidup optimis), teruslah menjaga agar hati kita bahagia, karena hati yang riang gembira dan pandangan hidup optimis dapat membuat kondisi kita lebih kebal terhadap dampak negatif hujan dan angin kencang. Sehingga meski hanya 25%, pandangan hidup optimis dapat membuat peluang terjadinya skenario B.4 lebih besar dari hanya 25% saja.
Sehingga kita sudah siap dengan konsekuensi yang akan terjadi.
Mari kita bawa cara hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil sedikit lebih jauh dan ekstrim.
yaitu REALITA.
Kenyataannya, realita tak pernah semanis skenario apapun yang bisa kita buat.
Akhirnya kita memutuskan untuk pulang menerobos hujan dengan pertimbangan yang sudah kita ambil. Eh, pas di bunderan HI tahu-tahu helm yang dipake kemasukan air karena angin yang terlalu kencang, akibatnya mata kita kemasukan air dan jadi kriyep-keriyep. Eh dikala kita sedang ucek-ucek mata, tahu-tahu kita kehilangan keseimbangan dan menabrak mobil yang ada di depan kita.
Di luar skenario yang kita ciptakan tadi, ternyata kita malah berakhir di rumah sakit dengan tagihan perbaikan mobil orang yang kita tabrak, tagihan rumah sakit (walau di-cover oleh BPJS), dan potongan absen karena harus bolos kantor seminggu (karena cuti udah keburu abis buat dipake liburan). Bayangkan apa yang akan terjadi?
Berapa peluang kita akan mencaci maki dan menyalahkan hujan???
sangat besar.... if I may say...
Realita emang kadang pahit dan lebih pahit daripada apa yang bisa kita perkirakan.
Lalu gimana supaya kita bisa belajar hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil tadi?
Masih sama... Berpikirlah dengan pesimistis, namun hiduplah dengan optimis....
Sebagai orang yang pesimis, skenario yang bisa kita ciptakan tidak hanya empat tadi doang.
kita bisa menciptakan skenario B.5. mata kriyep-kriyep kena air hujan trus nabrak mobil didepan kita
atau skenario B.6. Motor lain yang kriyep-kriyep kena air hujan trus nabrak kita.
bahkan skenario B.7. Mobil kepleset air hujan, plus remnya ga mantep trus nabrak kita
yang lebih pesimis lagi ada skenario B.8. Kita kesambar petir di tengah hujan yang deras tersebut.
mau yang lebih ga masuk akal? ada skenario B.9. Anginnya terlalu kecang, ngejatuhin pohon dan akhirnya menimpa kita yang lagi lewat.
Kombinasi QQ sebagai orang introvert yang berfikir pesimistis, bisa ada 40 skenario yang QQ buat sebelum mengambil sebuah keputusan. Lalu apakah karena ada 39 skenario buruk dan hanya 1 skenario B.4. yang baik lalu QQ memutuskan untuk mengambil skenario A untuk menunggu hujan reda saja?
Jangan salah kakaaaak.... untuk skenario A, bisa-bisa ada 50 skenario turunan lagi atas kemungkinan yang terjadi kalo QQ ngambil skenario A. Serius, kalian bisa nyasar kalo masuk ke dalam otak QQ.
Maka di sinilah perlunya kita untuk hidup optimistis.
Kita memutuskan untuk mengambil skenario B, terobos hujan. dengan peluang skenario B.4 hanya 1/50 alias 2% saja di antara skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi. Namun karena kita sudah mempertimbangkan skenario yang munkin terjadi, pandangan hidup optimis akan dapat membuat kita lebih waspada.
- Kita udah tahu nih ada kemungkinan mata-kriyep-kriyep kena air hujan, pastikan kaca helm kita turun dan bersih, atau jika ternyata airnya masuk dan kita susah ngelihat, stop dulu di tepi jalan buat ngucek-ngucek mata supaya kita ga nabrak orang.
- Untuk menghindari di tabrak orang, selalu pastikan kanan dan kiri kita aman sebelum melaju.
- Kita tahu nih ada kemungkinan ketiup angin kencang dan jatuh, maka pegangan erat sama setir motor dan hindari daerah pepohonan.
- Karena sudah memperkirakan kemungkinan tersambar petir, kalo ada petir kenceng, hindari lapangan luas.
Kombinasi dari berpikir pesimis dan hidup optimis ini akan bisa mempersiapkan diri kita lebih baik. Delalahnya ternyata skenario buruk yang sudah kita perkirakan tetap terjadi, maka kita sudah siap mendapatkan risiko itu ketika kita mengambil keputusan untuk menerobos hujan tadi.
Sehingga penting bagi kita untuk tidak mencari kambing hitam atas konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Nyalahin hujan, nyalahin petir, nyalahin temen (kalo sempet konsultasi dan minta saran), nyalahin temen (kalo ternyata yang ngajak nongkrong di Starbucks tadi adalah temen kita), ato bahkan nyalahin Tuhan.... doh!
Tanamkan ini secara sadar dalam diri kita bahwa setiap kita mengambil keputusan, kita sudah mempertimbangkannya secara masak-masak dan kita siap dengan konsekuensi terburuk yang bisa menimpa kita atas keputusan tersebut.
Ketika keputusan sudah diambil, kita harus siap dengan segala konsekuensinya dan tidak ada satupun yang harus disalahkan karena keputusan itu kita ambil dengan akal sehat kita.
Super delalahnya, ternyata realitanya masih belum bisa kita perkirakan dan terjadi sesuatu di luar 50 skenario yang kita buat tadi, maka itu masih dalam cakupan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil.
Misalnya kita udah di rumah sakit, kaki digipsum karena kita ketiban pohon yang jatuh karena ketiup angin.
tiba-tiba kita terpikirkan
Skenario C. Pulangnya naik Uber aja dan motor biarin aja di parkiran.
Eiiit... tetep ga boleh kesel dan marah-marah karena kita mengambil keputusan yang salah.
Yang terjadi sudah terjadilah dan kita harus hidup dengan konsekuensi yang ada dan ambil yang terbaik dari apa yang ada.
Jadikan ini sebagai pengalaman dalam hidup kita untuk memperbaiki diri kita di masa yang akan datang.
Karena, keputusan apapun yang kita ambil, kalo emang mau ada hal buruk yang terjadi pada kita, ga perduli dimanapun kita berada, yang namanya takdir ya takdir aja.
Kita udah naik Uber nih, nyaman dong. Disopirin, ga kena hujan... eh tahu-tahu mobilnya ditabrak ama pengemudi motor yang memutuskan untuk menerobos hujan. eh, tahu-tahunya mobilnya ketiban pohon yang ketiup angin kencang.
Begitulah hidup kita, kalo kita terus menerus takut mengambil keputusan karena hal buruk akan terjadi, yang akan terjadi adalah kita menunggu hujan reda... eh tiba-tiba mall-nya kena bom.
Yupz... keputusan apapun yang kita ambil dalam hidup ini, akan selalu ada konsekuensi buruk yang bisa terjadi.
Perlu bagi kita untuk selalu berpikir optimis sehingga skenario-skenario buruk yang bisa terjadi dalam hidup kita ini. Tapi jangan sampai skenario itu terlihat dalam perbuatan kita. Perbuatan kita dalam hidup ini haruslan mencerminkan keoptimisan karena kita tahu bahwa sebesar-besarnya peluang hal buruk untuk terjadi, maka peluang hal baik untuk terjadi juga lebih besar.
Meskipun peluang kita nerobos hujan ini dengan kondisi selamat tiba di rumah dan tetap sehat besok paginya adalah hanya 2%, jangan percaya ama statistika sepenuhnya. peluang sebesar 2% tersebut bisa saja meningkat menjadi 99% karena kita sudah menempuh langkah-langkah untuk memastikan agar 49 skenario buruk lainnya tidak terjadi.
