Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Tuesday, March 15, 2016

Cara Move on Paling Efektif

Nah, udah baca blog sebelumnya soal mengubah sudut pandang kalian?
Udah bisa mengubah sudut pandang dan fokus pada kebaikan orang lain?
Kalo udah bisa, mari kita lanjutkan ke blog satu ini yang akan memberikan tips bagaimana cara move on bagi yang baru aja putus pacaran, ato mungkin udah putus jutaan tahun yang lalu tapi masih belum bisa move on juga dan sering mewek kalo keinget-inget.

Ini adalah pelajaran yang QQ dapatkan dari menonton salah satu episode serial tv Friends, QQ lupa ini ada di season ke berapa dan di episode berapa. Jadi kisahnya tuh kalo ga salah, karena Monica ama Chandler menikah, Phoebe yang sebelumnya join apartemen ama Monica harus keluar dari apartemen tersebut dan akhirnya mereka susah berpisah karena sulit untuk berpisah dengan sahabat baik yang udah tinggal bareng lumayan lama. 

QQ agak lupa beberapa detail ceritanya, jadi kalo ada salah-salah nama tokohnya, di komen ya di bawah...

Nah kemudian, dalam kesedihannya, si Rachel ngasih saran ke Phoebe yang menurut QQ sampe saat ini merupakan cara untuk move on yang paling efektif. Supaya bisa move on, Rachel nyarain Phoebe supaya jangan mengingat-ingat kebaikan Monica, tapi ingatlah keburukan-keburukannya sehingga membuat Phoebe justru ga pengen tinggal bareng ama Monica.

Nah, kalo udah ada yang menyadari, ini adalah opposite dari pemanfaatan mengubah sudut pandang yang dibahas di blog sebelumnya. Jadi, instead of kita fokus ke bagian lembaran putih dari kertas tersebut, kita malah fokuskan pandangan kita ke titik merah kecil dan fokus hanya ke situ.

Lanjut cerita kemudian Phoebe ama Monica malah bertengkar dan hampir saja Phoebe keluar sebagai musuh Monica dari apartemen tersebut, untungnya ending-nya tetap happy karena akhirnya mereka menyadari kembali arti persahabatan mereka selama ini, namun Phoebe tetap bisa move on dari apartemen tersebut.

Tadi juga selagi lari di treadmill, sembari lari juga dari kenyataan, di tv memainkan tv serial berjudul 2 Broke Girls. QQ ga terlalu ngikutin seri ini karena menurut QQ ceritanya agak cheesy. Tapi karena treadmill di Semanggi ga ada layarnya kaya yang di GI, jadilah lumayanlah daripada lari sambil dengerin lagu di HP, takut jatoh.

QQ ga hafal nama tokohnya (dan terlalu males googling) jadi sebut saja dua tokoh utamanya si rambut pirang dan si rambut coklat, sebut saja Pirang dan Coklat. QQ juga ga nyimak dari awal, jadi kayanya ceritanya tuh si Pirang ini kedatengan mantan cowo yang pernah dia putuskan dan tiba-tiba dia baper karena si cowo ini udah dapet cewe baru, mau menikah dan minta si Pirang buat ngebikinin wedding cake-nya. 

Jadi pas wedding day, si Pirang hampir lepas kendali karena ga bisa terima karena cowo ini adalah sosok yang sempurna buat dia.
Kalo menurut QQ sih, tahu sempurna, kenapa juga dulu diputusin... hahaha...

Hampir aja...hampir si Pirang bisa move on ketika tahu ternyata si mantan cowonya itu berbohong soal bisnisnya, sampe tiba-tiba ternyata si cowo come clean sama si Pirang dan akhirnya dia gagal move on lagi.

Jadi memang kayanya, fokus pada titik merah kecil di lembaran putih yang besar merupakan salah satu metode move on yang paling ampuh. Meski dalam contoh seri 2 Broke Girls tadi, si Pirang mutusin tanpa alasan yang jelas, tapi kalo kalian sampe putus sama seseorang, pasti karena ada suatu alasan yang jelas kan? Apalagi setelah QQ panjang lebar menjelaskan soal mempertahankan hubungan kalian melalui teknik mengubah sudut pandang kalian. Jadi kalo sampe tetep putus juga, awas aja kalo alasannya ga kokoh.

Bisa aja karena doi selingkuh, karena doi susah dihubungi, karena doi melakukan kesalahan yang tak termaafkan dan banyak alasan dan kemungkinan lainnya. Bagi orang lain mungkin itu hal yang kecil, namun bagi seseorang bisa saja itu hal yang penting, prinsipal dan tidak bisa ditoleransi lagi. Dalam hubungan kita sama si doi sebelum putus mungkin udah berjalan lama, yah sebulan dua bulan, setahun dua tahun, siapa tahu waktu yang kita miliki cukup untuk mengenal orang tersebut tidak hanya sisi baiknya saja, tapi sisi buruknya juga.

Misalnya, kalo di chat ngebalesnya lama, ato kalo ke WC suka sering lupa nyiram sehingga WC jadi bau pesing, ato ngoroknya kenceng banget sampe-sampe tetangga suka komplen, dan banyaaaak lagi kekurangan lainnya yang mungkin saja dimiliki seseorang selain alasan kita memutuskan dia. 

Jadi ibaratnya, alasan putus itu merupakan akar dari titik merah yang kita buat, sementara yang lainnya merupakan ranting-ranting yang akan memperkuat titik merah tadi sehingga poin negatif yang kita ciptakan tadi tak semata-mata hanya setitik merah, melainkan sebuah pohon yang kokoh. 

Menurut QQ, secara insting alami manusia, harusnya melakukan hal ini, yakni mencari-cari negatifnya orang, cenderung lebih mudah daripada mencari-cari positifnya orang. 

Tapi mungkin kadang yang luar biasanya untuk masalah move on ini, orang tuh malah fokus ke sisi positifnya seseorang dan malah kayanya kita kadang merasa, orang itu sempurna dan ga ada kekurangannya. Apalagi ternyata kita bukan pihak yang memutuskan, melainkan kita adalah orang yang diputusin.

Ibaratnya untuk orang yang mutusin, mereka udah punya benih titik merah untuk ditumbuhin jadi pohon yang rindang. Lalu bagaimana caranya menumbuhkan sebuah pohon tanpa benih?

Kalo kembali ke ilmu biologi, banyak metode lain, contohnya stek. Bukan Steak, tapi kaya singkong gitu lah, kita tancepin aja patahan batangnya dan tumbuh deh jadi pohon ubi. 

Namun emang untuk metode ini, pohonnya cenderung mudah untuk tercabut ketika kita ternyata kekurangan-kekurangan yang kita data tadi ternyata sirna. Pas kita ketemu lagi ama orang tersebut, ternyata orang itu udah berubah total dan menjadi orang yang kita idam-idamkan kembali.

Well, mari kita bahas tahap demi tahap.

Pertama-tama kita harus bisa membuat pohon tumbuh tanpa benih dulu. Kita cari titik merah yang bisa kita stek agar tumbuh jadi pohon. Kemudian kita fokuskan perhatian kita ke sana. Oh ternyata doi pembohong, oh teryata doi kalo abis makan ga langsung cuci piring sehingga wastafel penuh dengan piring kotor, oh ternyata doi tuh ga cocok ama temen-temen kita. Titik merah itu tidak harus segede gaban, cukup supaya ada dan bisa menjadi fokus kita.

Namun ada disclaimer di sini, kalo emang kita diputusin karena bersalah... usahakanlah minta maaf dulu dan perjuangkan apa yang bisa diperjuangkan. Namun, setelah segala usaha ditempuh dan tidak ada yang bisa dipertahankan, daripada mewek 7 hari 7 malem, mendingan move on. Namun bukan berarti kalian bisa move on dan pindah untuk menyakiti orang lain yaaa....

