Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Tuesday, August 18, 2015

Kisah Hilangnya 10 KG Kurang dari 2 Bulan

Sekarang mood QQ lagi cihuy nih buat nulis, dan kayanya topik ini udah lama banget pengen ditulis, tapi emang keduluan ama si blog saingan itu... hmmm... you know who you are...

Tapi sekali lagi, bukan blog tandingan dan masing-masing orang beda-beda kemampuannya dalam usaha mereka menurunkan berat badan.

secara tinggi QQ sekitar 180cm, maka berdasarkan berat ideal (minus 100), maka harusnya berat QQ tuh sekitar 80kg saja. Sedangkan berdasarkan BMI calculator, berat badan ideal untuk QQ adalah sekitar 60 - 80kg saja. Jadi awaking moment-nya waktu itu adalah ketika berat badan QQ menyentuh 96kg. Drop dead gorgeous banget dah, ga tahu gimana kisah khilaf-nya sampe angka segitu bisa kesentuh dan kerasa sehat sih sehat... tapi ketika celana-celana dan kancing-kancing kemeja pada menjerit, yah... kerasa juga akhirnya.

QQ sih olahraga yaaa, baik itu ke gym atau berenang. Namun yang jadi masalah paling besarnya adalah membuat itu menjadi rutinitas. Karena nanti seminggu jor-jor-an terus off.... nanti beberapa bulan kemudian, jor-jor-an lagi seminggu, trus off lagi. Ga bisa lah stripping kaya sinetron-sinetron yang kekinian itu.

Setelah dianalisa lebih jauh lagi apa masalahnya, QQ tuh suka makan, jadi untuk mengendalikan makan dengan makan yang sehat tuh susah. Coba diet buah, gagal. Diet sayur, lewat. Diet ga makan nasi.... hahahaha.... bye!

Kemudian kenapa QQ selalu on-off gym, setelah dianalisa lebih jauh dengan memperhitungkan faktor-faktor yang terkait dan setelah dilakukan analisis cross-sectional, kayaya masalah QQ adalah latihan beban. Rutinitas di gym itu adalah, lari di treadmill 30 menit terus 3 - 4 jenis latihan beban buat either biceps ama chest atau shoulder ama triceps trus pendinginan dengan latihan perut sambil yoga ala-ala...

Karena seringnya QQ on-off, jadi tiap kali latihan tuh serasa kaya baru mulai lagi setelah sekian lama. Otot-otot yang udah lama ga di latih itu mulai kerasa sakit-sakit lagi. Dan akhirnya keesokan harinya yang terjadi adalah ketika ada perang mental dalam kepala QQ yang luasnya ga seberapa ini, justifikasi untuk QQ males latihan tuh lebih gede. Mulai dari yang kesiangan lah, ntar ada kuliah lah, dan pastinya... duuuh, tangan QQ sakit... besok aja lah.... Dan besoknya begitu lagi... begitu lagi dan akhirnya program QQ ga ada yang jalan.

Jadi akhirnya QQ mulai melakukan perenungan tingkat tinggi dan tanpa melibatkan dunia gaib, QQ menemukan program yang tepat. Fokus QQ adalah "Where is your strength?" Alias, dimana kekuatan utama kita? Kalo QQ merasa, kekuatan utama QQ ada di daya tahan dan kaki. Tapi bukan daya tahan di kasur yaaa... hahaha.... T . T

QQ tuh orangnya suka jalan kaki. Secara di Singapura juga emang tempatnya kondusif banget buat jalan kaki, jadi makin terlatihlah kaki ini. Moga aja ga sampe kaya kaki tukang becak, kalo kaya lobak, udah lah...

Nah jadi, sebenernya untuk menghilangkan kalori itu, yang dibutuhkan adalah aktifitas. Kita makan untuk menambah kalori dan dikeluarkan melalui aktifitas. Konon katanya, tidur juga pake kalori. Nah bedanya adalah berapa jumlah kalori yang dikeluarkan. Kalo tidur dibandingin ama belajar, tentu aja banyakan kalori yang dipakai buat belajar.

Jadi karena usaha QQ untuk gym dan latihan beban gagal melulu, ini saatnya meluruskan target. Prioritas QQ otot dulu ato turun berat badan dulu?

Maka, ketika itu QQ memutuskan untuk turun berat badan dulu. Jadi QQ sama sekali nggak menyentuh itu barbell, dumbell dan segala sesuatu yang memiliki beban. Yang QQ lakukan sederhana. Lari... Run for your life atau mungkin lebih tepatnya, lari dari kenyataan... hahaha...

Dan lagi, enaknya di Singapura itu, jogging track-nya itu ga hanya tersedia, tapi juga well-furnished dan empuk pula, karena jalurnya itu kayanya sih dibuat dari bahan karet atau sejenis itulah. Jadi kalo lari tuh enak. Selain itu, kita ga bakal merasa kesepian karena selalu rame.

Oh dan satu lagi, QQ tuh kadang lebih merasa termotivasi kalo ada saingannya. Jadi karena rame itu, kadang kita bisa aja milih siapa orang yang kira-kira bisa menjadi saingan of the day. Jadi lari aja sambil ngebuntutin tuh orang, dan rasanya tuh enak banget kalo QQ masih bisa lari sementara orang itu stop karena ngos-ngosan. Serasa seperti seorang pemenang. tapi emang salah juga sih kalo tiap pagi milihnya kakek-kakek buat saingan... hahaha...

Nah, itu program pagi... Lari sekitar 8-10 keliling jogging track itu. Yah, sekitar 30-40 menitan lah. Tiap pagi bangun jam 7 dan lari. Lari dari kenyataan...

Trus dimulailah aktifitas hari, dan waktu itu komitmen QQ selanjutnya adalah untuk selalu memilih tangga instead of eskalator. Kalo ada tangga, pilihnya tangga. Lumayan, bakar-bakar kalori dikiiit... 

Nah, aktifitas sehari itu belum selesai sampai ditutup dengan sesi 1 jam di gym. Sorenya atau malemnya, QQ masuk gym, tapi sama sekali ga pegang beban. jadi yang QQ lakukan adalah 30 menit di treadmill dan 30 menit di orbitrex plus masing-masing 5 menit pendinginan.

Nah, kalo kita bicara soal lari di treadmill, itu beneran lari, bukan jalan-jalan dan maju mundur cantik yaa.... programnya QQ sih agak random buat menjaga diri dari rasa bosen. tapi biasanya, 

  • 2 menit speed 6 buat pemanasan, 
  • 5 menit speed 8 mulai lari, 
  • 13 menit speed 10 buat lari lebih kenceng (kadang 10 menit speed 10 dan 3 menitnya speed 12) kemudian, 
  • 5 menit turun ke speed 9, 
  • 5 menit terakhir di speed 8. 

itu 30 menit dan untuk 5 menit pendinginannya di speed 6. tuh 35 menit tuh.