Dalam hidup kita, tentu saja keputusan yang kita ambil tidak hanya sebatas itu. Bayangkan dalam keseharian kita, bahkan kita harus mengambil keputusan yang menyangkut dengan nasib orang lain. Bayangkan jika ketika kita terjebak hujan tadi tidak sendirian, melainkan berdua bersama teman. Kita mungkin sudah siap untuk hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil, namun apakah kita yakin dengan teman kita??
TERSERAH, itu juga merupakan sebuah keputusan yang kita ambil. Maka dari itu, berhati-hatilah ketika kita mengatakan kata tersebut. Ketika kita mengatakan terserah kepada orang lain, maka kita mengatakan bahwa kita siap dengan konsekuensi atas keputusan yang diambil oleh teman kita tersebut. Jadi, kalo dalam benak kita masih cuma bisa memikirkan 10 skenario saja? jangan sembarangan bilang terserah. Karena akan banyak hal yang bisa terjadi di luar dugaan kita.
Contoh sederhana adalah untuk pengambilan keputusan untuk makan siang,
Mau makan di mana?
jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah keputusan. Akan sangat lebih baik jika dijawab dengan sebuah ketegasan, "Yok kita makan pecel ayam aja". Ketika keduanya setuju, maka dunia aman...
Tapi ketika kalian mau jawab, "Terserah." Pastikan kalian siap untuk tidak mengeluh ketika keputusan dibuatkan oleh orang lain.
Tiba-tiba diajak makan Soto Betawi, "Ehh... aku ga suka santan"
Diajak makan Sate Kambing, "Hmm... ga bisa makan kambing"
Diajak makan Gado-gado, "Duh... kayanya ga kenyang deh"
Pindah ke Ayam Penyet, "Wah... sambelnya kayanya pedes banget"
Tiba-tiba jadi pengen nabok ga sih???
Jadi jangan pernah membuat pengambilan keputusan pada diri orang lain menjadi lebih sulit daripada yang seharusnya. Hindari kata terserah, ketika kita memang ga siap dengan konsekuensinya. Bukalah diskusi instead of bilang terserah.
"Hmm... aku pengen makan yang berkuah dan anget-anget nih... tapi ga suka daun bawang"
"Hmm... aku pengen makan yang ga terlalu bikin kenyang, apa yaa...?"
Jadi, kalo QQ sampe bilang terserah. Itu artinya beneran terserah, ga ada arti lain. Karena sebelum QQ bilang terserah, ada ratusan skenario yang sudah berlangsung di kepala QQ yang kayanya QQ cukup yakin bahwa itu sudah termasuk dengan skenario-skenario yang kalian pikirkan, hahaha...
Bayangkan apalagi kalo kita adalah seorang Presiden RI yang keputusannya mempengaruhi 250juta jiwa di Indonesia dan bahkan beberapa juta orang di negara lain?
Be brave... make your decisions and live the consequences...
If it's good, praise the Lord and if it's bad, fix it and salvage what's best.
Think pessimistic, live optimistic dan siaplah hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang kita ambil.
Lagi iseng nonton tv beberapa hari yang lalu sambil lari-lari cantik di treadmill di sebuah gym kenamaan, dan melihat berita di E! Channel dan isinya adalah bahwa pada malam penganugerahan Piala Oscar, tweet terkait Leonardo DiCaprio menang Best Actor mengalahkan tweet foto selfie-nya Ellen Degeneres pada Oscar tahun lalu. Kalo ga salah inget, 400k buat Leo dan 200k buat Ellen.
OOT bentar, yeah, I think, after watching Revenant, if Leo didn't get the oscar, then I don't know what else can you do to get an Oscar. He eats carcass For got sake! eww...
Nih pokoknya pemikiran terjadi di atas treadmill sambil ngos-ngosan. Wait a minute, Statistika... apakah itu benar adanya??
kita buat sebuah hypothetical scenario (sepenuhnya fiktif), kita sebut malam penganugerahan Oscar dengan Night 01.
Night 01 : 400k tweets for Leo dan 200k tweets for Ellen
Night 02 : 100k tweets for Leo dan 300k tweets for Ellen
Night 03 : 50k tweets for Leo dan 150k tweets for Ellen
Night 04 : 80k tweets for Leo dan 100k tweets for Ellen
Night 05 : 0 tweets for Leo dan 50k tweets for Ellen
disclaimer:
I'm not a communication specialist, so pardon me for bad or wrong usage of communication terms.
Jadi ketika anda adalah penggemar Leo, maka framing pemberitaan yang anda buat akan sesuai dengan agenda setting yang anda tentukan, yakni "I'm all for Leo". Maka headline yang akan dihasilkan dengan agenda setting dan framing tersebut dengan menggunakan data statistika yang tersedia adalah, "Leo's tweets beat Ellen" atau kalo mau jujur dikit, "Leo's tweets beat Ellen on the Oscar Night", namun ga semua penyampai fakta kadang sejujur itu. hahaha...
Kalo mau kita tanya kembali, apakah ada kebohongan di sana?
Tidak.
Hanya saja ada penyampaian secara parsial terhadap data statistik yang tersedia untuk mendukung agenda yang kita ingin sampaikan.
Counter untuk hal tersebut dengan mengasumsikan bahwa anda adalah penggemar berat Ellen dan ga terima dengan berita tersebut adalah dengan memperhatikan data statistik selama 5 malam tersebut. Kalau kita perhatikan lagi dengan seksama data fiktif yang tersedia di atas. Benar bahwasanya Tweet untuk Leo mengalahkan Ellen di malam penganugerahan oscar, namun malam-malam berikutnya, jumlah tweet untuk Leo semakin menurun. Maka kemudian dapat kita hitung akumulasi selama 5 malam tersebut dan kita dapatkan total: 630k tweet untuk Leo dan 800k tweet untuk Ellen.
another disclaimer:
I have nothing against Leo and/or Ellen, this is just for the sake of an example.
Jadi kalo agenda setting yang kita siapkan adalah untuk "I'm all for Ellen" sehingga framing yang akan kita pilih tentu saja hal yang menguntungkan Ellen, maka counter headline yang bisa kita buat adalah, "Ellen's have the most tweets of all-time"
Nah, dengan contoh yang panjang tersebut, kadang orang bilang soal statistik tuh bahwa, "Angka sudah berbicara", "fakta sudah berbicara"
Yes, I will have a lot of disclaimer in this blog:
Yes I have statistics.
Oh wait... this is not a disclaimer... more of a statement...
hahahaha...
Tapi, seperti yang kita lihat dari dua headline yang bisa dihasilkan dari data yang sama. Kebayang ga apa yang sering kita dengar dalam keseharian kita sehubungan dengan data-data statistik yang disajikan dalam iklan misalnya.
"9 dari 10 wanita menyukainya"
"tested on Asian Men and 90 have impacts"
"7 dari 10 pria memilih produk kami"
Kita sebagai penerima informasi terkadang tidak mengetahui data yang ada di balik angka tersebut bagaimana, bahkan lebih jauh lagi, kita dapat mempertanyakan terkait sample mana yang mereka gunakan.
Bisa saja kita menggunakan 10 pegawai yang ada di kantor kita untuk menguji coba produk kita (tentu saja ini tidak etis, namun untuk ekstrimisasi contoh aja), bisa saja karena takut dipecat atau apa, kemudian ke sepuluh orang tadi mengatakan puas terhadap produk kita. Kemudian kita menyatakan, "10 dari 10 puas terhadap produk kami"
Bisa itu terjadi? bisa....
Dalam dunia ini selalu ada dua sisi pendapat, bahkan terkadang lebih. Oleh karena itu, seyakin apakah kita dengan apa yang kita lihat dan dengarkan?
Statistika memiliki kekuatan yang luar biasa karena banyak dari hal yang disampaikan oleh orang-orang memiliki landasan statistika dan didukung oleh angka-angka yang diklaim sebagai sebuah fakta hasil penelitian.