Kalo ini cara dipake buat itu, QQ doa-in kalian ga bisa move on selama-lamanya... hahahhaa....

Nah, kalo kita sudah bisa menumbuhkan pohon dari stek yang tidak sempurna tadi, kita fokus aja ke sana. Di sini akan melibatkan amarah dan kebencian pada awalnya, namun setelah lama dan kebiasaan, mungkin kita malah bersyukur dan menyanyikan lagu It's a Beautiful Day dari om Michael Buble.

Daripada tiap pagi pas bangun langsung buka HP terus sedih karena biasanya ada sapaan selamat pagi dari si Mantan, fokus aja kepada betapa nyenyaknya tidur kita semalam karena ga ada ngorokan si mantan.

Daripada tiap masak kerasa asin karena ketetesan air mata akibat dulu biasa masakin si mantan, mending fokus aja kepada rapihnya wastafel kita karena ga ada piring kotor yang bertumpuk yang biasa ditinggalin di mantan ga dicuci.

Daripada tiap kali nonton tv malah mewek padahal lagi nonton film komedi karena keinget biasa nonton tv sambil dipijetin mantan, mari fokus aja kepada betapa damainya nonton tv tanpa ada si mantan yang hobi rebutan channel karena dia pengen nonton Tujuh Manusia Harimau.

Ujian move on ini akan benar-benar dilihat ketahanbantingannya adalah ketika kita ternyata jumpa lagi sama si mantan dan ternyata dia lebih bahagia sama orang lain. Ibarat pepatah, makin tinggi pohon, makin kenceng anginnya. Jadi jangan berharap bahwa metode ini tidak akan diuji. 

Awalnya mungkin perih dan kita belum tentu bisa terima dengan begitu mudahnya. Tapi tak perduli sekencang apapun angin berhembus, kalo kita bisa stand our ground, maka kita akan bisa melalui badai ini. 

Ketika mata kita kembali teralihkan pada luasnya bidang putih, kembalikan pandangan kita pada titik merah dan ingat-ingatlah bahwa siapa tahu ini untuk yang terbaik. Jika ternyata setelah putus, kita malah miserable dan si mantan malah bahagia, terima konsekuensi atas keputusan kita, dan ucapkan selamat kepada sang mantan dengan lapang dada.

Move on merupakan sesuatu yang bersifat mandatory dan harus dilaksanakan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Karena jangan sampe kita baper-nya kelewatan dan akhirnya makan ga enak, tidur tak nyenyak, suara kerosak, dikira dia... tahu-tahu tikus mencari mangsa...
Eh, jadi dangdutan....

Ini juga terkait dengan proses pengambilan keputusan kalian dan hidup dengan konsekuensinya. Untuk memperkokoh pohon merah yang udah ditanam tadi, terimalah konsekuensi atas keputusan yang udah kalian ambil. Kalo kita yang mutusin, ini adalah konsekuensinya. Kalo kita yang diputusin, kenapa juga kita berbuat sesuatu yang mengakibatkan kita diputusin sang kekasih.

Jadi sesuatu yang bisa memperkokoh pohon kita tadi untuk melawan badai yang bernama "Badai Mantan yang Lebih Berbahagia dengan Orang Lain" adalah proses kita menerima dan menjalani konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil di masa lalu. 

Singkat cerita,
Metode move on yang paling efektif adalah, secara sadar mengubah sudut pandang kita terhadap orang lain menjadi lebih ke spektrum negatif dan kemudian ikhlas menerima konsekuensi atas keputusan yang telah kita ambil. 

Jadi sekarang QQ menyodorkan selembar kertas A4 putih dengan sebuah titik merah di tengahnya, ada dua cara memandangnya dan dua kegunaannya.

  1. Kalo kalian ingin bertahan, lihatlah luasnya wilayah putih dan jangan fokus ke titik merahnya.
  2. Kalo kalian ingin move on, lihatlah titik merah yang kecil itu dan fokuslah ke sana. 

Tapi kalo QQ bilang sih, kegunaan yang kedua itu hanya dilakukan untuk hal-hal yang bersifat desperate measures dan bukan untuk disalahgunakan. 

Mungkin untuk selanjutnya QQ akan membahas soal perasaan versus logika aja kali yaaa....
Nih lama-lama QQ ngerasa kayanya blog-blog akhir-akhir ini kayanya QQ terlalu banyak pake perasaan instead of logika. Karena kalo pake logika, ga perlu panjang lebar penjelasannya.... cukup, "meh... peduli amat lah... patah satu tumbuh seribu..."

oops... mari kita simpan untuk kesempatan mendatang...

Salam move on.

Monday, March 14, 2016

Ubah Sudut Pandang Kalian

Kalo mau belajar tentang sudut pandang yang berbeda, silahkan baca blog QQ yang sebelumnya dengan cara klik di sini.

Blog itu cerita tentan 4 orang yang memandang satu patung Merlion yang sama namun menghasilkan empat cerita yang berbeda. Jadi blog ini lebih merupakan sekuel dari blog tersebut. Apabila kita sudah menyadari bahwa dalam sebuah kisah, bisa terdapat lebih dari satu sudut pandang dan cerita, tergantung dari siapa yang bercerita dan melihat dari aspek mana orang tersebut ketika bercerita.

Blog sebelumnya, lebih bercerita bahwa jangan kita asal bicara seolah-olah yang kita sampaikan itu adalah one-true story sebelum kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, sekarang bagaimana jika kita mengetahui sisi-sisi dari sebuah cerita tersebut dan memanfaatkannya untuk membuat kita bisa mengubah cara pandang terhadap suatu hal.

Sebuah contoh yang berbeda dari patung Merlion adalah, bayangkan ada sebuah bola sepakbola di depan kita yang baru saja dimainkan di suatu sore hari yang becek akibat hujan deras. Kemudian kita memutuskan untuk kembali menyimpan bola tersebut di rak yang tersedia. 

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyimpan bola tersebut. Yang paling obvious adalah tentu saja mencuci bola yang kotor tadi hingga bersih, untuk kemudian baru kita pajang di rak. Kalo menyimpan bola kotor, tentu saja ga enak untuk dilihat dan mungkin tangan kita gatal untuk membersihkannya.

Namun kemudian setelah kita cuci dan bersihkan, ternyata sepertiga bagian dari bola tersebut ada yang lecet sehingga noda tanah yang masuk, susah hilang dan meninggalkan noda coklat di sepertiga sisi bola tersebut. Lalu kemudian ketika kita akan menyimpan bola tersebut di rak, apakah kita akan menampilkan sisi yang lecet? atau kita menampilkan sisi yang bersih?

Sebut saja asumsi di sini, kita adalah orang yang perfeksionis. Maka tentu saja bagian yang lecet ga sedap untuk dipandang, sehingga kita lebih memilih untuk memajang sisi yang bersih. Kita tahu di bagian sisi belakang bola tersebut ada yang lecet, tapi kita lebih berfokus pada memandang bagian yang bersih dari bola tersebut sehingga bagian yang lecet tadi masuk blindspot dan kita bisa menunda keputusan untuk membeli bola yang baru.

Lalu apakah hubungan antara bola tersebut dengan sudut pandang kita?
Seandainya dalam hidup kita begitu mudahnya mengubah sudut pandang, maka kita akan bisa melihat yang terbaik dalam sisi setiap orang.

Bayangkan kita memiliki orang tua, suami, istri, saudara, paman, tante, teman, sahabat, pacar dan lainnya. Terkadang kita mengetahui bahwa ada bagian yang buruk dari orang yang kita sayangi tersebut, namun kita terkadang sulit untuk membersihkannya seperti apa yang kita inginkan, namun bagaimana cara untuk kita bisa bertahan agar bisa tetap bersama dengan orang yang kita sayangi tersebut?