Nah, setelah itu, pindah ke orbitrex. ga tahu juga deh nama resminya alat ini, pokoknya yang kaki berayun-ayun itu lah, kaya seolah-olah jalan di awan. 30 menit di situ dengan resistance bervariasi dari 4 sampe 12. 5 menit terakhir pendinginan.

Udah selesai lari dan berayun-ayun, diakhiri dengan meditasi sampe rileks.

Hari pertama, itu betis udah kaya kebakar, dikasih bumbu BBQ, kayanya udah well-done itu.

Tapi lama-lama terbiasa. Enaknya itu adalah, pegelnya tuh di daerah kaki aja. Daerah atas aman. Jadi rasa malas itu mungkin sedikit lebih bisa dikendalikan. Rutinitas ini dilakukan secara harian kecuali mungkin sehari dalam seminggu dan QQ biasanya milih Jum'at. Tapi kalo pas day off itu QQ masih semangat lari, ya sesi paginya aja sorenya istirahat. Kalo pas ternyata hari itu hujan, maka pagi dan sore larinya di gym. Hanya saja kalo dua-duanya di gym, maka paginya 30 menit saja dan sorenya 1 jam. Yah, atau tergantung mood juga, kalo pas lagi menggila... pagi sore bisa sejam masing-masingnya. hahaha...

Yah, mungkin ini bukan program yang seimbang dan cocok untuk semua orang. Karena emang agak gila dan jor-jor-an sih... hahaha.. but it suits me well

Alhasil, dari 96, QQ terakhir dulu pas cabut dari singapura, berat badan sekitar 86 dan itu kurang dari 2 bulan. Tapi ada kalanya saat-saat dimana QQ merasa lelah dan bad mood. Namun yang QQ lakukan adalah, pokoknya bangun dulu, pasang headset trus jalan dulu ke jogging track. Kalo nyampe sana masih males, yaah lari pelan-pelan aja. Tapi biasanya sih sudah sampe sana, trus lihat orang-orang pada lari, biasanya langsung ikut panas juga dan ikutan lari juga akhirnya.

Musuh terbesar kita adalah rasa malas. 
Jadi intinya kalo kita memang ingin menjaga berat badan supaya ideal, intinya adalah bagaimana kita bisa menentukan tujuan kita dan kita bisa menentukan latihan apa yang tepat. Kalo suka nari, maka dance. Kalo suka sepakbola, maka play. intinya adalah bergerak dan beraktifitas, jadi kalori yang kita ambil itu tidak lantas kemudian bersemayam menjadi lemak di sana sini. 

Lebaran kemaren QQ lumayan menggila dan sejak balik ke Indonesia, menemukan jogging track yang letaknya dekat rumah dan nyaman untuk digunakan, terbukti bukan hal yang mudah. Akhirnya berat badan kembali naik. Setelah menetap di Jakarta, Lapangan Banteng kayanya bukan lapangan yang cukup nyaman untuk lari, sehingga akhirnya QQ memutuskan untuk menyisihkan sebagian (besar) penghasilan untuk gabung di gym. Pagi lari, sore lari. Kalo bisa siang lari mah, tak jabanin. Tapi berhubung sesuatu dan lain hal, kayanya pagi dan malem aja deh. Udah kaya gabungan nama dua restoran, Pagi Sore dan Siang Malam... hahahaha.... jadi pengen makan Padang....

One last tips is that, enjoy it!! it might looks like that you are forced to do it in the beginning and everything is about redeeming yourself for eating to much (that's me), but when it became part of your daily life, it will become easier....
at least, that's what I keep telling myself every morning when I woke up at 5am just to go to Grand Indonesia to run for 30 minutes and arrived at my office before 8am. Thigh is burning like crazy but I hope I can reach 80kg soon enough. After I reach 80, I will start the weight training.

And yeah, my Instagram will soon full of half naked photos....
hmmm.... kayanya QQ mulai mikir kayanya badan QQ ga pernah bisa bagus karena emang niatnya ga bagus... hahahaha...

Well... it's a journey, life itself...
Good luck finding one program that suits you best!!!

Friday, August 7, 2015

We Simply Don't Have the Luxury

At some point in my life a fine-looking lady asked me, "Hey, you're about to graduate soon, what will you miss the most about Singapore?"

Well, what a deep and profound question yet I answered it with a super duper shallow answer, I responded to her, "Well, I think I'm going to miss the monthly stipend"

Well, on the surface, yes... that's the number one thing I will definitely missed. but then again when the time actually come to part with that little-amazing-red-dot and landed in the capital city of Indonesia, Jakarta, it struck me, lightning-hard and damn... what I actually missed from Singapore is "the convenience of living in Singapore". 

If you ever tried the mass rapid transport in Jakarta called TransJakarta, you will know why.

Then I think deeper, why could this happened and the answer was, "We simply don't have the luxury to it"
Having a convenience life in Jakarta is a luxury.

In Singapore, if you're crossing the street, cars, buses, motorbike, truck everything that moved on the street will stop for you and give way to you. You can try that in Jakarta and I can assure you that you will end up in either hospital or six-feet-under.

And I think again, there's no reason to rush in Singapore. There's no harm in giving way to the pedestrians. If you lost a moment in the street, you can easily catch up because the road in front if you is almost clear of cars. While in Jakarta, if you stop in order to give way here's what will happen:
1. Cars behind you will honking like crazy
2. Cars behind you probably will hit your behind because it was not anticipated
3. Cars behind you will outride you
4. Once you stop, you will definitely stuck in traffic, so basically your life is always on the rush.

We simply don't have the luxury of having a convenience driving. If you're going slow, everyone will outride you. So everyone is fighting the opportunity to be on the road and yet I think that's the main cause of traffic. If only people can drive with their brain instead of their hands, they can make things easier by giving way to others. Instead, people are always fighting over the road and no one is willing to stop for a moment and drive with ease.

In Singapore, it's rarely to feel 'stuffed' in the bus or train. You can try the public transport in Jakarta, okay.. I will skip the "angkot" part because that's on another world. Let's talk about "TransJakarta" or famous with "Busway". You will almost all the time found this happened:
1. People are pushing other people in order to get in the bus
2. You will be standing and stuffed inside because the bus is freaking-full
3. Smells awful
3. You feel healthier when you get down because you just enjoyed a sauna in a bus

Well, again... we simply don't have the luxury of having a convenience transport. I asked again why? well, in Singapore you stop at the designated bus-top or train station, therefore there's no bus stop at their own discretion and creating traffic. secondly, if you see a bus getting too crowded you can just not riding it and wait for the next one to come because the arrival time is (almost) definite and you can see it in the app. As here in Jakarta, One bus come and you can't tell when another bus will passing by and waiting in a crowded and hot busway-station is not comfortable. So once a bus come, you will surely have to fight you opportunity in getting one ignoring the fact if the bus is already full. The bus can show up once in every 5 minutes if you're lucky yet I once waited for freaking 30 minutes and no bus showed. 