Blog ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan statistika, karena agenda setting dan framing QQ adalah, "I hate statistics", melainkah untuk memberikan sebuah woro-woro, karena terkadang orang ketika sudah melihat angka hasil olahan data statistika seketika itu langsung merada benar.
Selalulah jaga agar pikiran kita terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Jangan sampe dua sahabat bertengkar karena data statistika terhadap presiden yang mereka dukung bertentangan. Padahal kita semua tidak pernah tahu dan yakin terhadap metodologi penelitian dan bagaimana data tersebut diolah.
Karena dalam berita yang kita baca, ada sebuah agenda setting yang terselip di sana. Sebuah contoh bagaimana kita bisa mengemas berita ke dua arah yang berbeda.
Ini QQ rasakan ketika peristiwa bom di Sarinah.
Perhatiin ga bedanya ama peristiwa-peristiwa bom sebelumnya?
Yang biasanya jadi makanan pemberitaan adalah kisah keluarga korban, betapa sedihnya kehilangan, yang digambarkan adalah betapa peristiwa tersebut mendatangkan great sorrow untuk para korban dan kemudian akan muncul hashtag #prayfor.
Namun kemudian, ketika bom sarinah, sempet muncul sesaat hashtag #prayforJakarta, namun sesaat kemudian, ada agenda setting yang baru dan mengambil tempat menggantikan hashtag sebelumnya dengan #JakartaBerani. QQ emang jarang nonton berita, tapi untuk peristiwa Bom Sarinah tersebut, eksploitasi terhadap korban pemboman tersebut sangat kurang. Padahal korban tewasnya ada dan ga cuma satu.
Namun karena agenda setting yang ditentukan adalah untuk menunjukkan bahwa Jakarta tidak takut dengan teroris, headline diarahkan ke pemberitaan bahwa Jakarta berani dan malah yang muncul adalah meme untuk menjadikan kejadian tersebut sebagai lelucon.
Poin yang ingin disampaikan di sini adalah, terkadang pihak tertentu tuh memiliki agenda setting yang inign mereka capai, dan data statistika sebagai data pendukung bisa saja bertindak sebagai pedang bermata dua. Yang mereka pilih tentu saja bukan data yang menentang agenda mereka, namun mereka akan memilih data-data yang mendukung agenda yang ingin mereka luluskan.
Keep an open mind and ready to argue of what you think is right.
Namun selalu ingat, tidak mengapa jika ending-nya adalah "We agree to disagree"
Hidup terus berlanjut dan jangan sampai sebuah hubungan baik terpecah karena kita memiliki filosofi yang berbeda. Buka pikiran untuk "saya benar dan anda juga mungkin benar, menurut versi kita masing-masing."
Paling konsekuensinya ya, "lakum diinukum wa liyadiin" dah...
Silahkan jalani hidup dengan apa yang kita percayai benar, dan jangan saling mengganggu.
:D
Sebuah pertanyaan sederhana pada orang yang bekerja sebagai teller bank.
"Siapakah konsumen anda?"
Mungkin ada yang akan menjawab,
"Konsumen saya adalah nasabah yang tiap hari datang untuk dilayani urusan perbankannya"
Kemudian ada yang menambahkan,
"Konsumen saya selain nasabah juga adalah atasan saya karena saya melapor dan bertanggung jawab kepadanya"
Kemudian ada lagi yang menjawab,
"Ya, selain dua tersebut, konsumen saya juga adalah rekan kerja yang bekerja bersama saya baik satu departemen maupun berbeda departemen termasuk office boys dan office girls"
Kemudian ada seseorang yang kemudian menambahkan,
"Konsumen saya adalah Tuhan YME"
Yah... ini blog sebagian marketing, sebagiannya kayanya masuk kategori kerohanian lah... hahaha...
Nah, jika kamu ditanya tentang pekerjaan kamu, sampai manakah kamu akan menjawab, "Siapakah konsumen anda?"
Jika kamu bertanya-tanya kenapa juga itu ada gambar makanan kucing yang QQ pilih, maka baca blog ini sampe selesai dan temukan jawabannya... #promo #wink
Menurut QQ, untuk belajar mengenai siapa sebenarnya konsumen kita, paling tepat dari produk makanan hewan peliharaan, hanya saja karena QQ demennya ama kucing, jadilah makanan kucing yang dipajang.
Kalo kita pikir, "Siapa sebenarnya konsumennya makanan kucing?"
Jawaban polosnya bisa saja "Kucing..."
Tapi kemudian, anggaplah kita produsen makanan kucing tersebut, akan muncul pertanyaan, "Apakah Kucing yang akan berjalan ke toko dan mengeluarkan uang untuk membeli produk kita?"
Maka kemudian jawabannya akan menjadi, "Tentu saja tidak"
Jadi, siapakah konsumen sesungguhnya dari produk makanan kucing tersebut?
MANUSIA.
Terlepas dari manusia mengkonsumsi makanan tersebut atau tidak, yang akan mengeluarkan uang untuk membeli produk kita adalah manusia selaku pemilik hewan peliharaan tersebut.
Maka hal tersebut akan menjawan pertanyaan,
"Kenapa kemasan makanan kucing harus bagus?"
"Kenapa makanan kucing mencantumkan fungsi seperti mengatasi bola bulu, memperlancar pencernaan, menghilangkan aroma busuk pada kotoran, dan sebagainya?"
"Ngapain makanan kucing punya rasa Ocean Whitefish and Tuna Dinner, Turkey and Giblets Dinner dan Mixed Grill...?"
Emangnya kucing ngerti itu semua?
Kalo kucing datang ke pet store dia bisa pegang dagu sambil mikir, "Hmm... kayanya hari ini mau nyobain yang rasa ikan salmon karena itu bagus untuk pencernaanku..."
NO... a very big NO!!!
Karena konsumen sesungguhnya dari makanan kucing, bukanlah kucing. Melainkan pemiliknya. Sehingga 4P alias Product, Placement, Promotion, Price-nya adalah ditujukan kepada manusia.
Sehingga untuk Produk-nya dibuat sebagus mungkin kemasannya dengan warna, gambar dan rasa-rasa yang menarik, yang dimana kucing tidak akan mengerti. Kadang QQ mikir, kalo kucing dikasih yang rasa salmon ama dikasih rasa tuna, emang kucing bakal prefer salah satunya dan ga bakal memilih yang lainnya? kayanya sih bakal dimakan semuanya sampe kenyang. Kalo ga kemakan, bukan karena ga suka, tapi karena udah kenyang.
Nah kembali ke pertanyaan awal tadi, "Siapakah konsumen anda?"
jika kita menggunakan contoh Teller tadi,
Maka ketika kita menjawab konsumen kita adalah nasabah, yang akan kita lakukan adalah memenuhi keinginan nasabah kita dan membuatnya bahagia sekalipun atasan kita ataupun rekan kerja kita ga seneng. Karena nasabah kita adalah konsumen kita dan kita harus mengutamakan kepuasan konsumen bukan? Ketika Nasabah minta uang, kita harus kasih... karena Konsumen adalah raja.
Maka dari itu, kita harus menyadari bahwa atasan kita adalah konsumen kita juga, ketika kita hendak memenuhi keinginan nasabah yang tidak beralasan, kita ingat kalau atasan kita juga adalah konsumen kita, sehingga apa yang dipikirkan oleh atasan kita menjadi pertimbangan dalam tindakan yang kita ambil. Namun kemudian, nasabah puas atasan puas, lantas tindakan yang kita ambil memancing kebencian dari rekan kerja... bahaya...
Makanya kita harus menyadari bahwa rekan kerja kita adalah konsumen kita juga, sehingga tindakan yang kita ambil tidak hanya membuaskan nasabah dan atasan, namun juga jangan sampai membuat rekan kerja kita jadi tidak suka. Ini dikenal dengan konsep Know your 360 degrees consumer. Kalo belum ada yang menerbitkan ide ini, maka QQ mengklaim ide ini... hahaha...