Ubah cara pandang kita terhadap mereka.
Mengubah cara pandang ini merupakan sebuah usaha yang aktif, perumpamaannya adalah seperti memutar bola tadi agar yang tampil adalah sisi yang bersih. Bola tidak akan bisa memutar dirinya sendiri, harus kita yang memutar bola tersebut agar menunjukkan sisi terbaiknya. Andai kita kembali pake contoh patung Merlion pada blog sebelumnya, gimana agar Atlas bisa memahami susut pandang Dunne? jawabannya adalahAtlas harus secara aktif melakukan usaha untuk bergerak pindah ke tempat Dunne berdiri agar paham dengan sudut pandangnya Dunne.

Karena nyatanya dalam hidup kita, menggantikan orang yang kita sayangi, tidak semudah dengan membeli bola baru. Kita harus bisa hidup dengan kekurangan orang lain. Namun, seperti bola tadi, kekurangan seseorang tersebut tidak 100% dari orang tersebut, bisa saja hanya sebagian kecilnya saja dan masih ada sisi yang baik dari mereka. 

Ketika Istri menemukan suaminya ternyata dalam keadaan lelah pulang dari kantor lebih tempramental daripada biasanya, dan pada suatu malam terjadi peristiwa penamparan akibat emosi sesaat. Jika sang Istri hanya bisa fokus pada bagian 'lecet' dari sang suami, maka kebayang apa yang akan terjadi dalam sisa hidup mereka? antara lapor KDRT ke polisi atau hidupnya akan penuh dengan dendam dan sakit hati.

Jika memang sang Istri menyadari hal tersebut, maka putarlah 'bola' dalam hal ini sudut pandangnya terhadap sang suami, lihatlah bagian dimana dia bertanggung jawab menafkahi keluarga dan memenuhi kewajibannya menjaga keluarga sebagai pemimpin keluarga.

Contoh lainnya, dalam rumah tangga lainnya, misalkan sang Suami nih sangat suka makan, ternyata sang istri tidak pandai memasak. Maka jika sang Suami tidak dapat memutar bola, dan lebih fokus pada sisi positif lain dari sang istri, maka masalah 'kurang pandai memasak' ini akan menjadi sebuah masalah yang besar. karena setiap kali kita memandang orang terkasih kita, yang kita lihat hanya bagian 'lecet' nya dan kita melupakan bahwa di sisi lainnya sebenarnya ada sisi yang baik, bersih dan lebih positif untuk dipandang.

Toleransi kita terhadap fokus pada sisi yang bersih ini sangat-sangat tergantung pada diri kita sendiri, karena kita yang memegang kendali atasnya. Jika ternyata 70% dari bola tadi ternyata kotor, apakah kita bisa menerima bahwa sisi yang bersih hanya 30% saja?

Ada dari kita yang sekali nila menetes ke sebelangga susu, langsung kita buang semua susu tersebut. Namun ada juga orang yang bisa mengisolasi nila tersebut sebelum merusak semua susu dan membuangnya. Sebelangga tuh gede kayanya, belangga tuh segede ember 40 liter ga sih??
Lain ceritanya kalo karena Sianida setetes, harus dibuang emang... nanti bisa kaya kasus Ngopi Cantik Berujung Nestapa kan...

wah, moga aja ga tersesat nih di perumpamaan-perumapaan yang QQ gunakan... hahaha...

Jadi, sekali kita putar bola (bali ke perumpamaan awal), kita akan selamanya melihat sisi yang bersih dari bola tersebut, dan pada suatu saat kita mungkin bisa melupakan bahwa sebenarnya bola tersebut, sepertiga bagiannya lecet. Requirement-nya adalah bahwa kita bisa untuk berfokus pada sisi yang bersihnya.

Namun jika setiap kali ada sesuatu, kita putar bola tersebut sehingga sisi lecetnya nampak, maka kita takkan bisa berpaling dari fakta bahwa bola tersebut lecet.

Sekali lagi kita tanya pada diri kita, Apakah kita yakin bahwa kita adalah insan yang 100% bersih dan tidak memiliki lecet sama sekali?
Kalo QQ sih bilangnya, Kita semua punya lecet tersendiri. Bahkan yang menurut kita bukan 'lecet' bagi orang lain merupakan sebuah kekurangan. Kembali kita ke kisah Luqman dan Kedelainya.

Jadi, penting bagi kita untuk bisa mengubah sudut pandang kita menjadi fokus pada sisi baik dan sisi positif dari seseorang. Terlepas dari fakta bahwa misalkan orang tua kita bukanlah orang tua yang ideal seperti yang kita harapkan, tapi ingatlah fakta bahwa kita dilahirkan sebagai buah cinta mereka dan kita bisa tumbuh besar akibat dari dibesarkan oleh kasih sayang mereka dan jika kita hanya fokus pada kekurangan kedua orang tua kita, yang akan terjadai adalah kita tidak akan bisa berbakti pada mereka, dan jadilah kita anak durhaka. Bayangkan orang tua hidup di jaman yang berbeda dengan kita, jaman dimana HP masih bisa buat nimpuk anjing dan anjingnya mati di tempat, sementara kita hidup di zaman dimana HP kalo dipake buat nimpuk anjing, malah kacanya yang retak seribu.

Sudut pandang kita bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Jika kita menginginkannya, kita bisa melatih diri kita agar bisa memakai kacamata kuda terhadap apa yang kita lihat agar fokus kita hanya kepada hal positif dari orang tersebut. Ibarat Yin dan Yang, setiap orang tuh dipercayai seimbang, ada sisi jahatnya ada juga sisi baiknya. 

Ini ada sebuah eksperimen sosial yang bisa kita coba,

Coba persiapkan sebuah kertas A4 polos, kemudian kita tanyakan pada orang random yang kita temui, "Apakah yang saya pegang?"
QQ yakin, kebanyakan orang pasti menjawab, "Kertas putih polos"

Kemudian kita ambil spidol berwarna merah dan kita buat sebuah titik di tengah-tengah kertas polos tersebut dan kembali kita tanyakan ke orang random yang kita temui, "Apakah yang saya pegang?"
QQ yakin, kebanyakan pasti menjawab, "Titik merah"
Mungkin aja ada, tapi kayanya bakal sangat sedikit yang menjawab, "Titik merah kecil di sebuah kertas putih polos"
Dan bakal lebih jarang lagi yang ngejawab, "Kertas putih polos..."

Poin yang ingin QQ sampaikan di sini adalah, sangat mudah bagi kita semua untuk melihat sebuah titik merah di kertas polos tersebut sehingga kita terkadang menyebutnya sebagai sebuah titik merah dan kita melupakan bahwa 99% persen bagian dari kertas tersebut adalah putih polos.

Sudut pandang manusia ini merupakan suatu hal yang aneh, kita memang terlalu mudah berfokus pada hal yang sifatnya negatif dibandingkan positif. Maka dari itu perlu bagi kita untuk bisa senantiasa menyadari hal ini. Ketika pikiran kita lebih fokus pada titik merah tersebut, ingatkan kembali pada diri kita, ada bagian luas dari kertas tersebut yang masih putih polos. Jika kita memang menginginkan kertas tersebut (di sini, kertas merupakan perumpamaan, kali aja ada yang tiba-tiba bingung... hahaha...) ada dalam hidup kita, maka jangan kita fokus pada setitik merah yang kecil tersebut dan karena titik merah tersebut, kita jadi membuang 99% kebaikan yang ada dalam selembar kertas putih polos tersebut.