In Singapore, It's so convenience to walk at 2am in the early-morning from orchard to Dunearn Road. If you don't feel like taking a cab because it's a bit expensive and decided to live a healthier life by walking more often, you can enjoy the stillness of Singapore at 2am and you feel safe. You can try walking at the same time in Jakarta, I will have to warn you... please hold on tight to your wallet and on the side of the road you might see some unpleasant view. 

Well again, we simply don't have the luxury of having a convenience walking in the middle of the night. Why? I actually enjoy driving in my bike as late as possible because at that time, I can enjoy Jakarta as if I'm in Singapore with a road clear-of-cars and I can drive fast. But I can tell you this, as long as I live in Jakarta, (knock on wood) I never got mobbed on the street, though... my motorbike once got stolen in my boarding-house (alias kost). so from my perspective, Jakarta street is actually safe. but the fact that the image and the news are making it worse that it is.

In Singapore, there are some trash but you will rarely see it outside of the trash-bin. It's 98% clean from trash. When you walk in here, you will see the trash is everywhere and the smell is freaking horrible. even while driving I often see people are throwing cigarette-butts from their car or tissue and even a plastic bottle. 

as I've said over and over, we simply don't have the luxury of having a clean life. But then again I think about it. It's true that Singapore have the law of littering with fine up to SGD 1,000. But do you know that in my hometown there's also similar law that prohibit littering from cars with fine up to IDR 5 million (about SGD 500). But I can assure you the difference is at the rule of law. I can talk about this littering issue at a great length, but your span of attention in reading this is almost running out (i know, it's getting too long isn't it?).

Well as a conclusion to this writing, Why don't we have that luxury of living a convenience life here??
Okay, Indonesia is having 250 million people compare to a small Singapore is might be not apple to apple comparison. We might have less infrastructure built, but we still have same resource, that is HUMAN RESOURCE. The convenience of living is not only about the infrastructure, but also about the MINDSET of the people.

You can have traffic in front of you but that must not stop you from become a considerate-driver. Always look around you and stop when you have to in order to prevent more traffic ahead. If you ever notice in several main intersection in Jakarta there's usually a big yellow box and it means that there should be no car inside. So stop even though the traffic-light shows green sign if the cars in front of you can no longer move forward. 

MENTAL TRANSFORMATION is once came out in the campaign season last presidential election and this could be an answer but hard to implement. I often see when I'm visiting beaches, there are teachers, parents, people that should set the example for the future generations, littering. Damn! what will happened when those people set the wrong example and what future generations are we creating?

Think!!!
We really are don't have that luxury of living in convenience, but if you're changing your mindset and start act towards it, we might see some changes towards it.
One act can't make things change, but it surely can start.
So let's start from ourselves and start changing!!!


Thursday, July 9, 2015

Perhatikan Lagi Tempat Anda Sholat

Pernahkah kita bertanya tentang hal ini sebelum kita membaca niat dan kemudian mengumandangkan Takbiratul Ikhram?

Apakah sholat yang kita lakukan mengandung perbuatan dosa??
Sambil beribadah sambil berbuat dosa??

Anehnya, tiap kali QQ masuk masjid, selalu aja ada kasus ini. Sebuah hadits yang sangat populer, 

"Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdisi selama 40 tahun itu lebih baik baginya daripada lewat"
(HR. Al Bukhari 510, Muslim 507)

Hadits ini sangat mengecam bagi orang yang melangkah di depan orang yang sedang sholat. 

Namun, jika kita perhatikan masa kini, sangat berbeda dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW. Jaman dulu, sahabat-sahabat Nabi mungkin akan berebutan untuk menempati shaf terdepan. Namun jika kita lihat sekarang, orang lebih berkerumun di shaf belakang. 

"Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya."
(HR. Bukhari 580)

Terlepas dari hadits yang memberitahukan keutamaan berada di shaf depan, orang tetap memilih berada di bagian belakang masjid. QQ belum pernah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang berada di belakang, namun somehow QQ merasa, "Supaya bisa cepat keluar Masjid setelah sholat berjamaah" bisa jadi merupakan salah satu alasannya.

Sebenernya sudah sesuatu hal yang sangat mulia fakta bahwa mereka melakukan sholat di masjid dan berjamaah pula, namun pernahkah kita menelaah lebih lanjut kenapa duduk di belakang bisa menjadi sebuah perbuatan yang mengurangi pahala kita?

Sebuah pemikiran untuk yang suka memilih untuk duduk di belakang,
Kadang semakin mulia saja fakta bahwa mereka memilih sholat berjamaah di masjid dan kemudian begitu masuk masjid mereka melakukan sholat sunnah baik itu Sholat Tahyatul Masjid atau Sholat Qabliyah dan Ba'diyah. Namun pernahkah jadi sebuah pemikiran lebih jauh, "Apakah dengan mereka melakukan sholat sunnah tersebut di bagian shaf belakang jadi menghalangi orang yang ingin maju ke shaf depan??"

Malah hari ini QQ melihat ada satu orang, sholat di belakang dan kemudian lagi-lagi dia melaksanakan sunnah Nabi dengan mengulurkan tangannya dan menghalangi orang yang melintas di depannya karena ingin maju ke shaf depan, karena shaf di depan orang tersebut masih banyak yang kosong.

Jadi ketika melangkah di depan orang sholat begitu dikecam dan bahkan lebih baik menunggu selama 40 tahun, lalu apakah dosa orang yang sholat di bagian belakang dan pada akhirnya membuat orang lain melangkah di depannya karena orang tersebut ingin menempati shaf terdepan??? Apakah kemudian katakanlah ada 20 orang yang mau masuk masjid, apakah 20-an orang tersebut harus mengantri selama 40 tahun menunggu orang tersebut selesai sholat untuk bisa menempati shaf depan??? 20 orang harus menunggu 1 orang sholat??? lalu bagaimana jika ada 100 orang???

Pertanyaan QQ sebenarnya adalah, "Orang itu tahu mengenai dosa melintas di depan orang sholat, LALU MENGAPA DIA SHOLAT DI TEMPAT YANG MENGHALANGI ORANG UNTUK MENGAMBIL SHAF YANG MASIH KOSONG DI DEPANNYA ???"

Kalau begitu, mari kita membahas mengapa shaf depan itu begitu mulia...

Ada hadits yang bilang bahwa shaf depan itu pahalanya sama seperti berkurban seekor unta. Mengapa berada di shaf depan ini begitu mulia dan banyak bonus pahalanya?