Nah kemudian, pertanyaan sesungguhnya muncul, yakin hanya itu nasabah kita?
Bagi para atheist, mungkin itu adalah jawaban yang ada. Namun, jika kita pikirkan sekali lagi, "Siapakah konsumen kita sesungguhnya?"
Kalo menurut QQ, jawabannya adalah "Allah swt"
"Dan tidaklah diciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Allah swt"
Ketika seseorang memberikan pelayanan yang buruk atau melakukan korupsi dalam pekerjaan mereka, maka sesungguhnya orang tersebut lupa bahwa ada satu lagi konsumen yang harus dia senangkan, yaitu Allah swt, Tuhan YME. Semua tindakan yang kita lakukan tidak hanya dalam pekerjaan kita, namun juga dalam kehidupan kita sehari-hari harusnya untuk menyenangkan konsumen kita.
Terkadang kita harus melakukan hal yang membuat atasan kita benci. Misalkan, atasan kita memaksa kita untuk melakukan hal yang melanggar hukum. Maka jika pemikiran kita soal konsumen hanya sebatas atasan kita, kita akan melakukan hal tersebut. Namun jika kita mengetahui bahwa Konsumen kita yang sesungguhnya adalah Allah swt yang juga merupakan konsumen orang tersebut (dengan asumsi, agamanya sama), maka kita akan menolak perbuatan tersebut, meski dengan risiko kita akan mendapatkan sentimen negatif dari atasan kita.
Jadi, perhatikanlah setiap tindakan kita baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari, "Siapakah konsumen anda" melalui konsep 360 degrees consumer merupakan pihak-pihak yang harus kita puaskan. Namun pada ujungnya, konsumen kita yang sesungguhnya hanya satu. Namun istimewanya konsumen utama kita tersebut adalah, Dialah yang memberikan kepada kita rejeki, udara untuk bernafas, bumi untuk kita tinggali dan segala sesuatu yang kita miliki. Sehingga meskipun bos kita tidak suka, selama konsumen kita yang satu itu tetap bahagia dan tersenyum kepada kita, hidup akan menjadi tenang.
Namun sebalinya, jika kita mengejar dunia semata dan melupakan konsumen utama kita, maka hidup kita akan bahagia sesaat di dunia saja.
Bayangkan jika kemasan makanan kucing dibuat untuk kucing, mungkin kemasannya hanya akan bergambar ikan mas yang baru abis digoreng dengan plastik warna hitam.
Begitulah hidup kita ketika kita salah mengenali siapa konsumen kita yang sebenarnya. Ga jelas arah hidup kita ini mau gimana dan mau dibawa kemana.
Kenalilah siapa konsumen anda!
Ilustrasi di samping mungkin menggambarkan sekali apa yang ada dalam kepala seorang introvert. Bisa saja kita melihat seorang introvert sebagai seorang yang sangat pendiam, namun percayalah, bahwa di dalam kepalanya terdapat sebuah keramaian yang sangat ingin keluar dan diungkapkan menjadi sebuah pendapat.
Di sini adalah perbedaan utama antara cara berpikir seorang introvert dan extrovert. Bukan berarti QQ bilang bahwa seorang extrovert kalo ngomong kadang kaya ga dipikir dulu, tapi kenyataannya terkadang seperti itu.
Pernah ada sebuah teori yang bilang kalo seorang Introvert bisa menjadi seorang pemimpin yang sangat efektif, dengan alasan bahwa introvert banyak menghabiskan waktu untuk mendengar daripada berbicara. Kemudian karena terlalu banyak mendengar tadi, seorang introvert akan berbicara setelah mempertimbangkan pendapat-pendapat yang masuk. Hanya saja, terkadang seringkali seorang introvert tuh 'kecolongan' alias keduluan ama orang lain. Hanya saja, justru itu membantu karena bagi seorang introvert, ga penting juga kalo dia yang ngomonginnya, yang pentin adalah opini tersebut tersampaikan.
Contoh skenario yang berkecamuk dalam pikiran seorang introvert sebelum dia ngomong:
"Pendapatku ini terdengar bego ga ya...?"
"Ah, kayanya semua orang udah tahu, ga usah diomongin lah..."
"Ini bukan wilayah keahlianku untuk ngomong"
"Aku mah apa atuh..."
dan banyak lainnya, sehingga banyak (tapi tidak semuanya) introvert menjadi terkesan pendiam. Kebanyakan mikir sehingga terkadang ketika keberanian itu udah muncul, antara orang udah pindah ke topik lain atau muncul kembali pemikiran, "ya udahlah... keep it to myself saja..."
Dalam hidup QQ tuh sering kadang merasa kecolongan dalam hal berpendapat, karena alasan utamanya adalah takut merasa bodoh dan merasa inferior dibandingkan dengan orang yang ada di sekitar kita.
Ini adalah saatnya introvert untuk belajar untuk bicara....
Skenario-skenario yang QQ ungkapkan di atas adalah hal yang selalu berkecamuk dalam kepala QQ. Mungkin inilah yang terjadi ketika introvert (I) berkombinasi dengan feeling (F). lengkapnya, Myers-Briggs QQ adalah ISFP. Kebanyakan mikir tapi pake-nya perasaan.
Ini QQ rasakan banget pada suatu meeting kemaren dan beberapa meeting sebelumnya. Ada beberapa meeting dimana QQ akhirnya berhasil mengungkapkan buah pikiran namun ada aja yang berakhir dengan, "Ya sudahlah, not my problem ini..."
Namun, pada rapat kemaren, QQ merasakan sesuatu... "Enak rasanya didengarkan..."
Siapalah QQ tuh dalam strata ke-PNS-an... hanya rakyat jelita yang menempati kasta terbawah. Namun pekerjaan yang QQ punya terkadang bisa membuat QQ ketemu dan rapat sama orang-orang yang bisa membuat keputusan, sehingga pada suatu tahapan, apa yang QQ ucapkan, bisa mempengaruhi sesuatu.
Itu yang terkadang membuat QQ ingin speak up tapi sekaligus takut untuk speak up.
Di satu sisi, QQ ingin membuat perubahan, tapi di sisi lain, QQ ga mau speak up untuk kemudian terlihat bodohnya. hahahaha....
Kemarin QQ menghadiri sebuah rapat yang membahas permasalahan terkait dengan alokasi dana. Yang hadir adalah pejabat-pejabat yang minimal setara ama bos-nya QQ. Naasnya, pada rapat itu QQ disuruh sendirian datang tanpa ditemeni bos. Pada suatu topik tertentu, QQ merasa sangat-sangat strongly terhadap bahasan yang sedang dibahas. Namun, segala pikiran negatif itu muncul di kepala QQ yang membuat QQ ragu untuk angkat tangan. Satu persatu peserta rapat dimintai pendapat yang mewakili instansinya masing-masing.
Kadang ini tuh emang cuma perasaan doang ato emang beneran, QQ ga tahu juga. Asli QQ ga dimintai pendapat. Sampe terakhir pemimpin rapat bilang, "Masih ada yang ingin disampaikan...?"
Dengan memutus rantai pemikiran yang panjang tadi, QQ nekad angkat tangan dan Pemimpin rapat meng-acknowledge QQ. Eh tiba-tiba ada orang nyela... dan akhirnya didengarkanlah opini orang tersebut... bla-bla-bla... kemudian asli QQ ngerasa dilupakan. Padahal tadi pimpinan rapatnya udah bilang, "Ya, nanti abis itu Rizky ya..."
