Who Am I? Not Spiderman

My photo
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
Rizky Novrianto is just an ordinary human being who try to live his life as extraordinary as it can be. I like to be different. You maybe able to find someone better than me, but You may never find someone like me. I hope common courtesy hasn't die yet. Treat people the way you want to be treated and even more, treat other people the way they want to be treated.

Saturday, July 19, 2014

Redirect You NUS Mail to Your Personal Email Account

Do you find it bothersome to have another email account from school to the fact that you already have your own personal email account?
But the school email account is the portal where you get all the information on school, though some information might be just spam from the school regarding stuff you don’t actually need.

You might find this method on one of the orientation programme, but the NUS Web Mail is already receiving some email regarding to school as of its activation, so if you rarely check it out, you might miss some important information.

So here's some easy steps to redirect the email from NUS Web Mail to your personal email.

STEP 1.
Visit this site:

STEP 2.
Click on the Green box on the bottom that says, "Email Redirect"
a dialogue box will show up asking you to enter you login information. Put your user name followed by the domain (NUSSTU\) for student.
Then a dialogue box like this will show up,
Put your personal email address in the box provided and then click save.
There's an extra option whether to keep the original email in the NUS Web Mail or not, The best option is to keep it, but since the capacity of NUS Web Mail is so small, you might still have to check it regularly like monthly to make sure that the inbox is still capable of receiving another email.

Now your NUS Web Mail is connected to your Personal Email address and you all your NUS Mail will be redirect to your personal email. You don't have to miss out on everything, included all those annoying mail about school.

If you want to keep it tidy, then make a special folder on your email for NUS Mail and make it automatically redirect to those folder.
How to do this??
by using the Filter feature on your email.

Google it, since those kind of information are available on the net.
:D

Friday, July 18, 2014

Lakum Diinukum Wa Liyadiin

Kalo pas kita lagi Sholat berjama'ah, pernah ga kita memperhatikan?

Sang Imam membaca niat kemudian ber-takbiratul ikhram dan kemudian bersedekap, 

Sedari permulaan ini, bisa kita lihat ada orang yang bersedekap di depan pusar, ada yang di depan ulu hatinya dan ada juga yang agak turun di daerah perutnya.

Kemudian sang Imam mulai membaca Al-Fatihah,

Ada yang basmalah-nya di lantangkan, ada yang basmalahnya disunyikan.

Kemudian setelah membaca Al Fatihah,

Ada imam yang memberikan jeda untuk ma'mumnya membaca Al Fatihah ada Imam yang langsung lanjut membaca surat pendek.

Kemudian sang imam siap-siap untuk ruku',

Ada Imam yang mengangkat tangan untuk bertakbir sebelum ruku' dan ada juga imam yang tidak.

Lalu setelah Sujud, sang Imam duduk di antara dua sujud,

Lihat posisi kaki masing-masing orang, ada yang bertumpuk, ada yang bertumpu kada telapak kaki kirinya saja sementara kaki kanannya ditekuk.

Kemudian sang Imam lanjut berdiri untuk raka'at selanjutnya,

Ada yang bertakbir seraya mengangkat tangan, ada juga yang tidak.

Setiap sholat selalu ditutup dengan Tahyat sebelum salam,

Ada yang langsung mengacungkan jari telunjuknya, ada yang menunggu bacaan syahadat, ada juga yang mengacungkan jari telunjuknya dan digoyang-goyangkan.

Kemudian Sholat itupun ditutup dengan Salam ke kiri dan ke kanan.


Luar biasa, kita mengerjakan ibadah yang sama, tapi dalam pelaksanaannya begitu banyak perbedaan yang terjadi. Namun daripada kita membahas perbedaan-perbedaan tersebut, mengapa kita tidak fokus kepada satu persamaan dari semua perbedaan tersebut.


Apakah ada yang bisa menebak??

Persamaan di balik semua perbedaan tersebut adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT..."

Tak hanya masalah Sholat,

Ada yang tarawih 8 rakaat, ada yang tarawih 20 rakaat dengan metode dan tata cara yang belum tentu sama pula. Ada yang dua rakaat salam, ada yang empat rakaat salam. Tapi dibalik semua perbedaan tersebut, persamaannya adalah, "MEREKA SEMUA MELAKUKAN IBADAH SHOLAT TARAWIH..."

Apalagi dalam hal hubungan kita antara sesama manusia, banyak sekali paham-paham di dalam Agama Islam yang nampaknya satu dan lainnya berbeda. Mari kita kembali ke judul tulisan ini, "Lakum Diinukum wa Liyadiin" yang artinya "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku." Ini adalah ayat yang sering kita gunakan untuk menunjukkan toleransi umat Islam terhadap umat beragama lainnya.