Mungkin membuang kertas merupakan sesuatu yang mudah bagi kita, karena apa sih artinya selembar kertas? Namun jika noda merah tersebut ada di orang yang kita kasihi, maka membuang mereka dari hidup kita tak semudah membuang selembar kertas tersebut. Tapi hey.... sekali lagi... jangan fokus pada titik merahnya aja. Fokuslah pada bagian lain yang masih bersih dari titik merah tersebut. 

Berikan upaya terbaik kita untuk sebisa mungkin berdiri pada sudut yang tepat atau mengatur sudut yang tepat agar titik merah tersebut bisa menjadi blind spot dan tidak membuat kita menjadi berpikiran sempit.

Long story short, tak bosan QQ tekankan bahwa usaha untuk mengubah sudut pandang ini merupakan suatu hal yang aktif, bukan pasif. Kita harus melakukannya secara sadar dan kemudian istiqomah di jalan tersebut agar hidup kita bisa berbahagia. Yah, sedikit menipu sendiri lah agar gelembung kebahagiaan kita tidak pecah begitu mudahnya.

Nah, untuk blog selanjutnya adalah pemanfaatan konsep ini untuk hal lain... kalo yang selama ini susah move on tiap abis putus atau pisah. Nantikan... ga lama lagi kok, akhir-akhir ini kebanyakan galau.... jadi ide nulis ngucurrrrrr..... hahaha...

Friday, March 11, 2016

Nyaman Menjadi Diri Sendiri

Semalem QQ nonton Family Guy season 9 episode 9, bukan pertama kalinya QQ nonton episode ini karena Family Guy adalah tv series pengantar tidur QQ. Jadi udah berulang-ulang kali ditonton. Episode 9 di season 9 ini adalah sebuah episode yang bagus untuk mengajarkan orang terkait dengan nyaman menjadi diri sendiri.

Singkat ceritanya, si Lois dijebak ama si Joyce untuk menceritakan bahwa di awal tahun 80-an, Lois pernah bikin film porno (yg kemudian diketahui judulnya adalah Quest for Fur). Si Joyce ini adalah news anchor dan tuh berita soal Lois ditayangkan di TV, karena si Joyce nih ceritanya pengen bales dendam karena pernah dipermalukan oleh Lois pas SMA dulu. Kemudian masyarakat kota Quahog mulai memandang Lois secara negatif, dia diusir dari gerejanya dan masyarakat menganggapnya sebagai sampah masyarakat.

Yah, dalam hidup ini... terkadang kita membuat keputusan yang kita tidak bangga terhadapnya, namun itu sudah terjadi dan kita tidak dapat merubahnya karena itu terjadi di masa lalu. QQ sangat ragu kalo mesin waktu bakal bisa tercipta, soalnya kok sampe saat ini QQ belum beli saham yang harganya bakal meroket dalam waktu dekat... hahahaha...

Kemudian, dalam kesedihannya, Lois didatangi oleh Brian dan dikasih saran. Ini dialog yang terjadi:

Hey, Lois, can I talk to you for a second?
For the last time, Brian, there's no link to it anywhere online.
No, no, that's not... That's not what I'm here for. Look, Lois, you did what you did, and there's nothing you can change about that. But those people can only make you feel ashamed if you let them. If you own the choice that you made, you take away all their power to make you feel bad about yourself.
What do you mean?
Well, you remember a few years back, people used to make all those jokes about how Ryan Seacrest was gay? And then he started making those jokes himself, and now nobody makes those jokes anymore.
I mean, he's still gay, but now it's no fun to joke about it, because he beat us to the punch.
My God!
That little pole-smoker's a (bleep) genius!

Jadi terkadang akibat dari keputusan yang salah atau orang memang suka membuat gosip atau memang karena kenyataannya begitu, apapun alasannya, akan selalu ada orang yang mencemooh kita atas apa yang kita lakukan.
Tapi dari dialog antara Brian dan Lois tersebut, ada kalimat yang sangat QQ suka, "...But those people can only make you feel ashamed if you let them. If you own the choice that you made, you take away all their power to make you feel bad about yourself."

Orang hanya bisa mencemooh kita kalo kita biarkan mereka dan kita mengijinkan mereka menyakiti kita. Ketika kita membuat kekurangan kita menjadi sebuah lelucon, bukan berarti kita mentertawakan atau mencemooh diri kita sendiri, namun dengan melakukan itu, orang lain akan kehilangan kesenangannya dalam menjadikan hal tersebut sebagai lelucon, karena kita sendiri menganggap hal tersebut lelucon.

Sedangkan untuk bagian terakhir dari dialog tersebut, adalah bagian lucunya dari scene tersebut... hahaha... 

Adegan selanjutnya setelah itu adalah, Lois kemudian membawa kopi dari film porno yang pernah dibuatnya dan ditayangkan di gereja di depan semua warga Quahog termasuk pendeta yang mengusirnya dari gereja tersebut dan yang cemberut terakhir adalah Joyce, karena dia gagal membuat Lois merasa buruk akibat dari berita yang ia sebarkan.

Jadi setiap kali kita melihat diri kita di kaca, mungkin kita merasa ada kekurangan atau bisa saja kita merasa sempurna, namun opini buruk yang beredar tentang kita bisa saja menyebar tanpa kita tahu siapa yang menyebarkannya. Karena kita hidup di dunia dimana menyebarkan sesuatu yang negatif itu lebih cepat dari menyebarkan sesuatu yang positif. Cara yang bisa kita ambil untuk meng-encounter setiap kabar miring tentang kita adalah dengan menjadikannya lelucon. 

Karena tujuan pertama orang menyebarkan berita tersebut adalah untuk membuat kita merasa sedih dan terluka akibat kabar miring tersebut, namun jika kita malah tertawa bersama mereka yang mentertawakan kita, si penyebar berita tidak akan mendapatkan kepuasan yang ia harapkan dari menyebarkan berita tersebut.

Nah, kalo berita itu tidak benar, mungkin benar bahwa itu cenderung lebih gampang untuk mentertawakannya, karena kita memang tidak melakukannya. Tapi bagaimana kalo itu memang benar adanya?

Kembali ke contoh Ryan Seacrest tadi, di bagian akhir dialog, Brian berkata, "I mean, he's still gay, but now it's no fun to joke about it, because he beat us to the punch."
Jadi dampaknya sama aja, terlepas dari kabar tersebut benar atau tidak, yang penting kita membuat orang lain merasa basi kalo mereka juga membuat lelucon tentang hal tersebut sehingga kita mengalahkan mereka dalam artian, kita udah tertawa jauh sebelum mereka mentertawakan kita.

Kata kunci dalam kisah ini adalah, mengetahui kekurangan kita dan menerima diri kita apa adanya. Kita nyaman menjadi diri sendiri.

Opps, blog ini beda arahnya dengan blog lain yang Jangan Jadi Diri Sendiri, Judge a Book by Its Cover. Blog ini lebih ke arah sebuah kekurangan yang tidak bisa kita ubah dan lebih cenderung kepada kekurangan secara fisik dan bukan sesuatu yang bisa kita usahakan untuk diperbaiki.

Misalkan, kita tuh ga tinggi-tinggi amat, misalnya tinggi kita hanya 150cm. Kemudian orang-orang menjadikan hal tersebut sebagai lelucon dan memanggil kita dengan berbagai sebutan, "Kerdil", "Pendek", "Kurcaci" dan lain-lain. 

Pertama yang harus kita sadari bahwa, apakah menjadi pendek tuh suatu hal yang negatif? apakah dengan menjadi pendek, kita adalah orang yang jahat? apakah dengan menjadi pendek, kita tidak bisa menjadi pemimpin yang baik?