Diskusi kembali bergerak dan kejadian QQ angkat tangan tadi terlupakan kayanya. Buah pikiran yang berseliweran di kepala QQ antara lain:
"Ah, yang hadi di sini adalah para pakar-pakar dan pejabat yang sudah sangat berpengalaman di bidang mereka masing-masing"
"Kayanya hal yang mau QQ ungkapin ini terlalu remeh, masa sih mereka ga kepikiran?"
"Mungkin karena itu QQ diabaikan karena masih bau kencur"
"Ya sudahlah diem aja lah..."
Tapi anehnya, hari itu QQ merasa sangat strongly tentang apa yang ingin QQ ucapkan. Sampai akhirnya kayanya jalur syarafnya udah lewat tulang belakang, udah ga lewat otak lagi dan QQ sekali lagi mengangkat tangan dan mengungkapkan ide QQ yang dari tadi terpendam.
Ketika akhirnya QQ memutuskan untuk speak up, QQ udah tahu kira-kira arahnya ini bakal kemana,
bad scenario-nya adalah:
"Ya, opini QQ emang udah terlalu mendasar dan itu tentu saja sudah diantisipasi oleh para pemikir yang hadir pada pertemuan tersebut..."
or, good scenario-nya adalah:
I will bask in the fucking glory and self fulfillment that will lead me feel good about myself.
Buat kamu para introvert di luar sana, terkadang risiko yang kita tempuh untuk speak up tuh emang sangat besar, hanya saja karena return yang akan kita dapatkan sangat besar juga. Ini adalah sebuah pemikiran yang bisa menambahkan hal yang terpikir ketika kamu berada di ambang antara speak up atau tidak. Lakukan cost and benefit analysis terhadap probability dampak dari ucapanmu... NOT!!!!!!!!!!!!!!
Ambil jalur singkat, speak up dan orang yang ga suka, can suck it up and life goes on.
Kemaren tuh, I got the best feeling ketika pimpinan rapatnya bilang, "Point yang disampaikan Rizky sangat valid..."
wah... berbunga-bunga rasanya, ternyata skenario yang berkecamuk dalam otak QQ tuh ga sepenuhnya benar.
Ini udah bukan saatnya bagi introvert untuk duduk di ujung dan tidak diperhatikan karena takut berbicara. Think of this from the marketing point of view. QQ selalu percaya bahwa tidak ada publisitas yang buruk. Kita bisa saja dikenal orang karena kebodohan kita atau karena kecerdasan kita, ga ada bedanya. Yang penting di sini adalah "DIKENAL DULU", ketika orang sudah mengenal kita, maka sisanya tinggal gimana kita membalikkan situasi dari negatif menjadi positif.
Belajar ama iklan, "Kabar gembira untuk kita semua.... kulit manggis kini ada ekstraknya..."
Bayangkan betapa iklan tersebut pada awalnya mendapatkan serangan bombardir dari penghuni jagat internet, namun apa sisi positifnya. Semua orang menyanyikan jingle tersebut bahkan ada game yang bertemakan kulit manggis itu.
Jadi ketika kita mau mengungkapkan pendapat kita, ga usah terlalu banyak mikir bahwa kita akan dianggap orang bodoh, tapi paling tidak, kita sudah ngomong dan kita perhatikan ada ga satu dua orang yang mengingat nama kita.
Masalah ternyata omongan kita tuh dianggap positif atau negatif, itu hanya bonus. Namun sebagai seorang introvert, kayanya opini yang keluar tuh pasti sudah melalui berbagai saringan dan bisa saja opini kita merupakan opini yang tidak dilewatkan semua orang. Terkadan anak kecil aja bisa mengungkapkan sesuatu yang dilewatkan oleh orang-orang dewasa, karena bisa saja hanya kita yang tahu soal topik tersebut dan disitulah peranan kita untuk mengingatkan.
Yah, QQ juga nulis blog karena ga berani ngungkapin suatu hal secara langsung. Bisa saja ada orang yang setuju, ada juga yang ga setuju.
Tapi bedanya tulisan dan pendapat adalah, feedback-nya tidak kita rasakan langsung. Kalaupun ada yang komen negatif, peduli amat lah.... hahahaha...
So, SPEAK UP INTROVERTS !!!!!!!
Pendapat yang sepenuhnya sampah emang ada, QQ ga bilang semua pendapat tuh pasti bagus dan bermanfaat untuk semua. Namun ada kalanya sampah bagi kita merupakan harta bagi orang lain. think about that!
Pernah denger proverb ini?
"Never explain yourself. Your friends don't need it, your enemies won't believe it"
Kita kadang menghabiskan waktu terlalu banyak dan energi terlalu besar untuk berusaha menjelaskan tentang diri kita kepada orang lain yang belum tentu cukup perduli untuk memperhatikannya. Sehingga akhirnya kita menjadi kesal sendiri dan ujung-ujungnya ngambek dan marah.
QQ biasanya kesal setengah mati kalo ada yang kirim broadcast message di BBM. Biasanya dulu banyak yang QQ lakukan untuk membuat orang tersebut mengerti betapa ga sukanya QQ ama BM. Awal-awal metode yang QQ tempuh adalah, "taste your own medicine". QQ akan menuliskan betapa ga sukanya QQ dengan BM dan mengirimkan ke orang tersebut melalui metode MB juga, tapi hanya ke orang tersebut. Tapi kebayang ga sih melelahkannya metode itu? dan ternyata setelah semua yang QQ lakukan, orang tersebut nggak merasa apa-apa.
Metode kedua adalah secara blak-blakan QQ kirimin pesan dan QQ bilang kalo QQ ga suka BM. Biasanya orang tersebut akan bertanya kenapa QQ ga suka BM. Dan yang QQ lakukan adalah menghabiskan waktu dan energi untuk berusaha menjelaskan ke orang tersebut perihal kenapa QQ ga suka BM. Ada yang mengerti dan ada yang tidak. Tapi BM tuh penyakit, apalagi kalo mendekati hari raya, kebayang dong betapa banyaknya QQ harus memberikan penjelasan ke orang-orang yang bahkan mungkin baru kirim pesan pas momen lebaran itu aja, dan kemudian orang ngirim BM buat maaf lahir bathin, ujung-ujungnya malah marah-marahan via BBM. Ga elegan!
Berusaha menjelaskan diri kita ke orang lain itu adalah sebuah pekerjaan yang melelahkan. Karena, faktanya adalah tidak semua orang yang mendapatkan penjelasan itu akan mengerti cara berfikir kita. Fakta lain adalah wavelength pikiran masing-masing orang berbeda, terkadang rasanya tuh kita sama-sama bicara bahasa Indonesia, tapi susah dimengerti.
Jadi kemudian, apa yang QQ lakukan sekarang tiap kali dapet BM?
simple... Delete Contact.
Ga perlu penjelasan dan dijamin BM ga bakal berulang dari orang yang sama.
Pernah ada yang baca blog QQ yang satu ini:
http://chronovinc.blogspot.com/2012/03/personality.html
Setiap orang tuh kadang punya sebuah kondisi yang disebut dengan "prasangka." Prasangka ini bisa muncul karena banyak hal. Pengalaman hidup, stereotype, apa kata orang, dan lain-lain. Sangat sulit bagi kita untuk membersihkan pikiran kita ketika kita men-judge orang lain dari segala prasangka-prasangka yang kita miliki sebelumnya.
Contoh:
Kita melihat seorang laki-laki yang berjenggot bak sarang lebah dan menggunakan pakaian berwarna putih.
Di Indonesia kita akan mengasosiasikan orang tersebut sebagai alim, namun di Amerika sana, sangat mudah orang akan mengasosiasikan orang tersebut sebagai teroris. Nah, uniknya lagi manusia ini, akan sangat mudah merubah sebuah image yang positif menjadi negatif, dibandingkan dengan mengubah sesuatu yang negatif menjadi positif.
Butuh waktu dan argumen yang lebih mudah untuk mengubah prasangka kita terhadap orang tadi sebagai orang yang alim menjadi teroris, dibandingkan dengan merubah prasangka terhadap orang tersebut sebagai teroris ke arah orang yang alim.