Maafkan perumpamaan QQ yang mungkin ga terlalu representatif,
Ibaratnya kita dipanggil boss kita untuk melapor,

  1. Orang yang paling depan pastinya orang yang paling lama berhadapan dengan Boss, karena dia adalah orang yang pertama datang dan terakhir pulang. Pertama datang karena dia harus datang lebih awal karena dia ingin berada di tempat terdepan. Terakhir pulang karena untuk pulang, dia pasti harus menunggu orang di belakangnya untuk pulang terlebih dahulu.
  2. Orang yang berada di depan kemungkinan wajahnya untuk diingat oleh Boss akan lebih besar karena dia berhadapan paling dekat dengan boss. 
Sekarang, ganti Boss dengan Allah SWT.
Kenapa kita malah memilih shaf yang di belakang hanya sekedar supaya gampang keluar begitu selesai sholat? Kecuali memang kita sedang dalam urusan yang sangat mendesak, namun kita selalu bisa permisi terhadap orang di belakang kita untuk keluar duluan. Sedikit repot memang, namun pengorbanan untuk orang yang kita kasihi apa pantas disebut pengorbanan? itu adalah ungkapan cinta kita.

Jadi Masalahnya di sini adalah, jika anda memang ingin sholat di belakang supaya cepat keluar dan mungkin karena memang ada kesibukan, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut sebelum anda mengangkat tangan untuk mengucapkan takbir:

"Perhatikan sekeliling anda, jika anda memutuskan untuk sholat di belakang padahal banyak shaf kosong di depan anda, ketahuilah bahwa akan banyak orang lain yang ingin maju ke depan untuk berusaha mendapatkan shaf sedepan mungkin. Jadi jika anda tidak menginginkan kemuliaan yang ada di shaf depan, paling tidak jangan menghalangi orang lain yang ingin mendapatkannya. Pilihlah tempat sholat anda di tempat yang kiranya memberikan ruang bagi orang untuk lewat di belakang anda atau letakkanlah pembatas di depan anda agar paling tidak orang bisa melewati pembatas itu agar bisa maju ke shaf depan tanpa mengganggu sholat anda. Atau sekedar himbauan saja, Allah SWT dan para malaikat bershalawat untuk orang-orang yang berada di shaf depan, apakah anda tidak menginginkan itu?"

Yah, sebuah postingan blog yang bersumber dari emosi lagi. Kadang sebel banget karena pas mau masuk masjid eh ada orang yang sholat. Di satu sisi pengen nunggu, tapi di satu sisi pengen shaf depan juga dan banyak orang lain yang memilih untuk jalan terus. 

Memang kalo secara sunnah, QQ yakin bahwa memang sebaiknya kita menunggu orang itu selesai sholat. Jadi bagi para jamaah sholat yang hendak masuk masjid, QQ himbau juga disini. "Seperti hadits Nabi, Andai kita tahu dosanya melintas itu, lebih baik kita menunggu selama 40 tahun lamanya daripada melintas. Jadi jika jalan kita masuk ke masjid terhalang orang yang sedang sholat, akan lebih baik jika kita berhenti dahulu sampai orang tersebut selesai sholat. Apakah kita mau mendapatkan pahala dari sholat di shaf depan dengan dikurangi dosa dari melintas di depan orang yang sedang sholat?"

Mari kita ramai-ramai menunggu di pintu masjid atau di perhentian terakhir dimana ada orang yang sholat yang dimana dia menghalangi jalan kita menempati shaf terdepan dan biarkan Allah SWT menjadi penghitung amalan perbuatan kita dan semoga saja itu lebih baik bagi kita semua. 

Tahukah anda, logika ini juga berlaku ketika kita mau keluar masjid? ada kemungkinan larangan ini dibuat karena Allah ingin lebih berlama-lama dengan hambaNya di dalam masjid?

Akan selalu datang jamaah baru baik yang masbuq atau memulai jamaah baru ketika jamah sebelumnya telah selesai, jika jalan keluar kita terhalang oleh orang yang sholat, itu adalah cara Allah SWT untuk membuat kita menghabiskan waktu lebih lama di rumahnya. Duduklah sebentar hingga orang itu selesai dan sesungguhnya kita berada di Rumah Allah SWT dan tidak ada rumah lain yang lebih baik daripada itu untuk kita berada di dalamnya. 

Astaghfirullah.
Hanya Allah SWT lah yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.


Puasa Kali Ini....

Sebuah kisah yang sangat mengenaskan ketika pagi ini buka Google Chrome dan mencoba buka alamat nih blog, dan... history Google Chrome pun telah melupakan blog ini dan akh, emang udah kelamaan pula nih blog tak dijamah oleh jari jemari QQ. Pas jalan-jalan ke Korea, niatnya nulis blog tentang gimana jalan-jalan ke sana, trus pas ke Jepang juga pengen nulis... tapi alhasil, zonk!

Entah karena emang masalah kesibukan dalam proses penyelesaian kuliah master di sekolah yang sebut saja namanya LKYSPP itu, atau karena emang lagi in denial dengan hidup? hmmmm....

Akhir-akhir ini setiap kali mau nulis, bawaannya tuh emosi. Basis penulisan kalo udah dimulai dengan emosi tuh bahaya, ujung-ujungnya yang keluar adalah perasaan self-righteous alias merasa benar sendiri dan seolah-olah menyalahkan orang lain dan menyalahkan seluruh dunia. 

Sekarang kuliah QQ udah kelar, 13 Juli 2015 besok, resmi menyandang gelar MPP dengan asumsi Lion Air berhasil membawa QQ dan keluarga dengan selamat ke Singapura.... eh, selamat siapa yaa??? perasaan bertiga doang, ga bawa-bawa selamat... yang bayarin si Selamat siapa????

Sekarang dikit-dikit tuh gampang emosi, masuk bulan puasa aja emosi bawaannya. Asli nih puasa tahun ini merupakan kemunduran yang teramat sangat dimana memang QQ merasakan sendiri kok kayanya malah terjebak dengan apa yang pernah QQ tulis sebelum-sebelumnya. Yah, akhirnya nih blog memenuhi peranannya sebagai pengingat QQ apabila QQ udah terlalu jauh menyimpang dari jalan yang sewajarnya.

Tarawih, bawaannya emosi. Siapa yang bisa jawab pertanyaan ini dapet ucapan terima kasih... ada studi kasus sebagai berikut:

Alkisah, merhatiin ga kalo sholat wajib di masjid-masjid gede terutama, setiap kali bacaan Al-Fatihah, pak Imam-nya itu dengan sangat merdu dan indah melantunkan surat Al-Fatihah yang kadang QQ sampe mikir, "nih mendayu-dayu amat kok kayanya kelamaan deh baca Al-Fatihah doang."