Ketika ternyata diri kita baik-baik saja dan ke-pendek-an kita tersebut bukan berarti bahwa kita adalah orang yang buruk, terima diri kita apa adanya dan nyamanlah menjadi diri sendiri. Ketika ada yang ngatain kita, tertawakan saja dan bilang, "Hey, kalo ada foto kelas, aku akan selalu jadi yang paling depan..."
atau, "Tahu ga, orang pendek tuh lebih panjang umur, karena konon katanya, semakin tinggi orang oksigennya makin tipis di atas sana..."

Own your flaws, own yourself. Jangan berikan kesempatan orang untuk mentertawakan kita. Meski faktanya bahwa memang kita pendek dan dengan mentertawakan itu tidak membuat kita jadi tinggi, namun paling tidak kita lebih bisa memfokuskan energi kita untuk perbaikan diri kita di sisi lain daripada terus menerus menghabiskan energi untuk melawan kabar miring yang beredar dan bersedih karena itu.

Bahkan kalo ngebaca kisah-kisah para supermodel yang super tinggi di negara barat sana, mereka pun ketika SMA di-bully karena mereka terlalu jangkung untuk ukuran anak SMA. Poin yang ingin QQ sampaikan adalah, selalu ada yang salah atas apa yang kita lakukan, jadi kita akan terlalu lelah untuk melawan setiap hal negatif yang sampai ke telinga kita. Ini adalah kisah favorit QQ tentang Seekor Keledai dan Pemiliknya, kisah yang lama namun tetap QQ suka. Blog ini QQ posting pertama kali tahun 2007, been a while, tapi kontennya masih relevan, klik aja link berikut kalo mau baca: Sebuah Kisah tentang Pemikiran Manusia.

Sekarang tuh, yang namanya kekurangan bisa jadi kelebihan. Banyak orang yang dulu dikatain tonggos, jelek dan apapun itu sekarang bisa terkenal menjadi komedian. Untuk membuat hal yang dicemooh orang dan dianggap sebagai kekurangan adalah menjadikan kekurangan tersebut sebagai potensi untuk meningkatkan diri kita lebih baik. Arahkan energi kita ke arah yang lebih baik. 


 
Dua contoh yang bisa QQ ajukan adalah, Chantele Young dari America's Next Top Model dan Melissa dari Austalia's Next Top Model. Yang satu kulitnya belang dan satunya jidatnya lebar. Tapi dengan pengarahan energi yang tepat, luar biasanya mereka berdua bisa menjadi model. Bahkan si Chantele tuh lumayan jauh perjalanannya di ANTM.

Atau contoh lainnya, Nick Vujicic, seorang motivational speaker yang tidak memiliki tangan dan kaki, namum masih bisa hidup dengan sepenuhnya bahkan melebihi beberapa orang yang memiliki tangan dan kaki.

Coba kalo sekarang kita mau manggil mereka dengan "Hey kulit belang", "Hey jidat lebar" atau "Hey orang tak bertangan dan tak berkaki", apakah mereka masih akan memperdulikan kita??

Jadi sekali lagi lihat ke kaca dan jika kita masih melihat kekurangan dalam diri kita, tanya sekali lagi pada diri kita, "Apakah kita akan membiarkan orang lain mentertawakan itu? ataukah kita akan memfokuskan energi kita untuk memperbaikinya?"

Pilihan sepenuhnya berada di tangan kita. Kemana hidup kita ini mau diarahkan, kendalinya hanya ada di tangan Tuhan dan di tangan kita. Orang lain tidak bisa mengendalikan hidup kita kecuali jika memang kita yang menyerahkan kendali tersebut pada orang lain.

Pegang erat-erat kendali hidup kita dan majulah ke depan dengan penuh keyakinan.

Ga Bisa Kasih Saran, Bukan Alasan untuk Ga Bisa Kasih Kritik

Dulu (yang ga terlalu dulu-dulu banget) pas kuliah, ada mata kuliah Moral Reasoning and Policy Communication yang pada pertemuan-pertemuan awalnya membahas tentang sesuatu yang disebut dengan logical fallacy. Kayanya yang bisa tahu terjemahan bahasa Indonesia-nya yang pas tuh adalah orang-orang yang kuliah di jurusan filosofi. Terjemahan bebas dari QQ adalah Salah Logika.

Ini adalah sebuah mata kuliah yang sangat bertujuan mulia, yakni untuk mengajarkan kita semua agar lebih bijak dalam berargumen dan bahkan dalam berbicara secara umum. Karena setelah mendengarkan topik tentang logical fallacy ini, terutama dulu itu pas pemilu lagi panas-panasnya, QQ jadi melihat ternyata selama ini yang kita nilai wajar tuh adalah logical fallacy. Meskipun lama-kelamaan, kayanya semuanya salah aja... hahaha...

Misalkan gini, dalam sebuah debat, ada orang yang berpendapat, "Performa ekonomi Indonesia tahun 2015 menurun dibandingkan tahun 2014"

Kita berada di sisi yang berlawanan, jadi kita akan berusaha mengeluarkan argumen untuk mematahkan argumen lawan tadi. Hati-hati dalam berargumen, karena kita mungkin saja terjebak dalam logical fallacy ini.

Kemudian karena ga suka, kita membalasnya dengan, "Kamu tuh cuma cleaning service, ga pantes opini itu keluar dari mulut kamu"

Secara sekilas kita perhatikan, ternyata benar yang mengungkapkan pendapat soal performa ekonomi tadi adalah seorang cleaning service, mungkin benar kita bisa saja meragukan pendapatnya. Namun secara filosofi, hal ini merupakan logical fallacy karena ketika sedang berargumen, kita tidak sebaiknya menyerang siapa orang yang kita ajak beradu argumen, melainkan yang kita serang adalah argumennya.

kalo ga salah, ini namanya straw man fallacy, dimana kita seolah-olah menjatuhkan si patung orang-orangan sawahnya, alias salah serang, sementara argumen dari pihak lawan masih tetap valid dan belum patah.

Contoh-contoh logical fallacy tuh paling banyak beredar selama musim kampanye untuk persiapan pemilu, dimana masing-masing calon saling berusaha menjatuhkan lawannya.

Konteksnya di sini adalah, "Pencalonan diri jadi kepala daerah/kepala negara"
Namun, konteks perdebatan tuh kadang aneh.
Keturunan Tiongkok vs Pribumi, padahal apakah ras seseorang berpengaruh terhadap efektifitasnya sebagai pemimpin?
Darah biru vs Rakyat jelata, padahal emang ngaruh kalo dia keturunan priyayi?
Dalam setiap konteks argumen, yang diserang sudah bukan lagi kapabilitas sebagai pemimpin, melainkan sudah ke personal dan hal-hal yang lainnya. 

Namun, nyatanya yang terjadi di negara ini ya itu. Tapi terkadang itu juga yang kita lakukan. Untuk beberapa minggu, QQ agak sulit menerima pelajaran ini karena hal ini sangat bertentangan dengan apa yang QQ tahu dan jalani.

Kaya masalah Pemimpin muslim dan non muslim. Secara logical fallacy hal itu seharusnya tidak menjadi masalah, namun sebagai orang yang dibesarkan di negara yang mayoritas muslim, secara alam bawah sadar, tentu saja hal tersebut menjadi argumen tersendiri dengan landasan agama. Namun sekali lagi, jika seorang pemimpin itu muslim atau non muslim, apakah menjamin bahwa pemimpin tersebut bisa lebih baik dalam memimpin?
Banyak juga yang kena kasus korupsi, agamanya Islam juga.

Namun secara bertahap, masing-masing logical fallacy tersebut mulai masuk akal dan kayanya memang benar adanya. Namun ada sebuah logical fallacy yang baru QQ bisa terima akhir-akhir ini.

(panjang amat ya pendahuluannya... hahaha.... mari kita masuk ke bahasan yang ada di judul...)