Namun, pernahkah kita menggunakan ayat tersebut untuk sesama saudara kita kaum muslimin?

Terkadang kita sibuk mengkritisi sesama saudara kita yang sama-sama mengerjakan ibadah untuk Allah swt. Kita terlalu fokus pada perbedaan diantara sesama saudara kita sehingga hal tersebut memecah belah pesatuan umat muslim. Sementara banyak saudara kita yang mengaku muslim, namun tidak mengerjakan kewajiban-kewajibannya. Kita lebih fokus mengkritisi apakah basmalah dilantangkan atau disunyikan sebelum membaca Al Fatihan dalam setiap sholat.

Daripada kita sibuk menghabiskan energi untuk mengkritisi hal tersebut, mari kita habiskan energi kita untuk mengajak saudara-saudara kita yang belum melakukan kewajibannya. 


Qur'an jelas memerintahkan kepada kita, "Dirikanlah Sholat dan tunaikanlah Zakat"

Kemudian, kita dengan sotoy-nya sibuk mendebat bagaimana tata cara yang benar untuk melakukan kedua ibadah tersebut, sementara ternyata kita sendiri tidak melakukan dua hal tersebut, karena kita sibuk mendebat orang ini salah dan itu salah. 

Kembali ke Blog sebelumnya tentang kisah Sapi Betina, Lakukan saja dulu.... masalah mana yang benar, kita bahas nanti setelah kita lakukan ibadah tersebut. Sudah sholat belum? masalah mau mahzab Hambali, Syafi'i atau Hanafi, itu urusan nanti. Yang penting kita kerjakan dan kita kerjakan dengan cara yang menurut kita benar dan sesuai dengan apa yang kita ketahui.


Eh, merasa benar itu ga ada salahnya, selama TIDAK MENYALAHKAN ORANG LAIN....

Setiap apa yang kita lakukan dalam beribadah, harus kita yakini kebenarannya. Dalam artian, kita punya landasan hukumnya baik itu Al Qur'an atau Hadits Nabi Muhammad saw agar kita tidak terjebak bid'ah atau salah tata cara. 

Nah, masalah ternyata ada hadits lain yang berbeda dari apa yang kita ketahui, maka kita berpegang pada yang kita yakini saja. Biarkan orang lain melakukan sesuai apa yang mereka yakini. Selama keduanya merasa benar, namun tidak saling menyalahkan, maka ga ada masalah toh. 


Kok kita tuh kadang bisa toleransi ama umat agama lain, tapi toleransi ama sodara sendiri, susahnya ampun-ampunan. 


Berdebat itu secara syari'at tidak dianjurkan. Lalu bagaimana cara untuk mencari kebenaran?? Diskusikanlah dengan orang tersebut, bertanyalah dengan cara yang baik-baik dan tanpa saling menyalahkan. Luar biasanya kadang sesama muslim men-cap saudara sesama muslimnya sebagai kafir.


Hey halooo... selama masih mengucapkan syahadat, melakukan rukun Islam dan percaya pada rukun Iman, maka pertama dan yang utama, dia adalah saudara kita sesama muslim. Jika kita merasa dia salah, kita ingatkan. Namun jangan sok mengingatkan, namun landasan kita juga lemah. Yang akan terjadi adalah debat kusir yang ga berguna. 


Jadi ingatlah, toleransi juga harus kita terapkan pada saudara kita sesama Muslim. Jika ia ingin berpegang pasa mahzab A dan kita mahzab B dan ternyata memang ada perbedaan dalam tatacara beribadah kita, maka mari kita kembalikan pertanyaannya, "Apakah ibadah yang diperintahkan itu telah dilaksanakan?" Jika iya, maka kesampingkanlah perbedaan itu dan kita sebagai sesama saudara harus saling bersatu padu.


Kalo QQ melihat Jalan Kebenaran tuh ga sesempit kaya rambut yang dibelah tujuh. Rambut aja udah sempit, gimana lagi kali dibelah tujuh. Jalan yang lurus itu bisa aja kaya sebuah jalan tol dengan delapan jalur. Ada juga kalanya mungkin agak berkelok-kelok dikit. Namun jika ujung jalan tersebut yang menjadi tujuan kita adalah sama, maka perbedaan itu tidak lagi menjadi halangan. 


Kalo kita bisa sholat kemudian meyaksikan perbedaan tersebut terjadi di hadapan kita, namun pada faktanya kita semua bisa menyelesaikan sholat tersebut tanpa ada adu pendapat... maka itu adalah indahnya perdamaian...


Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Mari kita mulai dengan Toleransi kepada sesama saudara kita, kemudian kita perluas dengan toleransi kepada sesama manusia, karena pada akhirnya, "Bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku"

Kita semua sama-sama mencari, nanti di ujung perjalanan ini, barulah kita bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun sebelum itu, pantangan bagi kita adalah MERASA YANG PALING BENAR!!! Selalu ada ruang untuk kesalahan, karena kita hanyalah manusia biasa yang berusaha menafsirkan makna-makna ilahiyah.


Wallahualam bisshawab



Image Source:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2M4kTHaD1ZRDD2c-hVU1wVLMkmZE96PAy1xVxBTqrkwU6OUujURNgcTVyBcuvzCXVNn0XEN_WCR9zIGqcjBFlZlBcsbJ-GfNzop5Q9tMrnMBEtGOUTyTfkrWImqXTekFDId2W2KxBLnmn/s1600/bigstock-Colorful-raised-hands-The-con-45953353.jpg

Sunday, July 13, 2014

Jangan Banyak Bacot...!!! Kerjakan Dulu....!!!

Q.S. Al Baqarah

67. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh".

68. Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".

69. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya".

70. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)".

71. Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Apakah ada yang familiar dengan Terjemahan Qur'an di atas?

Sepenggal kisah kaum Nabi Musa di Surat Al Baqarah ayat 67-71 yang kalo ga salah sih karena kisah inilah, surat kedua di Al Qur'an dinamakan Al Baqarah yang artinya Sapi Betina. 

Dari dulu QQ selalu bingung kenapa contoh ini tuh dijadikan contoh kaum yang buruk, padahal menurut QQ bukannya malah bagus ya kalo kita meminta kejelasan tentang suatu ibadah sebelum kita lakukan agar terhindar dari kesalahan dari ibadah yang akan kita lakukan.


Tapi beberapa hari yang lalu, QQ merasa mulai mengerti kenapa kaum nabi Musa ini menjadi contoh kaum yang buruk. Kaum nabi Musa adalah Bani Israil, merupakan kaum yang cerdas dan berakal. Kunci dari memahami terjemahan tersebut ada di kalimat terakhir di ayat 71, " Kemudian mereka menyembelihnya dan HAMPIR SAJA MEREKA TIDAK MELAKSANAKAN PERINTAH TERSEBUT"


Jadi kaum ini tuh banyak tanya karena ternyata mereka sebenarnya mencari-cari cara untuk menghindar dari amalan tersebut.

Dari sebuah dialog yang terjadi beberapa hari yang lalu,


---------------------------------------------------
QQ : "Eh, Khatib Jum'at tadi bilang soal ini udah hari ke-14 dan udah berapa juz Al Qur'an yang dibaca?"

Bunga (sebut saja begitu): "Apa tujuannya mengaji? kan itu artinya mengkaji... jadi kalau cuma dibaca aja apa maknanya? kalo ga dibahas dan dikaji lebih lanjut?"

QQ: "Tapi kan perintah Allah ke Nabi Muhammad SAW adalah, IQRA' atau bacalah..."

Bunga : "Yah, kalo semuanya sedangkal itu... ga maju-maju kita.."

Tapi ternyata ibu Bunga ini tidak mengaji Qur'an selama bulan puasa.
---------------------------------------------------
Dialog hipotetikal kedua,


----------------------------------------------------------------
QQ : "Eh, Taraweh dimana malem ini?"

Fulan (sebut saja begitu): "Bingung aku, biasanya taraweh 11 rakaat, tapi disini 23 semua mana ngebut-ngebut pula bacaannya..."

QQ : "Yah, itu khan dasarnya dari perbuatan sahabat Nabi SAW"

Fulan : Aku sih maunya, yang 8 rakaat dan bacaannya santai aja, da buru-buru..."

Tapi ternyata si pak Fulan ini tidak sholat Tarawih di setiap malam bulan Ramadhan.
------------------------------------------------------------------

Banyak contoh dialog lainnya yang bisa saja terjadi dalam hidup kita.

Seperti contoh di kisah Kaum Nabi Musa tadi, perintah yang diterima sebenarnya sederhana, "Sembelihlah seekor sapi betina." Namun kaum tersebut terus menerus bertanya ini dan itu sehingga perintah yang sederhana itu menjadi sangat kompleks. 

Masalahnya adalah, ketika zaman itu, Nabi Musa bisa berkomunikasi dengan Allah swt secara langsung sehingga bisa ada kepastian. Jika di masa kini, apa yang bisa kita pegang?

Jika kita bersikeras bahwa IQRA' maksudnya adalah mengkaji, membahas dan memahami kemudian mengamalkan, maka kita tidak akan pernah membaca Al Qur'an.