Trus, pas rakaat 3 dan 4 (nih asumsinya Sholat Isya), yang kejadian adalah pas QQ mau baca Al-Fatihan pelan-pelan karena takut selesai duluan dan Imamnya belum kelar, eh tahu-tahu speed QQ baca Al-Fatihah sama dengan speed Imam itu baca Al-Fatihah. Pas QQ kelar baca, Imamnya ruku'.

QQ tiba-tiba bertanya-tanya. Apa yang terjadi di sini? Kemana tuh bacaan Al-Fatihah yang mendayu-dayu, indah dan sangat lama tadi??? Kenapa pas bacaannya dikeraskan, tuh Al-Fatihan jadi panjang dan lama, namun ketika bacaannya tidak dikeraskkan, bacaan Al-Fatihah jadi cepet ato paling ga, speed normal?

QQ kadang emosi sendiri setiap kali ini kejadian. 
Apakah gerangan ini emang tuntunan Nabi Muhammad saw? ada kali hadits yang bilang kalo rakaat 1 dan 2, lambat-lambatkan dan indahkan bacaanmu trus pas rakaat 3 dan 4 yah speed normal lagi.

Masaaaaaaaaaaa????

Akh, ga abis pikir...
Sama-sama baca Al-Fatihah tapi yang satu indah dan lama, yang satunya biasa aja. Beda diantara keduanya adalah: satu didengarkan ama seantero jamaah dan yang kedua nggak.

Mungkin sedari kecil, inilah yang paling membuat QQ takut buat jadi Imam di sholat kecuali Zuhur ama Ashar, karena ada bagian yang dimana bacaan itu dikeraskan dan QQ ga pede dengan bacaan QQ karena buta nada sehingga bacaan QQ bakal datar-sedatar-datarnya. Seolah-olah sebuah tuntutan bagi seorang Imam untuk bisa baca dengan bacaan yang indah dan mengalun-alun.

Namun kemudian, kenapa pada rakaat ketika bacaan itu tidak dikeraskan, Al-Fatihan menjadi cepat??

Teori yang muncul dari basis amarah adalah teori tentang Riya'
Kenapa? karena bagian pertama ada pendengarnya, manusia.... sedangkan bagian kedua tidak ada. Apakah karena ketika membaca Al-Fatihah itu didengarkan oleh manusia lantas bacaan itu menjadi indah dan lama? dan ketika tidak, ya sudah baca Al-Fatihah-nya biasa aja.

Namun siapa sesungguhnya "pendengar" dari sholat??
bukan manusia kan???
jadi tidak perduli itu kencang atau keras bacaannya kalo kita hanya bertujuan untuk didengarkan oleh Allah SWT, maka yang namanya baca Al-Fatihah ya sama aja Al-Fatihah. Kalo memang kita bisa membacanya dengan indah dan mengalun-alun ya meski didengar atau tidak oleh manusia, pada kesemua rakaat harusnya waktu yang kita habiskan untuk membaca Al-Fatihah adalah sama, tidak berbeda.

Trus abis Isya, lanjut Tarawih.... mulai deh baca Al-Fatihah dalam satu nafas. aduuuuuuuuuh.................

QQ beneran penasaran, apa emang QQ yang ga tahu aja dan emang kurang pengetahuan??? jangan-jangan beneran ada tuntunannya kalo sholat emang kaya gitu. Kalo sholat wajib, baca Al Fatihahnya kudu pelan-pelan, pas sholat Sunnah apalagi Taraweh, kalo baca Al Fatihahnya kudu kebut-kebutan karena rakaatnya banyak.

Masa siiiiiiiiiiih???

Namun QQ kebaca blog QQ sebelumnya tentang kerjakan saja dulu, pertanyakan belakangan. Rasanya QQ pengen konsultasi deh masalah ini, hmmm tapi ke siapa ya? kalo nonton tv atau dengar ceramah, bahasan ketika puasa itu beneran ituuuu-ituuuu aja.

kalo bisa bikin top-5 nya buat daftar topik ceramah pas Puasa tuh, mungkin jadinya gini:
1. 10 Malam pertama
2. 10 Malam kedua
3. 10 Malam terakhir
4. Lailatul Qadar
5. Nuzulul Qur'an

Mungkin yaaa... mungkin emang ada orang yang baru pertama kali masuk masjid dan pertama kali mendengar tentang ini. Tapi kadang yang ceramah tuh Professor, Doktor apalah, tapi kok ngebahasnya yang itu-itu aja. Kayanya nggak ada yang kreatif. 

Ga ada yang ngebahas masalah kelurusan dan kerapatan shaf pas sholat. Perhatiin aja tiap kali sholat... alangkah renggangnya dan tidak lurusnya shaf.

Ga ada yang ngebahas keutamaan shaf depan dan kanan. Perhatiin aja tiap kali sholat, orang tuh berkumpunya di bagian belakang dan bukan di depan. Sehingga pas Iqamah, orang mulai bergerak maju dan ujung-ujungnya, shaf renggang.

Ga ada yang ngebahas masalah apa yang QQ pertanyakan di blog ini... 

Eh astaga... tuh kan emosi lagi bawaannya....
Duh, QQ juga ga ngerasa benar... mungkin ini adalah akibat dari banyaknya pertanyaan yang tidak terjawab dalam hidup ini, sehingga mungkin kiranya jika ada yang bisa memberikan jawaban, atau justifikasi untuk permasalahan ini, QQ akan sangat berterima kasih.

QQ beberapa waktu yang lalu kebaca sebuah Hadits, "Cara Allah SWT mencabut Islam adalah dengan cara mewafaatkan Ulama." atau yang sejenis itu...

Kemudian QQ berfikir, tiap kali nonton tv, sebenarnya banyak ulama baru yang bermunculan bahkan ada audisinya untuk menjadi dai. Namun yang kita lihat di televisi kita saat ini adalah, Ulama-Ulama tersebut menjadi bagian dari sebuah acara komedi yang tidak jelas. Atau ulama-ulama yang memberikan ceramah, tapi menurut QQ lebih melawak daripada memberikan ilmu, nanti tahu-tahu di ujung baca doa sambil nangis, entah nangis beneran atau nangis akting.

Apaah memang Ulama telah wafat dan Islam saat ini sedang dalam jalannya menuju akhir dunia??

Well, sekian randomnya QQ pagi ini.
Astaghfirullah.
Hanya Allah yang Maha Benar lagi Maha Mengetahui.

Sunday, March 15, 2015

Halal

The most extreme story about Moslems and Foods that I keep on hearing since my childhood is about how picky they are. One story that I keep on hearing is that the story about a man got invited by a non-muslims and he refused to eat because the cooking utensils was used to cook pork before.

Some of you must have seen the label, it usually written in Arabic word and it sometimes appear in the packaging of some food that you bought. Maybe some of you wonder what is that, or maybe not. But for those of you who are wondering what that means, keep on reading.