Dulu itu sang dosen pernah bilang ada fallacy bahwa, ketika seseorang menyampaikan kritik namun dia tidak bisa memberikan saran perbaikan, maka kritiknya tidak bisa diterima.

Selama ini, QQ emang kadang nggak enak ngasih kritik, karena merasa ga bisa kasih saran yang lebih baik terhadap suatu permasalahan yang ada. Kita tuh kadang merasa berkewajiban ngasih saran hanya karena kita menyampaikan sebuah kritik ke orang lain.
Padahal saran dan kritik merupakan dua hal yang tidak selalu berbarengan.

QQ menyadari ini dalam sebuah diskusi, ada seseorang yang memberikan sebuah kritik terhadap sebuah rancangan peraturan gitu, kemudian pimpinan rapat bertanya, "Lantas saran apa yang anda ajukan?"

Orang tersebut menjawab, "Saat ini saya belum bisa memikirkan jawaban atas permasalahan tersebut, semoga saja dapat kita pikirkan bersama."

Seketika itu, QQ teringat tentang logical fallacy ini, seandainya saja orang tadi itu tidak berani mengungkapkan kritiknya hanya karena ia tidak dapat memberikan saran perbaikan, maka rancangan peraturan tersebut akan naik dengan sebuah kecacatan yang tidak disadari oleh orang-orang.

Kemudian QQ pikir lebih jauh lagi, Simon Cowell, juri American Idol. QQ penasaran apa dia bisa nyanyi paling ga sebagus orang yang dia kritik. Perasaan sih kayanya nggak, tapi nevertheless, kritiknya tetap valid. Apakah lantas kemudian dia bisa ngasih saran untuk cara-cara mencapai pitch nada yang tepat? kayanya nggak juga...

Kalo ada yang kasih kita saran, kadang kita tuh ngomong, "Kalo ga bisa kasih saran perbaikannya, mending ga usah ngomong deh! nambahin masalah aja..."

Dengan itu, kita menutup kemungkinan-kemungkinan adanya kritik yang sebenarnya perlu kita dengar demi perbaikan kita sendiri, masalah tindak lanjut atas kritik tersebut bisa kita pikirkan lebih lanjut. Perbaikan tuh dimulai dengan mengetahui wilayah mana saja yang butuh diperbaiki. Kalo kita mau memperbaiki sesuatu, tapi ga tahu apa yang mau diperbaiki... yah, antara ga maju-maju atau usaha kita mungkin tidak akan tepat sasaran. 

Jadi kalo kita merasa strongly tentang sesuatu dan kita ingin memberikan sebuah kritik, jangan terbebani oleh kewajiban untuk memberikan saran karena kita bisa saja memikirkan kritik tentang sesuatu, dan di ujung sana ada orang yang ternyata memiliki sarah atas kritik yang kita ajukan, jika pun tidak ada yang bisa kasih saran, paling tidak kritik tersebut telah disampaikan dan bisa menjadi bahan renungan bersama.

Jika kita yang kedapetan sebagai pemimpin rapat, maka ciptakanlah sebuah suasana yang kondusif dimana setiap anggota rapat merasa aman untuk mengungkapkan pendapat dan jika ada kritik mereka tanpa adanya judgement untuk keharusan memberikan saran atau jawaban atas masalah yang mereka ungkapkan.

Ini adalah dua sisi mata uang,
Jika kita sebagai penerima kritik, sadarilah bahwa kritik bisa datang dari mana saja. Ketika seseorang berpendapat, dan kita kurang setuju, yang kita tanggapi adalah konten dari kritik yang disampaikan dan bukan siapa yang memberikan kritik tersebut.

Jika kita sebagai orang yang memberikan kritik, maka boost-up your confidence dan orang mungkin saja menyerang siapa kalian dan bukan apa yang kalian ucapkan, maka siap-siaplah dan sadari bahwa tidak semua orang menyadari bahwa mereka sedang melakukan logical fallacy dalam perilaku mereka.

Mungkin dalam blog ini juga banyak logical fallacy di dalamnya, jadi sampaikan kritik dan saran kalian melalui komentar di bawah.

#wink

Sebenernya kalo mau di bahas lebih lanjut, bentuk logical fallacy tuh banyaaak banget dan butuh satu semester sendiri kayanya buat membahas keseluruhannya. Bahkan sampe sekarang-pun QQ masih pelan-pelan berusaha memahami satu persatu dari logical fallacy tersebut. Kalo mau lihat beberapanya, klik disini.

remember,
Thou shalt not commit logical fallacy....

Thursday, March 10, 2016

Cost and Benefit in Relationship

Pernah denger kalimat ini? Homo homini lupus... Man is wolf to another man...

Mungkin ini adalah penerapan teori x yang lumayan ekstrim dimana kita mengasumsikan bahwa semua orang tuh adalah orang jahat yang diibaratkan dengan serigala. I have nothing against wolf, but that's what it said. Kalo kita perhatikan lebih jauh, serigala merupakan hewan yang berkelompok. Mereka terkadang selalu terlihat berkelompok, namun ketika bertemu dengan kelompok lainnya, mereka akan saling menyerang.

disclaimer:
Pengetahuan QQ tentang serigala tidak berdasarkan fakta, namun berdasarkan pengamatan terhadap kelompok serigala di film Twilight
#TeamJacob

Jadi, serigala yang kayanya jahat itu, sebenarnya baik, selama mereka berada dalam kelompok mereka. Tapi dalam hidup ini, kita sebagai manusia bukankah selalu bertemu dengan orang asing yang belum pernah kita kenal sebelumnya? Jadi proverb tersebut menyebutkan bahwa man is wolf to another man karena kita senantiasa keluar dari kelompok kita dan bertemu dengan orang asing.

Nah kemudian fakta lainnya adalah bahwa dalam hidup ini, kita dituntut untuk bersosialisasi. Dalam blog sebelumnya, QQ pernah nulis tentang benefit bersosialisasi melalui blog berjudul, Walking Alone and Walking Together. Ini adalah benefit terbesar dalam bersosialisasi, dimana kita mendapatkan sebuah companionship dari orang lain dan kita tidak akan merasa sendirian di dunia yang luas ini.

Sendirian merupakan hal yang mengerikan bahkan bagi seorang introvert, karena manusia tidak didesain untuk itu. Sehingga untuk mendapatkan benefit dari bersosialisasi berupa companionship tersebut, kita akan rela mengeluarkan cost untuk menggapainya.

Ketika QQ membahas konsep cost and benefit, maka keduanya tidak hanya sebatas material cost and benefit namun juga cost and benefit yang bersifat non-material. Karena nyatanya terkadang kita memang harus menggunakan cost yang bersifat material untuk mendapatkan benefit yang bersifat non-material.

Dulu ada yang pernah nanya, "Kenapa QQ mengkoleksi buku komik?"
Benar bahwa QQ emang suka baca komik, mungkin komik adalah satu-satunya hal yang QQ suka baca... hahaha...
Namun ada additional-motive dari kegiatan tersebut adalah untuk mencari teman. Dengan punya koleksi komik yang banyak, terkadang ada aja bahan pembicaraan yang berfungsi sebagai ice-breaker dalam sebuah percakapan. Lebih jauh lagi, "Eh, kalo mau minjem, dateng aja ke rumah..."

Melalui cost berupa komik-komik tersebut, QQ mendapatkan benefit dari bersosialisasi.

Nah, ketika misalkan komik tersebut kembalinya rusak karena si orang yang meminjamnya serampangan dalam membaca, hitung-hitungan cost and benefit akan masuk dalam proses penentuan nasib orang tersebut. Mana yang lebih besar, companionship yang dia berikan sebagai sahabat atau harga komik tersebut, yang dulu masih di bawah IDR 10k? 