Prasangka ini dapat juga dikenal dengan "kesan pertama" dan merubah kesan pertama orang lain terhadap kita tuh akan sangat sulit.
Sebagai contoh, dulu banyak orang bilang kalo QQ tuh sombong dan QQ lagi-lagi selalu menghabiskan waktu menjelaskan kepada orang tersebut bahwa yang QQ lakukan itu (menurut QQ) bukanlah sombong. Penjelasan panjangnya ada di sini:
http://chronovinc.blogspot.com/2010/03/jangan-sebut-aku-sombong.html
Jadi, tak perduli apapun yang QQ jelaskan pada orang untuk jangan sembarangan menggelari orang dengan gelar "sombong", namun dalam pembicaraan kasual kadang orang santai aja bilang, "Ih lama banget ga ketemu, sombong deh." Yah, akhirnya ada kalanya capek aja ngasih penjelasan dan jadilah... whateverrrrrrrr...........
Jadi, kalo orang sudah memiliki "prasangka" terhadap diri kita, yang harus kita analisa adalah, "Penting ga sih orang ini di hidup kita?"
kalo jawaban atas pertanyaan itu adalah "NGGAK", maka simple... Never explain yourself to them.
Jika kalian termasuk orang yang suka memiliki prasangka, maka hal tersebut tidak terlalu masalah, karena sebagai manusia yang berfikir, sudah sesuatu yang alami untuk memiliki prasangka terhadap setiap yang kita lihat. Karena kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda.
Dua orang melihat perempuan berjilbab akan memiliki prasangka yang berbeda.
A: Dia adalah perempuan yang taat Agama
B: Biasa aja, paling cuma menuhin kewajiban aja
Oh ternyata si A ini tumbuh besar di lingkungan pesantren sementara si B ini kerjaannya dugem dan pernah ngelihat perempuan berjilbab sedang ngisep kokain (misalnya lohhhhh.... misalnyaa....)
Namun prasangka itu akan menjadi baik ketika ia tetap dalam pikiran kita saja dan tidak mempengaruhi tindakan kita dalam bentuk apapun, untuk menjaga personality zero tadi.
Contoh:
Kita ketemu dan kenalan ama seseorang pas lagi dugem di suatu tempat dugem yang paling ngehits di Jakarta...
(QQ mau bilang kalo QQ ga tahu tempat dugem, dimana yaaa... sebut saja Musro... #soklugu)
Trus kita ngobrol nih ama tuh orang, kemudian ada dua skenarioa dialog yang bisa terjadi:
Skenarionya adalah kita menyapa dan semi basa-basi sambil sok akrab.
a. "Wuiiih.... sering dugem nih..."
b. "Sering datang ke sini?"
Terbeda ga? dialog a dan dialog b?
mungkin 70% dari total populasi dunia tidak terlalu mengetahui perbedaannya. Hanya saja kalo bagi QQ, dua kalimat itu memiliki perbedaan yang sangat besar.
melalui kalimat a, secara langsung kita mengatakan orang tersebut "sering" dugem. Dugem bagi sebagian besar orang terkadang masih diartikan negatif. Lalu mungkin kita berfikir, "Kalo emang ga mau, ya ga usah dugem." Secara tidak langsung kita tidak membuka diri terhadap peluang-peluang yang ada.
dengan kalimat b, kita bertanya... bukan men-judge. Bisa saja orang tersebut menjawab, "Iya, aku tiap hari ke sini" atau orang itu bisa menjawab, "Nggak juga, ini juga kesini karena dipaksa temen yang lagi ulang tahun"
jadi, dengan kalimat a, kita secara tidak langsung membuat seseorang menjadi tertuduh. Dugem mungkin bukan contoh yang representatif, namun bayangkan ketika kita menggunakan kalimat tersebut untuk hal lain yang mungkin bisa membuat orang tersinggung. Lebih seringlah menggunakan kalimat b yang bersifat interogatif, bertanya dan tidak men-judge.
Nah, kalo mendapatkan seseorang mengatakan kalimat a pada QQ, maka respon QQ biasanya adalah defensif dan siap menjelaskan.
Tapi sekarang, kembali ke pertanyaan tadi, "Penting ga sih orang ini di kehidupan QQ?"
Namun terkadang pada akhirnya QQ jadi malas menjelaskan pada siapapun, kalo orang tersebut menggunakan jenis-jenis kalimat a, yang sifatnya langsung men-judge, menuduh dan tidak memberi ruang untuk penjelasan.
Biasanya QQ hanya akan tersenyum, terus life goes on....
hmmm.... kayanya seantero blog ini juga merupakan cerita-cerita yang menjelaskan tentang siapa diri QQ.
Jadi, kalo misalkan ada orang yang butuh penjelasan... QQ tinggal refer aja ke link yang sana dan link yang sini biar orang itu membaca. Because explaining myself is too tiring because I am a complex human being.
secara umum, semua manusia itu kompleks. Sehingga kita memang harus senantiasa mengambil waktu untuk berusaha mengenal dengan banyak bertanya sebelum kita melontarkan kesimpulan. Bahkan, sebaiknya jangan pernah membuat kesimpulan tentang seseorang, karena kita tidak pernah bisa yakin kalau kita mengenal orang tersebut 100% luar dan dalam.
Tetaplah bertanya... dan QQ akan dengan senang menjelaskan.
Yes, I finally bought a raincoat...
Musim hujan udah berlangsung dari bulan Desember kemaren, tapi QQ beli jas hujan baru awal Maret, dan ini ga ada hubungannya sama sekali ama tanggal gajian. QQ bukan seorang yang superstitious tapi QQ selalu percaya ama sesuatu yang namanya "keberuntungan". Yah, bisa saja itu cuma kebetulan doang sih, tapi kalo kebetulan berulang-ulang, hmm... ada sesuatu di sana.
Kaya misalnya nih, hujan deres pas lagi di gym. Eh tahu-tahu pas kelar dan keluar mau pulang, hujan stop. Pernah juga pagi-pagi, hujan deressss, tahu-tahu pas mau berangkat hujan stop dan yang lebih pasnya lagi, pas udah sampe kantor, baru abis naruh motor di parkiran, hujan deres lagi... cakep kan?
Makanya QQ belum memandang keperluan yang amat mendesak untuk memiliki jas hujan, karena anehnya selalu aja ada kebetulan yang terjadi.
Tapi pagi ini, I have to pay the price for doubting my luck... T . T
Oke, begini ceritanya...
(ngarepnya sih ini bakal jadi cerita yang lucu.... semoga aja penulisannya akan seindah yang ada dalam bayangan QQ..)
Pagi ini alkisahnya langit memutuskan untuk menangis pada pukul 6.30 WIB dan QQ langsung aja dong mata putih ala-ala Storm trus eh, hujannya stop jam 7.15-an, langsung aja kabur... dan kayanya lupa matiin AC deh, duh moga ada ga ketahuan ibu kost... dan, moga aja tadi ga lupa ngunci kamar...
trus, langsung dipacu itu motor kenceng-kenceng, babat sana babat sini, tiba-tiba hujan gerimis... hajarrrr....
Disini QQ mulai berpikir, "Kayanya ini emang saatnya beli jas hujan deh," eh tapi kemudian hujan gerimisnya stop lagi dan QQ kembali berfikir, "Beruntuuung..." dan rencana untuk membeli jas hujan pun kembali tertunda.
Pas di jalan Garuda Kemayoran sana, tiba-tiba jegerr aja gitu hujannya deres, untung deket Indomaret, jadi sempet kebasahan tapi ga basah kuyup. Jam tangan menunjukkan angka 7:42 WIB dan otak panik QQ mulai mensimulasikan cost and benefit analysis. Yup, kalo panik, QQ jadi pinter tapi mata duitan... hahaha...