I usually lived in Indonesia where the vast majority of the people is Moslem, so the law of majority is applied here. The biggest market in Indonesia is Moslem people, so if you want to sell food, it has to be something that appeal to them and nothing will appeal more other than the halal label. But, since I was living in the Moslem majority country, I never deeply think about the halal thing, because I just assume that everyone knows about it and will try to comply to the majority understanding that if you sell something, it has to be halal.


But, here in Singapore where Moslem is not a majority, suddenly I think about this issue of halal deeply.


No, halal does not mean just "No Pork and No Lard." It goes beyond that.

Let me share you my understanding about "halal"


I always believe that there are two types of "Haram" or "Forbidden" (or something like that). Haram is the opposite of halal, so everything that is not haram, is halal.

Food in general is halal except for Pig and Dog, the rest is halal. I called it SUBSTANTIALLY forbidden, it is forbid because God forbid it, end of the case.

But then, let ask this question. "Area all chicken halal?"

The short answer is no.
The long answer is there is such a thing I called, METHODOLOGICALLY forbidden. in Islam, there is a certain way to kill an animal. You have to say, "Bismillahirrahmanirrahiim" which means, "In the name of Allah, the most gracious, the most merciful". So if a chicken killed without saying that, it becomes not halal. It is not halal not because of the substance, but due to wrong method is in place.

Since now I'm a Public Policy student, I'll use corruption as example. In Islam, it's not only 'how you spend your money' that matter, 'where do you got the money' also matter, so it's the issue of input and output. Corruption is forbidden, stealing is forbidden and when the input is from a bad source, then the output can be bad as well. Chicken can be not halal if it's bought with corruption money.  

Now I'm in Singapore, where Islam is not a majority and at some point in time, what I did is to comply as good as I can to both of the reason why things can be not halal. But I might not always be able to comply with the "Methodologically forbidden" rule, because you'll never know when and where you are hungry. At least, I will not violate the "Substantially forbidden" rule without a super duper strong reason.

The database in my brain reminds me of a story of a person who got stranded in the forest without things to eat and yet he allowed to eat pork because of the necessity at the time and when the choice is death or eat, well... this is where the power of reasoning comes in Islam.

I just keep one thing in mind, "God is the most gracious and most merciful".

But if you find it hard, Seafood is all halal even the carcass one.
except if you stole it or use 'bad' money to bought it, and/or cooked it with pork stock, hahaha...


Saturday, July 19, 2014

Redirect You NUS Mail to Your Personal Email Account

Do you find it bothersome to have another email account from school to the fact that you already have your own personal email account?
But the school email account is the portal where you get all the information on school, though some information might be just spam from the school regarding stuff you don’t actually need.

You might find this method on one of the orientation programme, but the NUS Web Mail is already receiving some email regarding to school as of its activation, so if you rarely check it out, you might miss some important information.

So here's some easy steps to redirect the email from NUS Web Mail to your personal email.

STEP 1.
Visit this site:

STEP 2.
Click on the Green box on the bottom that says, "Email Redirect"
a dialogue box will show up asking you to enter you login information. Put your user name followed by the domain (NUSSTU\) for student.
Then a dialogue box like this will show up,
Put your personal email address in the box provided and then click save.
There's an extra option whether to keep the original email in the NUS Web Mail or not, The best option is to keep it, but since the capacity of NUS Web Mail is so small, you might still have to check it regularly like monthly to make sure that the inbox is still capable of receiving another email.

Now your NUS Web Mail is connected to your Personal Email address and you all your NUS Mail will be redirect to your personal email. You don't have to miss out on everything, included all those annoying mail about school.

If you want to keep it tidy, then make a special folder on your email for NUS Mail and make it automatically redirect to those folder.
How to do this??
by using the Filter feature on your email.

Google it, since those kind of information are available on the net.
:D

Friday, July 18, 2014

Lakum Diinukum Wa Liyadiin

Kalo pas kita lagi Sholat berjama'ah, pernah ga kita memperhatikan?

Sang Imam membaca niat kemudian ber-takbiratul ikhram dan kemudian bersedekap, 

Sedari permulaan ini, bisa kita lihat ada orang yang bersedekap di depan pusar, ada yang di depan ulu hatinya dan ada juga yang agak turun di daerah perutnya.

Kemudian sang Imam mulai membaca Al-Fatihah,

Ada yang basmalah-nya di lantangkan, ada yang basmalahnya disunyikan.

Kemudian setelah membaca Al Fatihah,

Ada imam yang memberikan jeda untuk ma'mumnya membaca Al Fatihah ada Imam yang langsung lanjut membaca surat pendek.

Kemudian sang imam siap-siap untuk ruku',

Ada Imam yang mengangkat tangan untuk bertakbir sebelum ruku' dan ada juga imam yang tidak.

Lalu setelah Sujud, sang Imam duduk di antara dua sujud,

Lihat posisi kaki masing-masing orang, ada yang bertumpuk, ada yang bertumpu kada telapak kaki kirinya saja sementara kaki kanannya ditekuk.

Kemudian sang Imam lanjut berdiri untuk raka'at selanjutnya,

Ada yang bertakbir seraya mengangkat tangan, ada juga yang tidak.

Setiap sholat selalu ditutup dengan Tahyat sebelum salam,

Ada yang langsung mengacungkan jari telunjuknya, ada yang menunggu bacaan syahadat, ada juga yang mengacungkan jari telunjuknya dan digoyang-goyangkan.

Kemudian Sholat itupun ditutup dengan Salam ke kiri dan ke kanan.


Luar biasa, kita mengerjakan ibadah yang sama, tapi dalam pelaksanaannya begitu banyak perbedaan yang terjadi. Namun daripada kita membahas perbedaan-perbedaan tersebut, mengapa kita tidak fokus kepada satu persamaan dari semua perbedaan tersebut.


Apakah ada yang bisa menebak??

Persamaan di balik semua perbedaan tersebut adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT..."

Tak hanya masalah Sholat,

Ada yang tarawih 8 rakaat, ada yang tarawih 20 rakaat dengan metode dan tata cara yang belum tentu sama pula. Ada yang dua rakaat salam, ada yang empat rakaat salam. Tapi dibalik semua perbedaan tersebut, persamaannya adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT TARAWIH..."

Apalagi dalam hal hubungan kita antara sesama manusia, banyak sekali paham-paham di dalam Agama Islam yang nampaknya satu dan lainnya berbeda. Mari kita kembali ke judul tulisan ini, "Lakum Diinukum wa Liyadiin" yang artinya "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku." Ini adalah ayat yang sering kita gunakan untuk menunjukkan toleransi umat Islam terhadap umat beragama lainnya.


Namun, pernahkah kita menggunakan ayat tersebut untuk sesama saudara kita kaum muslimin?