Terkadang kita semua secara sadar ataupun tidak, melakukan hal ini. Ketika persahabatan itu tidak terlalu kerasa manfaatnya, maka tiba-tiba kita bisa saja menolak orang tersebut ketika ingin meminjam komik yang lain.

Konsep cost and benefit ini juga bisa digunakan untuk menganalisis kenapa orang yang berhubungan, misalkan suami istri, dalam kesehariannya kelihatannya berantem melulu, tapi masih tetap bertahan?
Atau misalkan sang suami suka pake kekerasan, tapi sang istri masih bertahan?

Setiap pukulan, setiap argumen yang kita terima, merupakan cost dalam sebuah hubungan. Namun hal yang tidak pernah kita ketahui adalah benefit apa yang diterima oleh orang tersebut sehingga mereka mau bertahan.
Bisa saja, meski suaminya kasar, sang istri bertahan karena Suaminya adalah sumber penafkahannya setiap bulan. Sehingga benefit yang dirasakan dari hidup berkecukupan, masih bersifat positif dibandingkan dengan cost yang dikeluarkan.
Atau mungkin hubungan sex-nya luar biasa, sehingga meskipun cost yang dikeluarkan begitu menyakitkan, ada benefit yang lebih besar yang bisa membuat kita bertahan.

Banyak kemungkinan lainnya, namun terkadang kalo kita melihat kejadian seperti ini, yang banyak kita lakukan adalah: mengeluhkan cost yang kita keluarkan tadi namun kita tidak menyebutkan tentang benefit yang kita dapatkan. Apa yang bisa membuat kita bertahan dikala cost yang kita keluarkan sangat besar? ingat-ingatlah saat-saat kita mendapatkan benefit-nya.

Nah, terkadang kita juga terjebak dalam sebuah konsep present cost, future benefit. Paling enak jelasinnya pake contoh hubungan pacaran. Terkadang seseorang rela mengeluarkan present cost meskipun ternyata pacarnya bajingan, dengan terus menerus mengharapkan future benefit berupa, "Siapa tahun nanti dia akan berubah jadi baik dan bertanggung jawab di masa yang akan datang..."

Yah, karena itu masa depan... bisa aja iya, bisa aja nggak.
Namun cost yang udah kita keluarkan itu bisa saja menjadi investasi. Kalau ternyata investasi tersebut menghasilkan, mana benefit yang akan kita terima di masa depan bisa saja lebih besar, namun yang namanya investasi, ada juga kemungkinannya untuk gagal dan ketika kita sadari, kita sudah mengeluarkan cost berupa waktu dan dedikasi yang terlalu besar untuk tahu bahwa si dia takkan berubah.

Maka kemudian akan muncul pertanyaan, kenapa QQ sampai saat ini belum memutuskan untuk menikah??
Pasti dari kalian banyak yang pengen tahu kan???
#GR

Barang substitusi dari "relationship" adalah "living single".
Sebuah hadits yang sangat menggambarkan ini adalah, "Dan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain"

Terkadang dalam hidup kita, kita tuh merasa "dimanfaatkan" oleh orang lain, padahal kalo menurut QQ, Kalo QQ masih bisa dimanfaatkan, Alhamdulillah banget, artinya masih ada gunanya hidup.

Dalam tahapan ini, QQ sedang menikmati sebuah barang bernama "living single" dan hidup sendirian ini memiliki beberapa benefit tersendiri, namun tidak berarti karena hidup sendiri terus ga ada biaya. Banyak biayanya, contohnya longing for companionship (milih diungkapkan dalam bahasa inggris, soalnya kalo bahasa Indonesianya... kesepian, hahaha...)

Namun ketika kita harus menjalin hubungan, konsep benefit dalam "relationship" tersebut akan ditandingkan dengan benefit ketika "living single", begitu pula cost yang dikeluarkan untuk kedua pilihan tersebut.

Untuk seorang introvert, kecenderungan untuk pilihan hidup sendirian akan terdengar sangat menarik, karena cost yang terkait dengan berhubungan dengan manusia lain akan bisa diminimalisasi. Namun tak pelak, kadang benefit companionship tuh sangat menggoda dan untuk beberapa kali QQ udah mencoba itu, and yet, it always failed. Kayanya menemukan kepribadian yang cocok dengan kepribadian QQ tuh bukan suatu hal yang mudah. Ibaratnya tuh konsep job person match, jadi bukan karena kepribadiannya buruk, namun emang karena kepribadiannya ga cocok aja.

Tidak ada kepribadian yang buruk di dunia ini, yang ada kepribadian yang ga cocok antara satu dengan lainnya.

Extrovert tidak lebih baik daripada introvert ataupun sebaliknya. Masing-masing kepribadian memang memiliki kecocokannya masing-masing. Extrovert kalo disuruh ngikutin introvert, pasti bakal capek banget dan begitupun sebaliknya. Namun bukan berarti introvert dan extrovert bukan pasangan yang cocok.

Kepribadian tuh punya ribuan cabang dan ga sekedar inreovert atau ekstrovert. Dengan dukungan kombinasi kepribadian yang lain, maka kedua ujung spektrum kepribadian tersebut bisa saja cocok. Hanya saja, saling berusaha memahami satu sama lain, itu merupakan cost yang harus dikeluarkan. Sekarang tinggal, apakah benefit-nya sepadan?

Berteman, pacaran dan membina biduk rumah tangga memiliki cost yang berbeda. Jika kita mengeluarkan cost setinggi biaya yang dibutuhkan untuk membina biduk rumah tangga, namun hanya mendapatkan benefit yang setara dengan pertemanan, pertanyaannya kemudian menjadi, "Why bother?", ngapain kita repot-repot, lebih baik banyakin teman aja.

Jadi menurut QQ, benefit being single masih lebih besar daripada benefit being in a relationship. Maka dari itu, QQ masih menikmati kesendirian. Kalo butuh companionship, ada teman-teman yang bisa diajak jalan. Kalaupun ga ada, hey, being alone doesn't always mean lonely. Introvert enjoys solitariness.

Ketika dalam hidup kita ini nilai benefit-nya selalu negatif yang artinya lebih besar cost yang kita keluarkan, maka dampaknya adalah hidup yang tidak bahagia, penuh kekecewaan dan gampang marah. Karena faktanya adalah terkadang upaya yang kita keluarkan tidak sepadan dengan apa yang kita dapatkan.

ada dua hal yang bisa mengurangi rasa kecewa kita:

  1. Ikhlas, percaya dengan future benefit yang akan diberikan oleh Allah swt.
  2. Hidup mah nyantai aja... spent less cost, then every benefit that you get will always seem positive benefit.

Keduanya bisa diterapkan bergantian. 

So if I'm willing to spent some costs for you in form of time, money, effort and all, it means that I value your companionship above all of those costs. 
But when I think that your companionship only brings more pain and even more cost, dang it, I wont even spent one cent for you.

Kata kuncinya adalah, kembali ke blog sebelumnya, Jujur dan Adil.

Tuesday, March 8, 2016

Jujur dan Adil

Oke... blog ini tidak akan membahas soal pemilu, meski sama jargonnya, tapi ini adalah jargonnya QQ dalam hidup dan sesungguhnya yang QQ harapkan dari semua orang untuk bertindak sebelum hal lainnya.

First and foremost, you have to be honest as a person in this world and act fair.

Sebuah kisah tentang kebohongan, arti lawan kejujuran. Mungkin kalian pernah tahu, karena ini kisah yang cukup klasik.