Nih kalo hujan ga stop, alamat telat, kalo telat bisa kena potongan tunjangan up to 150-an rebu. hmmm.... kayanya ini emang saat yang tepat untuk beli jas hujan. Niatnya sih mau cari yang sekali pake itu, yang bahannya kaya kresek dan harganya ga sampe 10 rebu. Tapi ga ada dan ada jas hujan beneran dan tinggal satu-satunya pula. Harganya 89 rebu. Okelah, masih di bawah potongan tunjangan. masih ada net-benefit sekitar 60-an rebu.
Pas sampe kasir, eh baru inget ada promonya Rekening Ponsel di Indomaret dimana belanja minimal 50 rebu dan kalo bayarnya pake Rekening Ponsel, bisa dapet Mie Cup housebrand punya Indomaret atau teh botol gitu lupa merek-nya apa. jam menunjukkan pukul 7:44 WIB. (amazing kan? proses penghitungan cost and benefit tadi berlangsung hanya 2 menit)
Pokoknya, kalo lagi panik, setiap detik menjadi berarti. hahaha...
Akhirnya proses bikin kupon, ditungguin setengah menit kok ga ada balesan, eh ternyata salah nomor. hedehhh...
Setelah diulang ke nomor yang benar, akhirnya dapet balasa. Eh ampunnn.... Mbak-mbak kasirnya kayanya agak gaptek dan itu akhirnya menjadi salah satu keputusan yang QQ sesali karena proses di kasir jadi lama. Tepok jidat dah...
Sambil nunggu, ya udah pake jas hujannya deh, biar bisa langsung kabur. Kelar transaksi jam 7:47 WIB dan pas keluar... JRENG-JRENG....!!! hujannya stop...
AAAAAAAARRRRGHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Udah ga sempet mikir lagi, jam udah menunjukkan 7:48 WIB, udah terlanjur panik. Langung deh Pembalap Mode : ON.
Nyampe parkiran langsung taruh motor, sambil lari sambil buka jas hujan. Nungguin lift sambil loncat-loncat ga jelas karena jam tangan udah menunjukkan jam 7:59 WIB. Syukurlah lift langsung ke lantai 5 dan pintu terbuka langsung lari ke mesin absen, syukurlah masih 7:59 WIB (lupa angka detiknya berapa... coba kalo 7:59:59, wah dramatis kayanya tuh... hehehe).
Dan, dari Indomaret sampe kantor, ga hujan sama sekali..... cakeppp....
AAAAAAAAAAAARRRRRGHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Alasan QQ males beli jas hujan selama ini selain karena faktor "keberuntungan" tadi, juga karena motor Yamaha V-ixion tuh ga punya bagasi... jadi tuh jas hujan tuh emang kudu dibawa-bawa. Masuk tas berat, menggelantung di setir, ga cantik... suse emang anak muda.
Tapi ya... meski untuk alasan yang salah yakni, "Meragukan keberuntungan", akhirnya QQ punya juga jas hujan.
Masalah yang ada sekarang adalah, mau diapain tuh jas hujan???
Ini sekali lagi superstitious yang anehnya QQ pegang selama ini, "Kalo QQ udah beli jas hujan, artinya musim kemarau udah bakal datang dan tuh jas hujan emang ga bakal kepake lagi..."
hahaha...
yeah, sometimes I do think the world is rotating around me and I'm the center of the galaxy... hahaha....
Sampe kantor, gantung jas hujannya (yang ga basah itu) trus seduh mie cup.... aaah, this is life... T . T
Sebuah nasihat yang sangat breaktrough dikala QQ sedang galau tingkat tinggi dari seorang psikolog (belum) kenamaan yang mungkin tak mau disebut namanya, "Loe tuh hidup terlalu banyak ekspektasi...!!!"
It suddenly hits you and then you realize, F*ck! it is so true!!!
Pernah denger seorang bijak berkata? "Hiduplah tanpa ekspektasi, maka kamu tidak akan pernah kecewa." Kalo belum ada yang bilang, melalui blog ini QQ mengklaim kata mutiara tersebut.
Terdengar too good to be true, tapi sungguh benar adanya.
Kita tuh sering banget kesel, marah, ga terima karena kita terkadang memiliki ekspektasi tertentu dari orang lain karena secara sadar ataupun tidak sadar, kita mengukur perilaku tersebut dari perilaku kita sendiri.
Ijinkan QQ memberikan sebuah ilustrasi,
QQ sering banget kesel ketika masuk locker di gym, yang dijadikan tempat sholat, trus sarung ama sajadahnya menggeletak gitu aja, kusut ga terlipat.
Nah, mengapa QQ kesal?
Karena setiap selesai menggunakannya, yang QQ lakukan adalah melipat sarung dan sajadah tersebut agar kembali rapih dan siap digunakan orang selanjutnya dan juga tentunya tidak merusak penglihatan karena tertumpuk begitu saja. Secara tidak sadar, QQ memiliki EKSPEKTASI bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama, namun dalam kenyataannya perbuatan orang lain yang tidak sesuai dengan yang QQ harapkan dan kesel dong.
"Nih orang ga pernah diajarin tata krama apa ya? masa abis pake langsung digeletakin gitu aja? dirapihin kek!"
Pernah ga hal-hal kaya gitu terjadi ama kalian? dan hasilnya adalah diri kita jadi kesal.
Contoh lain lagi,
Di Singapura tuh, kalo abis makan di restoran fast-food, biasanya orang akan beres-beres sendiri nampan makan dan sampah-sampah yang mereka hasilkan selama makan. Trus tiba-tiba kita datang nih dan karena rame banget, kita dapat sebuah meja yang masih ada sisa-sisa makan orang sebelumnya. Kesel dong kita.
Nah mengapa kita kesal?
Karena kita setiap selesai makan, selalu membereskan sisa-sia makan kita. Dari hal tersebut kemudian muncul sebuah EKSPEKTASI bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama.
Perhatikan ada kata kunci yang membuat kita kesal dalam dua cerita di atas, EKSPEKTASI. Mungkin beberapa dari kalian, begitu baca ini akan berpikir, "Ya itu kan hal standar yang seharusnya diketahui semua orang..."
Kalo beneran kalian mikir itu, maka ada satu kata kunci lagi dalam buah pikiran tersebut, SEHARUSNYA. Lagi-lagi sebuah ekspektasi akan hal yang dilakukan orang lain.
Secara sadar ataupun tidak sadar, kita sering mengukur perilaku orang berdasarkan perilaku kita sendiri atau sebuah idealisme yang kita miliki. Pada akhirnya, ketika dunia ini tidak sebagaimana yang kita harapkan, kita jadinya kesel, kecewa dan ga terima.
Istri seharusnya menyambut suami ketika suami pulang kerja dan menyiapkan makan serta rumah udah beres dan rapih.
Wanita harusnya ada di dapur dan pria mencari uang.
Memasak adalah urusan wanita dan pria tidak seharusnya di dapur.
Kalau kita berbuat baik ke orang lain, seharusnya orang tersebut membalas kita dengan perbuatan baik pula.
EKSPEKTASI dalam hidup kita ini banyak banget, terutama kalo QQ sendiri merasa, karena QQ memiliki idealisme tersendiri dalam hidup ini, maka jutaan ekspektasi dalam benak QQ tuh amat sangat berpotensi membuat hidup QQ banyakan kesel, sebel dan bencinya. Makanya temen QQ itu bilang, "Loe tuh hidup terlalu banyak ekspektasi...!!!"
Satu hal yang langsung QQ sadari dalam hidup ini adalah: HIDUP TERKADANG TIDAK SESUAI DENGAN IDEALISME KITA, TERIMA ITU DAN LIVE WITH IT!!!