Terkadang kita sibuk mengkritisi sesama saudara kita yang sama-sama mengerjakan ibadah untuk Allah swt. Kita terlalu fokus pada perbedaan diantara sesama saudara kita sehingga hal tersebut memecah belah pesatuan umat muslim. Sementara banyak saudara kita yang mengaku muslim, namun tidak mengerjakan kewajiban-kewajibannya. Kita lebih fokus mengkritisi apakah basmalah dilantangkan atau disunyikan sebelum membaca Al Fatihan dalam setiap sholat.

Daripada kita sibuk menghabiskan energi untuk mengkritisi hal tersebut, mari kita habiskan energi kita untuk mengajak saudara-saudara kita yang belum melakukan kewajibannya. 


Qur'an jelas memerintahkan kepada kita, "Dirikanlah Sholat dan tunaikanlah Zakat"

Kemudian, kita dengan sotoy-nya sibuk mendebat bagaimana tata cara yang benar untuk melakukan kedua ibadah tersebut, sementara ternyata kita sendiri tidak melakukan dua hal tersebut, karena kita sibuk mendebat orang ini salah dan itu salah. 

Kembali ke Blog sebelumnya tentang kisah Sapi Betina, Lakukan saja dulu.... masalah mana yang benar, kita bahas nanti setelah kita lakukan ibadah tersebut. Sudah sholat belum? masalah mau mahzab Hambali, Syafi'i atau Hanafi, itu urusan nanti. Yang penting kita kerjakan dan kita kerjakan dengan cara yang menurut kita benar dan sesuai dengan apa yang kita ketahui.


Eh, merasa benar itu ga ada salahnya, selama TIDAK MENYALAHKAN ORANG LAIN....

Setiap apa yang kita lakukan dalam beribadah, harus kita yakini kebenarannya. Dalam artian, kita punya landasan hukumnya baik itu Al Qur'an atau Hadits Nabi Muhammad saw agar kita tidak terjebak bid'ah atau salah tata cara. 

Nah, masalah ternyata ada hadits lain yang berbeda dari apa yang kita ketahui, maka kita berpegang pada yang kita yakini saja. Biarkan orang lain melakukan sesuai apa yang mereka yakini. Selama keduanya merasa benar, namun tidak saling menyalahkan, maka ga ada masalah toh. 


Kok kita tuh kadang bisa toleransi ama umat agama lain, tapi toleransi ama sodara sendiri, susahnya ampun-ampunan. 


Berdebat itu secara syari'at tidak dianjurkan. Lalu bagaimana cara untuk mencari kebenaran?? Diskusikanlah dengan orang tersebut, bertanyalah dengan cara yang baik-baik dan tanpa saling menyalahkan. Luar biasanya kadang sesama muslim men-cap saudara sesama muslimnya sebagai kafir.


Hey halooo... selama masih mengucapkan syahadat, melakukan rukun Islam dan percaya pada rukun Iman, maka pertama dan yang utama, dia adalah saudara kita sesama muslim. Jika kita merasa dia salah, kita ingatkan. Namun jangan sok mengingatkan, namun landasan kita juga lemah. Yang akan terjadi adalah debat kusir yang ga berguna. 


Jadi ingatlah, toleransi juga harus kita terapkan pada saudara kita sesama Muslim. Jika ia ingin berpegang pasa mahzab A dan kita mahzab B dan ternyata memang ada perbedaan dalam tatacara beribadah kita, maka mari kita kembalikan pertanyaannya, "Apakah ibadah yang diperintahkan itu telah dilaksanakan?" Jika iya, maka kesampingkanlah perbedaan itu dan kita sebagai sesama saudara harus saling bersatu padu.


Kalo QQ melihat Jalan Kebenaran tuh ga sesempit kaya rambut yang dibelah tujuh. Rambut aja udah sempit, gimana lagi kali dibelah tujuh. Jalan yang lurus itu bisa aja kaya sebuah jalan tol dengan delapan jalur. Ada juga kalanya mungkin agak berkelok-kelok dikit. Namun jika ujung jalan tersebut yang menjadi tujuan kita adalah sama, maka perbedaan itu tidak lagi menjadi halangan. 


Kalo kita bisa sholat kemudian meyaksikan perbedaan tersebut terjadi di hadapan kita, namun pada faktanya kita semua bisa menyelesaikan sholat tersebut tanpa ada adu pendapat... maka itu adalah indahnya perdamaian...


Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Mari kita mulai dengan Toleransi kepada sesama saudara kita, kemudian kita perluas dengan toleransi kepada sesama manusia, karena pada akhirnya, "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku"

Kita semua sama-sama mencari, nanti di ujung perjalanan ini, barulah kita bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun sebelum itu, pantangan bagi kita adalah MERASA YANG PALING BENAR!!! Selalu ada ruang untuk kesalahan, karena kita hanyalah manusia biasa yang berusaha menafsirkan makna-makna ilahiyah.


Wallahualam bisshawab



Image Source:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2M4kTHaD1ZRDD2c-hVU1wVLMkmZE96PAy1xVxBTqrkwU6OUujURNgcTVyBcuvzCXVNn0XEN_WCR9zIGqcjBFlZlBcsbJ-GfNzop5Q9tMrnMBEtGOUTyTfkrWImqXTekFDId2W2KxBLnmn/s1600/bigstock-Colorful-raised-hands-The-con-45953353.jpg

Sunday, July 13, 2014

Jangan Banyak Bacot...!!! Kerjakan Dulu....!!!

Q.S. Al Baqarah

67. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh".

68. Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".

69. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya".

70. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)".

71. Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Apakah ada yang familiar dengan Terjemahan Qur'an di atas?

Sepenggal kisah kaum Nabi Musa di Surat Al Baqarah ayat 67-71 yang kalo ga salah sih karena kisah inilah, surat kedua di Al Qur'an dinamakan Al Baqarah yang artinya Sapi Betina. 

Dari dulu QQ selalu bingung kenapa contoh ini tuh dijadikan contoh kaum yang buruk, padahal menurut QQ bukannya malah bagus ya kalo kita meminta kejelasan tentang suatu ibadah sebelum kita lakukan agar terhindar dari kesalahan dari ibadah yang akan kita lakukan.


Tapi beberapa hari yang lalu, QQ merasa mulai mengerti kenapa kaum nabi Musa ini menjadi contoh kaum yang buruk. Kaum nabi Musa adalah Bani Israil, merupakan kaum yang cerdas dan berakal. Kunci dari memahami terjemahan tersebut ada di kalimat terakhir di ayat 71, " Kemudian mereka menyembelihnya dan HAMPIR SAJA MEREKA TIDAK MELAKSANAKAN PERINTAH TERSEBUT"


Jadi kaum ini tuh banyak tanya karena ternyata mereka sebenarnya mencari-cari cara untuk menghindar dari amalan tersebut.