Alkisah sebut saja si Fulan. Fulan ini adalah pengembala domba yang iseng. Contoh keisengannya adalah pada suatu hari dia berteriak kencang minta tolong, "Tolong... ada kawanan serigala dan domba-dombaku diserang... tolooong..." teriaknya memecah suatu siang. Dengan segera warga berlari menghampiri Fulan, ada yang membawa kapak, ada yang membawa cangkul, ada yang membawa tongkat untuk menghalau serigala tersebut. Namun ketika warga tiba di tempat Fulan berada, mereka hanya menemukan Fulan yang tertawa terbahak-bahak.

Esoknya Fulan mengulangi lelucon yang sama. Dan kembali warga hanya menemukan Fulan tertawa terbahak-bahak. Kali ketiga Fulan teriak minta tolong karena dombanya diserang kawanan serigala, warga sudah tak mau percaya lagi dan memutuskan untuk mengacuhkan teriakan Fulan. Sorenya salah satu warga yang kebetulan lewat menemukan Fulan bersimbah darah tercabik-cabik dan tampaknya akibat serangan serigala.

Tujuan kita hidup jujur adalah untuk mendapatkan kepercayaan orang lain, kepercayaan orang-orang yang kita anggap penting dalam hidup kita. Jika dalam hidup ini kita udah kebanyakan bohongnya daripada jujurnya, maka ga akan ada orang yang percaya ama kita lagi.

Lalu, apakah itu adil?
Aa' Gym pernah mendeskripsikannya sebagai, ketika kamu mendapatkan apel untuk dibagi dua, sebut saja untuk kakak dan adik. Maka adil adalah, ketika sang kakak membelah, dia siap membiarkan sang adik untuk memilih duluan belahan apel mana yang dia inginkan.

Tapi kalo QQ tidak selalu menganggap adil itu adalah 1 diganti dengan 1. Ada sebuah hadits Qudsi yang sebetulnya tidak berbicara soal keadilan, tapi menurut QQ, itu adalah konsep keadilan QQ.

Allah berfirman : Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta Aku akan mendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari 
(HR. Bukhari - Hadits Qudsi)

Ini adalah batas keadilan QQ. Jika kamu memang baik, dan mau berusaha. Maka balasan untuk satu jengkal adalah satu hasta, satu hasta adalah satu depa dan untuk usaha yang kamu berikan dengan berjalan, akan dibalas dengan berlari. Tapi kata kuncinya di sini adalah, ada usaha dari pihak lain untuk melakukan sebuah kebaikan.

Lalu kenapa konsep jujur dan adil ini penting dalam hidup QQ? 
konsep kejujuran ini sangat erat dengan konsep kebahagiaan dalam hidup QQ.
(baca: http://chronovinc.blogspot.co.id/2015/12/my-pursuit-of-happiness.html)
Berteman dengan pembohong sangat-sangat merusak kebahagiaan QQ.

Terkadang QQ menyaksikan orang berbohong pada hal-hal yang kecil dan remeh, seperti: "Lagi dimana?" "Udah makan apa belom?" "Mau kemana abis ini?"
Kemudian ngeles yang paling sering QQ dapatkan adalah, "Ga penting juga... bohong ga bohong ga masalah"

Kalo argumen tersebut QQ balik menjadi, "Hal tersebut ga penting dan remeh, terus ngapain bohong?"

Lady Gaga pernah bilang dalam salah satu video clip-nya bersama Beyonce, "Trust is like a mirror, you can fix it if it's broken, but you can still see the crack in that mother fucker's reflection"

Sekali ketahuan bohong, akan sulit untuk menyandarkan hidupmu pada seseorang yang dimana butuh kepercayaan sangat besar. Mungkin pada suatu tahapan tertentu, QQ sudah kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. hahaha...

Meskipun kadang verifikasinya ga sepenuhnya, karena kalo diterapkan sepenuhnya, suseee... setelah lewat tahapan kejujuran, maka kita masuk ke tahapan keadilan. contoh paling ekstrim yang bisa QQ berikan adalah. Ketika QQ mendukung konsep poligami, maka ketika ada wanita yang ingin melakukan poliandri, QQ akan sama mendukungnya. Terlepas dari secara Islam, poliandri terlarang untuk banyak alasan. Namun for the sake of fairness, itu adalah yang menurut QQ adil.

QQ sangat-sangat bermasalah dengan orang yang jalan berdua, tapi malah sibuknya sama HP chatting sama orang yang jauh di sana sementara orang di depan mata diabaikan. Namun karena prinsip keadilan, ketika QQ maen HP juga orang tersebut ga masalah, maka ya udah, artinya memang itu adalah kebiasaan orang tersebut dan QQ siap aja maenin Candy Crush Saga sampe ratusan babak.

Sebuah contoh lagi, misalkan seseorang selingkuh, maka QQ tidak akan mempermasalahkan selama ketika orang itu diselingkuhin, dia bisa terima.

Konsep keadilan ini menjadi terlanggar ketika orang tersebut kemudian marah atau tidak terima. Maka menjadi sesuatu yang aneh ketika seseorang berlalu sesuatu kepada orang lain yang dimana dia tidak mau ketika orang lain melakukan hal tersebut pada dirinya.

Banyak contoh lain, misalkan seseorang kita kirim chat, trus dia lamaaa banget balesnya. Kemudian kita tanya, "Kok lama balesnya?" Orang tersebut lantas menjawab dengan, "Sabar dong, orang kan bisa sibuk juga..."

Eh pas dia yang kirim chat, trus kita yang lama balasnya, dia malah mengirim, "Udah ga perduli lagi sama aku??"

Pengen nabok ga sih???

Orang tuh kadang ga adil. Namun terkadang banyak dari kita tidak menyadari bahwa kita tuh sedang berbohong dan/atau memperlakukan orang lain secara tidak adil tanpa kita sadari karena bagi kita itu suatu hal yang biasa kita lakukan. 

Sebuah proverb berbunyi, "Don't do unto others, what you wouldn't want done unto you" Jangan lakukan kepada orang lain hal yang kamu sendiri ga mau kalo orang lain lakukan kepada kamu.

Jadi konsep kejujuran dan keadilan ini dalam satu sudut pandang, cukup bertumpang tindih. Lantas karena konsep keadilan, apakah ketika seseorang membohongi kita dan kemudian ketika kita membohongi dia dan dia menerima itu lantas kita bisa berbohong karena konsep keadilan?

Benar. Menurut QQ, se-ekstrim itu konsep keadilan ini bisa dibawa.

Hanya saja, kalo QQ ga sepadan aja mengorbankan konsep kejujuran untuk menggapai keadilan. Emangnya ga ada temen lain di dunia ini?

Nih bisa lanjut ke blog berikutnya soal Cost and Benefit dari Bersosialisasi, nantikan tanggal tayangnya....

QQ jarang punya ekspektasi kepada orang, tapi dua hal ini adalah hal yang sangat QQ harapkan dari orang. Kalian bisa menjadi seorang bajingan... tapi paling ga, bajingan yang jujur dan adil.

Bayangkan kalo semua orang jujur, bisa-bisa penjara penuh.
Tapi kita berbicara dari sudut pandang dampak, bagaimana kalo karena setiap orang harus jujur, maka ga akan ada orang yang berani berbuat kejahatan, karena dia tahu kalo ditanya dia harus menjawabnya dengan jujur.

Dan oh ya, QQ ga pernah percaya dengan white lies, yang namanya bohong ya bohong aja, dengan satu pengecualian, untuk melindungi orang yang sedang dizholimi orang lain.
(baca: http://chronovinc.blogspot.co.id/2008/12/bohong-buat-kebaikan.html)

Yah, kadang dunia ini memang ga seindah apa yang kita inginkan. Tapi kata Mahatma Gandhi, "Be the change you want to see in the world"

Tinggal do'a terakhir, semoga aja bisa istiqomah....
:D