Kita harus menyadari bahwa masing-masing orang tuh berbeda satu sama lain, idealisme masing-masing orang tuh berbeda. Ibarat orang bijak pernah berkata, "Rambut boleh sama hitam, tapi isi pikiran masing-masing orang bisa berbeda-beda."
Namun melalui blog ini, QQ nggak mau mengajak kalian semua menjadi mengasumsikan yang terburuk dari orang-orang, alias teori X dimana kita mengasumsikan bahwa semua orang itu emang bajingan, ga tahu diri, ga punya tata krama, ga berpendidikan sehingga mereka melakukan hal-hal yang membuat ekspektasi kita tidak terpenuhi dan kita menjadi kecewa.
Malah sebaliknya, mari kita semua menggunakan teori Y. Mari kita memiliki pikiran yang positif dan mengasumsikan bahwa semua orang di dunia ini adalah orang baik.
Bayangkan ini, Seseorang pernah ditampar dan dia tahu rasanya ditampar itu sakit. Apakah ujug-ujug dia bakal nampar orang lain?
Mari kita asumsikan bahwa jika seseorang melakukan suatu hal yang tidak sesuai ekspektasi kita, maka orang tersebut memang mungkin tidak tahu bagaimana seharusnya bertindak. Tidak semua orang mendapatkan pendidikan yang sama, sekalipun pendidikan yang dimiliki sama, tidak semua orang menyerap pelajaran hidup mereka dalam porsi dan kapasitas yang sama.
Mari kita kembali ke ilustrasi ruang locker tadi,
Jadi instead of QQ kesan dan emosi gara-gara sejadah dan sarung yang berantakan tadi, yang QQ lakukan adalah, "Ya sutralah, semoga saja orang yang meninggalkan sajadah dan sarung ini mendapatkan pelajaran," kemudian QQ pake dan selesai pake QQ tetap melipat sajadah dan sarung tersebut dengan rapih.
Bayangkan kalo kita menanggapi hal ini dengan emosi.
1. Kita akan kesal dan memaki-maki dalam hati;
2. Sholatnya jadi ga khusyuk;
3. Karena kecewa, kita membalas dengan meninggalkan sajadah dan sarung tadi berantakan juga.
Apa yang kita dapatkan?
Ga ada selain kekesalan yang mau-ga-mau berdampak langsung terhadap kondisi emosional kita. Padahal energi untuk kesal tersebut, bisa disalurkan ke hal lain.
Sama dengan contoh kedua,
Ketika kita masuk restoran dan melihat meja yang mau kita tempati berantakan, daripada kesal dan marah, ada dua opsi yang bisa kita ambil. Satu, panggil petugas restorannya minta bersihkan dan kedua, kita bersihin aja sendiri. Ambil tissue dan kusrek-kusrek dikit trus kinclong deh mejanya. Energi yang tadinya mau kita pake untuk marah, kita alihkan ke membersihkan meja tersebut. Siapa yang dapat untungnya? kita sendiri. Kita mau marah-marah, teriak-teriak, atau mencibir orang tak dikenal itu pas ngobrol ama temen-temen juga ga ada gunanya, yang capek kita sendiri.
Kaya jargon-nya sepatu Nike, Just do it.
Hati-hati dengan jebakan EKSPEKTASI ini, karena terkadang idealisme yang kita miliki ini tidak selalu sepenuhnya benar dan diamini oleh semua orang.
Sebuah contoh,
QQ tuh dulu selalu keseeeellll banget kalo pas sholat jamaah di masjid, orang-orang ga mau ngerapatin kaki.
Sebenernya ini juga sesuatu yang baru QQ pelajari, karena katanya supaya setan ga punya tempat di antara satu jamaah dengan jamaah lainnya untuk menggoda kita. Alhasil "idealisme" yang QQ dapatkan dari sebuah ilmu yang kurang matang malah membuat QQ kesal pas sholat jamaah dan akhirnya sholatnya ga khusyuk karena mikirin hal ini.
Terkadang kita memiliki sebuah idealisme, sesuatu yang kita percayai benar adanya dan akibatnya kita memiliki (lagi-lagi) EKSPEKTASI bahwa orang lain harus melakukan hal yang sama agar sama-sama BENER. Faktanya adalah, pengetahuan dan penafsiran masing-masing orang tuh berbeda-beda dan banyak aja orang yang sama sekali ga perduli soal celah antara satu kaki dengan kaki lainnya pas sholat jamaah.
Lalu apakah karena berbeda, seseorang lantas menjadi salah?
Tentu saja tidak.
Sebut saja aku dan kamu benar dalam hal yang masing-masing kita yakini kebenarannya dan QQ akan merapatkan kaki sebagaimana yang QQ anggap benar, jika kamu hendak membuat celah, itu adalah idealisme kamu.
Ujung-ujungnya, lakum diinukum waliyadiin.
Itu tidak hanya sebatas, "Bagiku agamaku dan bagimu agamamu"
perluaslah menjadi, "Bagiku hidupku dan bagimu hidupmu"
Kita bisa berbeda satu dengan yang lain, itu tak mengapa.
Namun bagaimana dengan perintah untuk, "Sampaikanlah walau satu ayat"?
mungkin dari kalian banyak yang berpikir itu.
Maka sampaikanlah dalam sebuah diskusi, tapi dalam diskusi tersebut jangan memiliki EKSPEKTASI bahwa orang tersebut akan kemudian mendengar, percaya dan kemudian berubah seperti yang kita mau. Heck no!!!
Jadi, sekali lagi cek dalam hidup kita, masih banyakkah ekspektasi yang kita miliki dalam hidup ini?
Bahkan yang lebih perlu lagi kita cek, APAKAH EKSPEKTASI YANG KITA MILIKI TERSEBUT MASIH UPDATE DAN SESUAI PERKEMBANGAN ZAMAN???
"Eh, udah sewajarnya dong yang masak tuh perempuan, masa laki-laki?"
cek lagi... emang salah kalo cowo ada di dapur?
Pemenang Masterchef malah keseringan laki-laki.
"Eh, masa sih perempuan cari uang sementara suami di rumah ngurus anak?"
Cek lagi...
Kadang ekspektasi yang kita miliki itu udah ketinggalan zaman dan jangan sampe kita menjadi kesal karena hal-hal tersebut. Untuk lebih amannya, KURANGI EKSPEKTASIMU!!!
Sembari menulis blog ini, QQ mulai menyadari... "Ya, hidup QQ ini emang flat banget ya..."
hahaha...
pada suatu titik tertentu, kalo kita melakukan ini, kita seolah-olah tidak memiliki emosi dan hidup kita datar banget. Ga marah, ga kesel, ga sedih...
Tapi begitulah, dalam hidup ini QQ udah mulai mengurangi EKSPEKTASI-EKSPEKTASI yang kurang diperlukan dan alih-alih kesel dan marah, lakukan aja apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi.
Ada sebuah ilustrasi terakhir, soalnya kayanya blog ini udah kepanjangan.... hahaha...
Dalam sebuah kelas, jendela dalam keadaan terbuka. Kemudian tiba-tiba hujan deras dan suara hujan tersebut sangat berisik sehingga suara gurunya ga kedengeran.
Berikut adalah tipe-tipe orang yang biasanya ada di kelas tersebut:
"Duh, berisik banget sih nih hujannya, ganggu deh!!!"
atau,
ada orang yang akan segera bergerak dan menutup jendela agar suara hujan sedikit terkurangi, tanpa perlu ngedumel.
Maka yang manakah kita??
Apakah kita orang yang menghabiskan energinya untuk ngedumel tanpa aksi?
atau kita termasuk orang yang menghabiskan energinya untuk suatu hal yang lebih bermanfaat seperti, melakukan solusi??
Sebuah iklan rokok pernah bilang, "Life is never flat"
kalo QQ bilang, "Flat life is not that bad..."
Bebaskan dirimu dari EKSPEKTASI dan hiduplah dengan BEBAS....!!!!