Dari sebuah dialog yang terjadi beberapa hari yang lalu,


---------------------------------------------------
QQ : "Eh, Khatib Jum'at tadi bilang soal ini udah hari ke-14 dan udah berapa juz Al Qur'an yang dibaca?"

Bunga (sebut saja begitu): "Apa tujuannya mengaji? kan itu artinya mengkaji... jadi kalau cuma dibaca aja apa maknanya? kalo ga dibahas dan dikaji lebih lanjut?"

QQ: "Tapi kan perintah Allah ke Nabi Muhammad SAW adalah, IQRA' atau bacalah..."

Bunga : "Yah, kalo semuanya sedangkal itu... ga maju-maju kita.."

Tapi ternyata ibu Bunga ini tidak mengaji Qur'an selama bulan puasa.
---------------------------------------------------
Dialog hipotetikal kedua,


----------------------------------------------------------------
QQ : "Eh, Taraweh dimana malem ini?"

Fulan (sebut saja begitu): "Bingung aku, biasanya taraweh 11 rakaat, tapi disini 23 semua mana ngebut-ngebut pula bacaannya..."

QQ : "Yah, itu khan dasarnya dari perbuatan sahabat Nabi SAW"

Fulan : Aku sih maunya, yang 8 rakaat dan bacaannya santai aja, da buru-buru..."

Tapi ternyata si pak Fulan ini tidak sholat Tarawih di setiap malam bulan Ramadhan.
------------------------------------------------------------------

Banyak contoh dialog lainnya yang bisa saja terjadi dalam hidup kita.

Seperti contoh di kisah Kaum Nabi Musa tadi, perintah yang diterima sebenarnya sederhana, "Sembelihlah seekor sapi betina." Namun kaum tersebut terus menerus bertanya ini dan itu sehingga perintah yang sederhana itu menjadi sangat kompleks. 

Masalahnya adalah, ketika zaman itu, Nabi Musa bisa berkomunikasi dengan Allah swt secara langsung sehingga bisa ada kepastian. Jika di masa kini, apa yang bisa kita pegang?

Jika kita bersikeras bahwa IQRA' maksudnya adalah mengkaji, membahas dan memahami kemudian mengamalkan, maka kita tidak akan pernah membaca Al Qur'an.

Jika kita dibingungkan oleh jumlah rakaat dalam shalat Tarawih, kita takkan mengerjakan sholat tarawih. Di masa kini, yang kita pegang hanyalah dua hal, Al Qur'an dan Hadits Nabi saw. Jadi ketika suatu perintah tidak di-detail-kan di Qur'an, maka kita bisa mencari referensi lanjutan dari Hadits Nabi SAW. Hanya saja, beda perawi terkadang menghasilkan detail yang berbeda. 


Dari Aisyah ra, Nabi mengerjakan Tarawih sebanyak 8 rakaat dan 3 rakaat Witir.

Dari Sahabat Nabi, Tarawih dikerjakan sebanya 20 rakaat dan 3 rakaat Witir.
Sanadnya bisa dikatakan sahih dan terpercaya, namun yang mana yang harus kita pegang dan kita ikuti?

Siapa bilang hanya satu yang benar?

Apakah keduanya bertentangan dengan Qur'an?
Kita diperintahkan untuk memperbanyak ibadah di bulan Puasa, jika memang sudah ada sejarahnya dan dikerjakan oleh Nabi dan Sahabat, maka bisa saja keduanya benar dan sekarang tinggal kita hendak mengerjakan yang mana.
Jika kita punya tenaga lebih dan 23 rakaat masih bisa dikerjakan, mengapa tidak?
Jika kita merasa capek, berhenti di rakaat ke-8 dan sambung 3 Witir, kenapa tidak?

Intinya adalah, dalam ibadah yang kita lakukan ini, Jangan banyak bacot dah!!!!

Selama kita punya landasannya, kita laksanakan saja. Jangan jadi kaumnya nabi Musa yang men-delay sebuah perintah dan hampir saja mereka tidak mengerjakannya. Sementara kita sekarang malah banyak yang mendebatkan makna sebuah perintah dan malah akhirnya tidak melakukan perintah tersebut.

Mungkin benar bahwa IQRA' itu seharusnya tak hanya membaca, namun bukan berarti kita tidak diharuskan untuk membaca. Jika membaca saja tidak, bagaimana mungkin kita bisa memahami lebih lanjut makna Qur'an?

Jika kita menunggu membaca Qur'an sampai kita lancar bahasa Arab dan paham asbabun-nuzul-nya, maka kapan kita akan membaca Qur'an?

Sebuah contoh lain, Zakat.
Zakat harta adalah 2,5% dari penghasilan kita, namun pada tahap tertentu kita bingung. Apakah 2,5% dari penghasilan bersih? apakah 2,5% dari penghasilan kotor? ataukan 2.5% dari angka lain?
Lalu kemudian, karena kita terus menerus bertanya-tanya tentang hal tersebut dan tak kunjung menemukan jawabannya, lantas kita tak pernah berzakat?

JANGAN BANYAK BACOT!!! KERJAKAN DULU!!!

Jika sebuah perintah sudah jelas, maka kerjakan dulu...
Jika sudah kita kerjakan, baru kemudian kita pertanyakan lebih lanjut, baik itu dengan bertanya pada orang atau googling di internet tentang apa makna ibadah yang kita lakukan.
Mengapa kita berpuasa? mengapa kita Sholat? mengapa kita Zakat? mengapa kita mengaji?
Apakah kita akan terus menerus mempertanyakan maknanya dan melupakan kita dari mengerjakan esensi perintah yang diberikan kepada kita?

Jangan sampai kita terjebak dengan sifat PROCRASTINATION alias suka menunda-nunda.

Kalo kita terus menunggu suatu ibadah menjadi jelas sejelas-jelasnya, maka akan butuh waktu lama sebelum kita melaksanakan ibadah tersebut dan kita akan kehilangan peluang untuk mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah swt. 

Menutup tulisan kali ini, mengutip penutup dari surat Thaha ayat 135,



"Katakanlah: "Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk"

Jadi tiap orang boleh punya versi tentang ibadah yang mereka lakukan, selama itu memiliki landasan dan bukan bid'ah atau mengada-ada, maka sesungguhnya kita tidak tahu yang mana yang merupakan kebenaran sejati. Allah swt melihat sebuah ibadah tak hanya sampai kulitnya saja, namun jauh ke dalam hati yang ikhlas dari hamba yang melakukan ibadah tersebut. Jadi kita semua sama-sama menanti, kelak akan kita ketahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang mendapat petunjuk.


Namun selama kita berpegang pada Al Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, insya Allah kita berada di jalan yang lurus.


Semoga kita tak lagi hobi menunda-nunda ibadah...


Disclaimer:

Similar event, purely coincidental :D Image Source:
http://duffmcduffee.com/content/uploads/2014/01/ahh-procrastination.jpg