Jika kita dibingungkan oleh jumlah rakaat dalam shalat Tarawih, kita takkan mengerjakan sholat tarawih. Di masa kini, yang kita pegang hanyalah dua hal, Al Qur'an dan Hadits Nabi saw. Jadi ketika suatu perintah tidak di-detail-kan di Qur'an, maka kita bisa mencari referensi lanjutan dari Hadits Nabi SAW. Hanya saja, beda perawi terkadang menghasilkan detail yang berbeda. 


Dari Aisyah ra, Nabi mengerjakan Tarawih sebanyak 8 rakaat dan 3 rakaat Witir.

Dari Sahabat Nabi, Tarawih dikerjakan sebanya 20 rakaat dan 3 rakaat Witir.
Sanadnya bisa dikatakan sahih dan terpercaya, namun yang mana yang harus kita pegang dan kita ikuti?

Siapa bilang hanya satu yang benar?

Apakah keduanya bertentangan dengan Qur'an?
Kita diperintahkan untuk memperbanyak ibadah di bulan Puasa, jika memang sudah ada sejarahnya dan dikerjakan oleh Nabi dan Sahabat, maka bisa saja keduanya benar dan sekarang tinggal kita hendak mengerjakan yang mana.
Jika kita punya tenaga lebih dan 23 rakaat masih bisa dikerjakan, mengapa tidak?
Jika kita merasa capek, berhenti di rakaat ke-8 dan sambung 3 Witir, kenapa tidak?

Intinya adalah, dalam ibadah yang kita lakukan ini, Jangan banyak bacot dah!!!!

Selama kita punya landasannya, kita laksanakan saja. Jangan jadi kaumnya nabi Musa yang men-delay sebuah perintah dan hampir saja mereka tidak mengerjakannya. Sementara kita sekarang malah banyak yang mendebatkan makna sebuah perintah dan malah akhirnya tidak melakukan perintah tersebut.

Mungkin benar bahwa IQRA' itu seharusnya tak hanya membaca, namun bukan berarti kita tidak diharuskan untuk membaca. Jika membaca saja tidak, bagaimana mungkin kita bisa memahami lebih lanjut makna Qur'an?

Jika kita menunggu membaca Qur'an sampai kita lancar bahasa Arab dan paham asbabun-nuzul-nya, maka kapan kita akan membaca Qur'an?

Sebuah contoh lain, Zakat.
Zakat harta adalah 2,5% dari penghasilan kita, namun pada tahap tertentu kita bingung. Apakah 2,5% dari penghasilan bersih? apakah 2,5% dari penghasilan kotor? ataukan 2.5% dari angka lain?
Lalu kemudian, karena kita terus menerus bertanya-tanya tentang hal tersebut dan tak kunjung menemukan jawabannya, lantas kita tak pernah berzakat?

JANGAN BANYAK BACOT!!! KERJAKAN DULU!!!

Jika sebuah perintah sudah jelas, maka kerjakan dulu...
Jika sudah kita kerjakan, baru kemudian kita pertanyakan lebih lanjut, baik itu dengan bertanya pada orang atau googling di internet tentang apa makna ibadah yang kita lakukan.
Mengapa kita berpuasa? mengapa kita Sholat? mengapa kita Zakat? mengapa kita mengaji?
Apakah kita akan terus menerus mempertanyakan maknanya dan melupakan kita dari mengerjakan esensi perintah yang diberikan kepada kita?

Jangan sampai kita terjebak dengan sifat PROCRASTINATION alias suka menunda-nunda.

Kalo kita terus menunggu suatu ibadah menjadi jelas sejelas-jelasnya, maka akan butuh waktu lama sebelum kita melaksanakan ibadah tersebut dan kita akan kehilangan peluang untuk mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah swt. 

Menutup tulisan kali ini, mengutip penutup dari surat Thaha ayat 135,



"Katakanlah: "Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk"

Jadi tiap orang boleh punya versi tentang ibadah yang mereka lakukan, selama itu memiliki landasan dan bukan bid'ah atau mengada-ada, maka sesungguhnya kita tidak tahu yang mana yang merupakan kebenaran sejati. Allah swt melihat sebuah ibadah tak hanya sampai kulitnya saja, namun jauh ke dalam hati yang ikhlas dari hamba yang melakukan ibadah tersebut. Jadi kita semua sama-sama menanti, kelak akan kita ketahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang mendapat petunjuk.


Namun selama kita berpegang pada Al Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, insya Allah kita berada di jalan yang lurus.


Semoga kita tak lagi hobi menunda-nunda ibadah...


Disclaimer:

Similar event, purely coincidental :D Image Source:
http://duffmcduffee.com/content/uploads/2014/01/ahh-procrastination.jpg